Beberapa waktu yang lalu, dengan nada yang lebih tegas dari sebelumnya, Presiden Biden, diikuti oleh Chancellor Jerman Olaf Scholtz dan Presiden Perancis Emmanuel Macron, hampir bersamaan menanyakan penundaan ijin melewati Rafah Crossing untuk memasuki Gaza dari Egypt dan penyerangan mendadak terhadap konvoi yang mengangkut bahan makanan, air dan obat-obatan diorganisir PBB untuk penduduk Palestina di Gaza yang sangat membutuhkannya.
Tidak ada pemberian lanjutan setelah itu, akan tetapi jelas hal ini merupakan sikap lebih tegas dari negara-negara tersebut dalam memperingatkan tentara pertahanan Israel (Israel Defense Forces) dalam tindakan operasi militer mereka yang tak henti-hentinya terhadap Hamas di Gaza yang jelas memakan banyak korban kematian penduduk sipil, termasuk anak-anak, Wanita dan orang tua berkebangsaan Palestina.
Merupakan perhatian kita bersama apakah hal ini akan meredakan serangan Israel terhadap Hamas di Gaza, yang seperti selalu digembar-gemborkan para pemimpin mereka dari sayap kanan bahwa serangan ini akan berlanjut sampai Hamas bisa dilenyapkan. Hal ini yang diusahakan Presiden Ceryl Ramaphosa dari Africa Selatan yang mengajukan PM Netanyahu ke Mahkamah Internasional di Den Haag agar dituntut sebagai pelanggar hak azasi manusia dan melanggar kejahatan perang. Sebagaimana diketahui, Indonesia telah mengajukan dukungannya terhadap tuntutan tersebut.
Kenyataan bahwa Jerman yang merupakan pendukung kuat Israel dalam melancarkan perlawanan terhadap Gerakan Nazi di mana-mana, tetapi sekarang bergabung dengan negara-negara dalam menekan Israel agar menghentikan operasi ini, mudah-mudahan membawa harapan baru bagi terciptanya perdamaian di Timur Tengah yang mereka tentu sudah tidak tahu lagi bagaimana rasanya karena kondisi perang yang terus-terusan selama ini. Presiden Biden beberapa waktu yang lalu juga mulai menyebutkan tentang kemungkinan terjadinya perdamaian di Timur Tengah.
Dalam pada itu, perkembangan politik di AS semakin diramaikan dengan mendekatnya pemilihan Presiden bulan November. Mantan Presiden Trump tentu semakin percaya diri dengan kemenangan pemilihan primary di lima negara bagian secara berturutan dan apa yang dikenal sebagai “Super Tuesday”, di mana ada sejumlah besar negara bagian akan menyelenggarakn pemilihan primary, Mister Trump sudah selayaknya berharap akan menjadi pemenang akhir untuk tepilih menjadi kandidat partai Republik.
Apalagi lawannya hanya tersisa satu, mantan Gubernur North Carolina Nikki Haley yang semakin kehilangan donor besarnya. Selain lawan akhirnya nanti President Biden juga harus bekerja keras memerangi pemberitaan yang merugikan posisinya karena laporan DOJ yang menyatakan dia suka ‘hilang’ dalam interview dengan ghost writer yang menulis biografinya. Ini tentu meningkatkan semangat Congressman Daan Philips dari Minnesota maupun mantan Congressman dari Massachusetts kenamaan Rober Kennedy Jr. Buat saya mereka ini tidak lebih dari ”fun-spoilers”, tetapi buat Mister Trump semua ini tentu semakain meyakinkannya bahwa dia akan kembali ke White House.
Perkembangan politik terakhir seperti digambarkan di atas tentu menimbulkan perasaan khawatir di negara-negara Eropa dan sekutu AS, bahwa kemungkinan kembalinya mantan Presiden Trump ke Gedung Putih semakin besar dengan segala mimpi buruk yang bisa timbul dalam ekonomi dan perdagangan dunia. Kita semua sudah tahu artinya di sini; gerakan mundur dalam globlisasi dan multilateralism, kemungkinan perang dagang, bahkan perang yang lebih mengerikan lagi yang semua tidak ingin mengalami. Ingat saja, Mister Trump mengatakan bahwa Presiden Putin, Victor Urban, Kim Jong Un adalah teman dekatnya dan bahwa mereka pemimpin yang hebat. Bahkan dia tidak peduli kalau Rusia akan menyerang salah satu anggota NATO yang tidak bersedia mengeluarkan anggaran untuk pertahanan sesuai dengan kesepakatan. Semoga saja dunia tidak akan menghadapi situasi dan kondisi demikian.
Sebagai penutup, saya tidak mau menyerah dan tetap berharap agar pemilih Amerika menggunakan common sense mereka saat pencoblosan November nanti. Bahwa, mereka tidak akan mengembalikan pemimpin mereka yang sudah pernah memimpin sebelumnya, di mana saat masih berada di White House ia melihat para pendukungnya menyerang dan merusak Gedung Capitol, menginjak-injak kantor juru bicara, membunuh polisi yang bertugas menjaga gedung pemerintah dan para pembuat hukum, termasuk Wakil Presiden AS Mike Pence, dan sebagai Panglima Tertinggi Presiden Trump, tidak berbuat apa- apa selain menonton dari televisi.
Di AS maupun di negara demokrasi mana saja, tindakan para pendukung tersebut jelas suatu insurrection. Tindakan melawan pemerintahan yang sah yang diancam dengan hukuman yang sangat berat. Demikian pula semoga mereka
bersedia mengakui kontribusi Presiden Biden yang memimpin pemerintahan yang berhasil meredakan inflasi, menciptakan lapangan kerja, mempertahankan kepentingan AS di dunia, dan membuatnya dihormati di dunia. Marilah berharap pemilih Amerika tergugah dari mimpinya dan melakukan tindakan yang tepat dalam pemilihan bulan November nanti. (Dradjad, 09/03/2024)
Guru Besar Ekonomi Emeritus, FEBUI, Jakarta, dan Guru Besar Tamu Ekonomi Internasional, S. Rajaratnam School of International Studies (RSIS), Nanyang Technological University (NTU), Singapura.
