Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Trump Sebut Iran Minta AS Segera Menghentikan Blokade Selat Hormuz
Presiden AS Donald Trump konferensi di Gedung Putih di Washington, DC, setelah insiden penembakan di makan malam White House Correspondents' (AFP/Manddel Ngan)
  • Donald Trump menyebut Iran meminta AS menghentikan blokade Selat Hormuz karena ekonomi mereka kolaps akibat terhentinya perdagangan internasional.
  • Iran sempat membuka, lalu kembali menutup Selat Hormuz sebagai protes atas blokade pelabuhan oleh AS, yang memicu lonjakan harga minyak dunia.
  • Iran mengirim proposal perdamaian lewat Pakistan untuk membuka Selat Hormuz jika AS hentikan blokade, namun Trump belum puas karena isu nuklir tidak dibahas.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times - Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, menyebut Iran telah memintanya untuk segera menghentikan blokade terhadap Selat Hormuz. Sebab, Trump mengatakan, kondisi ekonomi Iran kini sedang kolaps karena tidak bisa melakukan aktivitas perdagangan internasional imbas blokade tersebut. Oleh karena itu, ia menyebut Iran ingin Selat Hormuz kembali dibuka agar aktivitas perdagangan kembali lancar.

“Iran baru saja memberi tahu kita bahwa mereka berada dalam keadaan yang sangat buruk. Mereka ingin kita membuka Selat Hormuz sesegera mungkin. Sementara itu, mereka mencoba mencari solusi untuk situasi kepemimpinan mereka yang saya yakini akan dapat mereka lakukan!” ujar Trump dalam sebuah unggahan di Truth Social pada Selasa (28/4/2026).

1. Iran juga sedang memblokade Selat Hormuz

potret bendera Iran (unsplash.com/sina drakhshani)

Pernyataan yang dilontarkan Trump tadi sebetulnya bertentangan dengan realita di lapangan. Sebab, saat ini, Iran juga sedang memblokade Selat Hormuz. Blokade ini sudah berjalan sejak AS menyerang Iran pada 28 Februari lalu.

Sebelumnya, pada 17 April, Iran sudah bersedia membuka Selat Hormuz secara penuh. Namun, Iran kini memutuskan untuk kembali menutup selat tersebut. Langkah ini dilakukan sebagai bentuk protes Iran karena AS tetap memblokade semua pelabuhan miliknya meski sudah ada gencatan senjata.

Blokade Selat Hormuz ini lantas membuat harga minyak beberapa waktu lalu sempat meroket sebesar enam persen. Padahal, sebelumnya, harga minyak sempat turun drastis hingga lebih dari sepuluh persen karena Iran sudah bersedia membuka Selat Hormuz. 

2. Iran sudah bersedia membuka kembali Selat Hormuz

potret Selat Hormuz (commons.wikimedia.org/OpenStreetMap)

Kendati begitu, Iran kini dikabarkan sudah bersedia untuk kembali membuka Selat Hormuz. Kesediaan tersebut tertuang di dalam proposal perdamaian baru yang dikirim ke AS lewat Pakistan pada Minggu (26/4/2026) lalu.  

Dalam proposal itu, Iran menyatakan bersedia membuka kembali Selat Hormuz agar aktivitas perdagangan global kembali normal. Namun, sebagai gantinya, Iran meminta AS untuk menghentikan blokade terhadap semua pelabuhan mereka. Jika AS tetap enggan mematuhi permintaan tersebut, maka Iran tidak akan bersedia membuka Selat Hormuz.

3. Trump tidak puas dengan proposal perdamaian baru dari Iran

potret Presiden Amerika Serikat, Donald Trump (flickr.com/North Charleston via commons.wikimedia.org/North Charleston)

Proposal tersebut juga sudah diterima oleh Trump. Sayangnya, menurut seorang pejabat AS yang tidak disebut namanya, Trump tidak puas dengan proposal perdamaian baru yang diberikan Iran. Sebab, proposal itu tidak berbicara soal penghentian program senjata nuklir milik mereka. 

Menurut pejabat tersebut, Trump lebih suka Iran menghentikan program senjata nuklirnya jika ingin berdamai dengan AS. Sebab, itu menjadi salah satu syarat perdamaian yang diberikan AS ke Iran beberapa waktu lalu.  

Kendati kurang puas, Trump mengaku proposal yang diberikan Iran sudah lebih baik daripada proposal-proposal sebelumnya. “Mereka mengusulkan banyak hal. Namun, itu belum cukup,” ucap Trump, seperti dilansir Times of Israel

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team