Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
4 Tentara Israel Tewas di Lebanon akibat Bentrok dengan Hizbullah
pasukan Israel di Sungai Litani, Lebanon (wikimedia/ / IDF Spokesperson's Unit)
  • Empat tentara Israel tewas dan tiga lainnya luka-luka dalam bentrokan sengit dengan Hizbullah di desa Beit Lif, Lebanon selatan, saat operasi pembersihan darat berlangsung.
  • Pemerintah Israel berencana memperluas zona keamanan hingga Sungai Litani, melarang ratusan ribu warga Lebanon kembali ke rumah mereka, serta menghancurkan infrastruktur sipil di wilayah perbatasan.
  • Eskalasi invasi Israel memperburuk krisis kemanusiaan di Lebanon dengan lebih dari 1.200 korban jiwa dan jutaan pengungsi, sementara Hizbullah terus memberikan perlawanan intens terhadap pasukan IDF.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times - Militer Israel (IDF) mengumumkan empat tentaranya tewas dalam pertempuran sengit melawan pejuang Hizbullah di Lebanon selatan. Insiden ini terjadi pada hari Senin (30/3/2026) ketika pasukan Israel melancarkan operasi pembersihan darat di dekat desa Beit Lif.

Selain korban jiwa, tiga prajurit lainnya dilaporkan mengalami luka-luka akibat bentrokan tersebut. Kejadian ini menjadi serangan paling mematikan bagi pasukan IDF sejak mereka memperluas invasi darat pada awal Maret.

1. Kronologi penyergapan di desa Beit Lif

tentara Israel di Lebanon selatan. (wikimedia/IDF Spokesperson's Unit)

Pasukan dari Unit Pengintaian Brigade Nahal awalnya mendeteksi anggota Hizbullah sekitar pukul 18.30 waktu setempat. Baku tembak jarak dekat langsung pecah dan mengakibatkan satu tentara Israel tewas di tempat.

Pasukan lain segera dipanggil untuk memberikan bantuan perlindungan dan memfasilitasi evakuasi medis. Namun, mereka kembali disergap oleh pasukan militan lain yang berujung pada tewasnya tiga tentara tambahan.

Di tengah proses evakuasi korban, pejuang Hizbullah turut menembakkan rudal antitank ke arah pasukan Israel. IDF merespons serangan dengan tembakan meriam dan rentetan serangan udara.

Keempat prajurit yang tewas diidentifikasi sebagai Kapten Noam Madmoni, Staf Sersan Ben Cohen, Staf Sersan Maxsim Entis, dan Staf Sersan Gilad Harel. Keempat personel berusia antara 21 hingga 22 tahun.

2. Israel akan perluas zona penyangga di Lebanon selatan

tentara Hizbullah saat latihan militer (Tasnim News Agency, CC BY 4.0 <https://creativecommons.org/licenses/by/4.0>, via Wikimedia Commons)

Sebelumnya, pemerintah Israel mengumumkan niatnya untuk memperluas pendudukan di wilayah selatan Lebanon. Menteri Pertahanan Israel Israel Katz menegaskan pasukannya akan mengambil alih zona keamanan hingga Sungai Litani.

Langkah ini dilakukan untuk menyingkirkan ancaman serangan Hizbullah dari perbatasan utara. Imbasnya, lebih dari 600 ribu penduduk Lebanon akan dilarang kembali ke daerah tempat tinggal mereka.

Israel juga akan menghancurkan infrastruktur sipil secara masif di desa-desa sekitar garis perbatasan. Konsep ini diklaim akan meniru strategi yang sebelumnya diterapkan di Gaza.

"Semua rumah di desa-desa Lebanon yang dekat perbatasan akan dihancurkan sesuai model di Rafah dan Beit Hanoun," ujar Katz, dilansir The Guardian.

3. Invasi Israel perparah krisis kemanusiaan di Lebanon

sudut kota Beirut, Lebanon. (unsplash.com/christellehayek)

Pergerakan pasukan Israel terus dilaporkan telah mencapai kota Bayada. Kota ini hanya berjarak sekitar delapan kilometer dari kota pesisir penting Tirus.

Tentara IDF juga maju mendekati kota-kota perbukitan di wilayah distrik Nabatieh. Israel bermaksud menguasai dataran tinggi sekitar untuk mengontrol area Sungai Litani.

Eskalasi konflik terbaru telah memicu krisis kemanusiaan memprihatinkan dengan angka korban tewas di Lebanon tembus 1.200 jiwa. Lebih dari satu juta warga sipil terpaksa mengungsi dengan sebagian di antaranya tidak kebagian fasilitas pengungsian yang layak.

Sementara itu, kubu Hizbullah tetap memberikan perlawanan sengit terhadap invasi Israel.

"Sekretaris Jenderal Hizbullah, Naim Qassem, sadar kekuatan mereka tidak setara. Oleh karena itu, mereka bermaksud membuat perang ini menjadi sangat mahal bagi Israel," kata Zeina Khodr, koresponden Al Jazeera di Lebanon.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team