ilustrasi Taiwan (pixabay.com/n23club)
Kementerian Luar Negeri Taiwan mengungkapkan bahwa perselisihan dengan Kamerun sudah bermula sejak November 2024. Saat itu, misi permanen Taiwan berulang kali berupaya mengatur pertemuan logistik dengan pihak Kamerun untuk kelancaran Konferensi Tingkat Menteri ke-14 (MC14). Namun, upaya tersebut terus diabaikan hingga muncul dokumen pra-pendaftaran pada 21 Februari 2026 yang secara keliru menyebut kebangsaan delegasi mereka sebagai "Taiwan, Provinsi China".
Kondisi semakin memburuk saat dokumen pengecualian visa baru dikirimkan pada Jumat malam (20/3/2026), melampaui tenggat waktu yang disarankan Direktur Jenderal WTO. Dokumen tersebut juga mengandung kesalahan data yang fatal. Hampir seluruh anggota delegasi, yang terdiri dari sepuluh pria dan delapan wanita, seluruhnya ditulis sebagai perempuan. Selain itu, banyak nama anggota delegasi yang salah eja dalam alfabet Latin.
"Anggota delegasi kami bisa saja terhambat saat masuk ke Kamerun karena dokumen yang penuh informasi tidak benar. Demi menjaga martabat bangsa, kami terpaksa memilih untuk tidak hadir," ujar juru bicara Kementerian Luar Negeri Taiwan, dilansir Focus Taiwan.
Ketegangan ini dinilai sebagai kegagalan pemerintah Kamerun dalam memenuhi kewajiban internasional sebagai tuan rumah. Seharusnya, negara penyelenggara menjamin perlakuan setara dan akses tanpa hambatan bagi seluruh anggota organisasi tanpa memandang pilihan politik negara tersebut.
Kementerian Luar Negeri Taiwan akhirnya melayangkan protes keras kepada Sekretariat WTO. Mereka mengecam tindakan Kamerun yang dianggap tunduk pada tekanan diplomatik Beijing untuk menghapus eksistensi politik Taiwan melalui manipulasi prosedur birokrasi dan protokol internasional.