Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Trump Disorot usai Sebut Omar dan Tlaib Harus “Dikembalikan” usai SOTU
Presiden Donald Trump menyampaikan pidato pelantikan (The Trump White House, Public domain, via Wikimedia Commons)
  • Usai pidato State of the Union 2026, Donald Trump memicu kontroversi dengan unggahan yang menyebut Ilhan Omar dan Rashida Tlaib harus “dikembalikan” serta menggunakan istilah bernada merendahkan.
  • Omar dan Tlaib merupakan warga negara Amerika Serikat sah; Omar menjadi warga melalui naturalisasi, sedangkan Tlaib lahir di Detroit dan otomatis memiliki kewarganegaraan sejak lahir.
  • Pernyataan Trump menuai kecaman luas dari Demokrat dan kelompok advokasi yang menilai ucapannya xenofobik, memperkuat sorotan terhadap retorika politiknya yang kerap dianggap rasis dan memecah belah.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times - Setelah State of the Union yang diselenggarakan pada 24 Februari 2026, Presiden Donald Trump menyerang dua anggota DPR Demokrat, yaitu Rep. Ilhan Omar dan Rep. Rashida Tlaib. Trump memposting di platform media sosialnya bahwa keduanya “seharusnya dikembalikan dari tempat asal mereka” setelah mereka terlihat menentang dan mengecam beberapa poin dari pidatonya.

1. Trump unggah pernyataan kontroversial usai pidato

Pernyataan kontroversial Donald Trump tentang Rep. Ilhan Omar dan Rep. Rashida Tlaib di akun medsos miliknya, Truth Social pada Kamis 26 Februari 2026 (truthsocial.com/@realDonaldTrump)

Melansir laporan MS NOW, Trump menulis di platform media sosialnya bahwa Omar dan Tlaib seharusnya “dikirim kembali dari tempat asal mereka” serta menyebut keduanya perlu “diinstitusionalisasi.”

Pernyataan itu muncul tak lama setelah sesi State of the Union, ketika kedua legislator tersebut terlihat memprotes dan meneriakkan kritik saat Trump membahas isu imigrasi. Dalam unggahannya, Trump juga menggunakan istilah yang merendahkan kondisi mental mereka seperti "...bulging, bloodshot eyes of crazy people, LUNATICS, mentally deranged and sick who, frankly, look like they should be institutionalized."

Diketahui Omar dan Tlaib meneriakkan "you're killing Americans" kepada Trump saat tengah berpidato, yang kemudian diikuti Omar menyebut Trump sebagai "liar" atau pembohong.

Tlaib dan Omar melontarkan protes saat presiden mengatakan dia telah mengakhiri delapan perang, meskipun beberapa klaim tersebut telah dipertanyakan sebagai menyesatkan atau diperdebatkan. Tlaib juga berteriak tentang berkas-berkas yang melibatkan mendiang terpidana pelaku kejahatan seksual Jeffrey Epstein dan meminta Trump untuk merilis sisa berkas yang terkait dengan penyelidikan tersebut.

Meskipun Departemen Kehakiman telah merilis jutaan dokumen, Demokrat menuduh lembaga tersebut menahan berkas-berkas tersebut meskipun ada persyaratan hukum bahwa semuanya harus dirilis.

2. Omar dan Tlaib adalah warga negara AS

(Ki-Ka) Perwakilan AS Ilhan Omar, Demokrat dari Minnesota, dan Rashida Tlaib, Demokrat dari Michigan, memperhatikan saat Presiden Donald Trump menyampaikan pidato Kenegaraan di Ruang Sidang DPR di Gedung Capitol AS di Washington, DC, pada 24 Februari 2026. (Foto oleh Mandel NGAN / AFP)

Brittanica melansir, dua anggota DPR Amerika Serikat yang menjadi sorotan tersebut sebenarnya berstatus warga negara penuh. Ilhan Omar lahir di Mogadishu, Somalia, pada 1982. Ia datang ke Amerika Serikat sebagai pengungsi bersama keluarganya pada 1990-an dan kemudian memperoleh kewarganegaraan melalui proses naturalisasi saat remaja. Sejak 2019, ia mewakili negara bagian Minnesota di DPR AS.

Sementara itu, Rashida Tlaib lahir di Detroit, Michigan, pada 1976. Karena lahir di wilayah Amerika Serikat, ia otomatis menjadi warga negara sejak lahir berdasarkan prinsip jus soli yang berlaku dalam hukum kewarganegaraan AS. Keduanya sama-sama memenuhi seluruh persyaratan konstitusional untuk menjadi anggota Kongres, termasuk status kewarganegaraan.

3. Gelombang kritik dari Demokrat dan kelompok advokasi

Pemimpin Minoritas DPR Hakeem Jeffries berbicara dengan para pendukungnya di acara nonton bareng debat wakil presiden di Yumbar, Phoenix, Arizona. (Gage Skidmore from Surprise, AZ, United States of America, CC BY-SA 2.0, via Wikimedia Commons)

Pemimpin Minoritas Dewan Perwakilan Rakyat, Hakeem Jeffries, menyebut retorika Trump terhadap Tlaib dan Omar sebagai "xenofobia" dan "memalukan." Sementara itu, organisasi advokasi Muslim Council on American-Islamic Relations (CAIR) turut mengecam ucapan tersebut dan menilainya sebagai bentuk retorika rasis. Tlaib sendiri membalas melalui media sosial dengan menyebut presiden sedang kehilangan kendali.

Kontroversi tersebut bukan kali pertama Donald Trump terseret polemik akibat pernyataan bernada rasial terhadap lawan politiknya. Dalam beberapa tahun terakhir, ia berulang kali mendapat kritik karena komentar yang dianggap menyerang latar belakang etnis atau asal-usul sejumlah politisi, terutama dari Partai Demokrat.

Pola retorika seperti itu kerap memicu kecaman dari oposisi dan kelompok hak sipil, yang menilai ucapan tersebut memperdalam polarisasi politik di Amerika Serikat. Di sisi lain, basis pendukung Trump sering melihat gaya komunikasinya sebagai bentuk ketegasan. Polemik terbaru ini pun kembali menempatkan isu retorika politik dan batasannya dalam sorotan publik.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team