Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Pelantikan Zohran Mamdani sebagai Wali Kota New York
Pelantikan Zohran Mamdani sebagai Wali Kota New York, dilakukan di stasiun kereta bawah tanah. (Tangkapan layar Youtube BBC)

Intinya sih...

  • Zohran Mamdani dilantik menggunakan Al-Qur'an

  • Pelantikan sederhana di stasiun bawah tanah lama. Mamdani menyebut momen tersebut sebagai pencapaian personal yang sangat bermakna

  • Mamdani jadi simbol representasi New York. Latar belakang pribadi Mamdani memengaruhi kesadaran politiknya. Karier politiknya dimulai pada 2020 sebagai anggota Majelis Negara Bagian New York

Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times - Zohran Mamdani mencatatkan sejarah baru dalam politik Amerika Serikat setelah resmi dilantik sebagai Wali Kota New York City, sesaat setelah tengah malam pada Kamis (1/1/2026) waktu setempat. Pelantikan ini bukan sekadar pergantian kepemimpinan, melainkan penanda perubahan penting dalam wajah kepemimpinan kota terbesar di Amerika.

Pada usia 34 tahun, Mamdani menjadi wali kota termuda New York dalam beberapa generasi. Ia juga menjadi wali kota Muslim pertama yang memimpin kota tersebut, sebuah capaian simbolik yang mencerminkan perubahan demografi dan dinamika politik New York.

Selain itu, Mamdani adalah pemimpin pertama New York City yang berasal dari keturunan Asia Selatan dan lahir di Afrika. Ia lahir di Kampala, Uganda, sebelum keluarganya pindah ke Amerika Serikat saat ia masih anak-anak.

Momentum sejarah tersebut semakin kuat ketika Mamdani mengucapkan sumpah jabatan dengan meletakkan tangannya di atas Al-Qur'an. Untuk pertama kalinya dalam sejarah New York City, kitab suci umat Islam digunakan dalam prosesi pelantikan wali kota.

1. Pelantikan bersejarah dengan Al-Qur'an

Wali Kota New York Terpilih, Zohran Mamdani (Karamccurdy, CC BY-SA 4.0 <https://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0>, via Wikimedia Commons)

Zohran Mamdani dilantik dengan menggunakan Al-Qur'an saat mengucapkan sumpah jabatan. Langkah ini menjadikannya wali kota pertama New York City yang disumpah menggunakan kitab suci Islam, meski secara hukum Amerika Serikat tidak mewajibkan penggunaan kitab agama apa pun dalam pelantikan pejabat publik.

Upacara pelantikan berlangsung sederhana dan tertutup di sebuah stasiun kereta bawah tanah lama yang sudah tidak beroperasi, tepat di bawah Balai Kota Manhattan. Lokasi ini merupakan salah satu halte awal jaringan subway New York yang dikenal memiliki arsitektur lengkung klasik.

Prosesi pelantikan dipimpin oleh Jaksa Agung Negara Bagian New York, Letitia James, yang juga dikenal sebagai sekutu politik Mamdani. Dalam pidato singkatnya, Mamdani menyebut momen tersebut sebagai pencapaian personal yang sangat bermakna.

“Ini benar-benar sebuah kehormatan dan keistimewaan terbesar dalam hidup saya,” ujar Mamdani, dikutip dari France24.

Dalam pidato yang sama, Mamdani menyebut, stasiun bawah tanah tersebut sebagai simbol pentingnya transportasi publik bagi New York, seraya mengumumkan penunjukan Mike Flynn sebagai Komisaris Departemen Transportasi.

2. Mamdani jadi simbol representasi New York

Zohran Mamdani di Aksi Menolak Fasisme di Bryant Park pada 27 Oktober 2024 (Bingjiefu He, CC BY-SA 4.0, via Wikimedia Commons)

Torehan sejarah Mamdani tidak bisa dilepaskan dari latar belakang pribadinya. Ia lahir di Uganda dari keluarga dengan latar belakang intelektual dan seni. Ayahnya, Mahmood Mamdani, adalah akademisi dan penulis, sementara ibunya, Mira Nair, dikenal sebagai sutradara film.

Mamdani tumbuh besar di New York City dalam suasana pasca-serangan 11 September 2001, ketika komunitas Muslim kerap menghadapi stigma dan kecurigaan. Pengalaman itu membentuk kesadaran politiknya sejak dini.

Ia baru menjadi warga negara Amerika Serikat pada 2018. Sebelum terjun ke politik elektoral, Mamdani aktif dalam berbagai kampanye kandidat Demokrat di New York.

Karier politiknya dimulai pada 2020, ketika ia terpilih sebagai anggota Majelis Negara Bagian New York mewakili sebagian wilayah Queens. Kemenangannya sebagai wali kota menandai lonjakan cepat dalam karier politiknya.

3. Tantangan kepemimpinan Kota New York

Times Square New Year's Eve New York (commons.wikimedia.org/Anthony Quintano)

Setelah mencatatkan berbagai rekor sejarah, Mamdani kini menghadapi realitas kepemimpinan kota yang kompleks. Ia mengambil alih New York dalam fase pemulihan pascapandemi Covid-19, ketika indikator ekonomi mulai membaik tetapi biaya hidup masih menjadi masalah utama.

Dalam kampanyenya, Mamdani mengusung isu keterjangkauan sebagai agenda utama. Ia menjanjikan kebijakan seperti penitipan anak gratis, bus gratis, pembekuan sewa untuk sekitar satu juta rumah tangga, serta program percontohan toko bahan pangan yang dikelola pemerintah kota.

Di sisi lain, ia juga akan dihadapkan pada persoalan sehari-hari khas New York, mulai dari pengelolaan sampah, salju, tikus, hingga keluhan publik soal keterlambatan kereta bawah tanah dan kondisi jalan.

Secara politik nasional, Mamdani juga harus berhadapan dengan Presiden Amerika Serikat Donald Trump. Meski sempat terjadi ketegangan selama kampanye, Trump kemudian menyatakan akan membantu Mamdani menjalankan tugasnya sebagai wali kota.

Dengan pelantikan ini, Zohran Mamdani tidak hanya menorehkan sejarah, tetapi juga membawa ekspektasi besar. Tantangan berikutnya adalah membuktikan simbol perubahan tersebut dapat diterjemahkan menjadi kebijakan nyata bagi warga New York.

Editorial Team