ilustrasi Ramadan (pexels.com/Thirdman)
Bulan Ramadan bagi pemimpin redaksi seperti saya, dipenuhi undangan buka puasa dari relasi. Sehari bisa dua sampai tiga undangan. Kemacetan Jakarta membuat biasanya maksimal saya hanya bisa hadir di dua acara, lainnya diwakili teman, apakah wakil pemimpin redaksi atau editor/redaktur/produser. Masalahnya, mereka pun mendapat undangan buka puasa juga. Macet parah Jakarta juga jadi alasan mengapa tidak semua undangan buka puasa bisa saya penuhi. Tahun ini, Ramadan 2024, saya sempat ke luar negeri untuk urusan pekerjaan, program Kementerian Luar Negeri, sehingga lebih dari sepekan tak bisa memenuhi undangan buka puasa dari narasumber dan relasi. Maaf ya
Nah, meskipun energi lebih terkuras di bulan Ramadan, karena hari lebih panjang dalam beraktivitas, mulai pagi sampai malam, ada masa di mana saya mencoba menantang diri saya untuk menulis selama 30 hari puasa Ramadan. Obyek tulisan adalah acara buka puasa bersama. Di acara yang saya hadiri, ada pembicara. Tidak hanya soal agama dan hikmah puasa, melainkan juga tema ekonomi kerakyatan, politik, demokrasi, dan lainnya.
Kalau tidak ada pembicara secara khusus, saya memanfaatkan momen buka puasa untuk bertanya satu-dua hal ke orang yang hadir. Atau menuliskan kisah di balik layar buka puasa di rumah para elit. Temanya bisa apa saja, termasuk soal fesyen dan makanan. Yang ringan-ringan. Catatan Ramadan ini saya muat di blog pribadi unilubis.com. Selain dari acara buka puasa bersama, yang saya tulis juga dari pengalaman lain selama Ramadan.
Ternyata tidak mudah ya untuk konsisten menulis selama 30 hari, hal-hal yang sumbernya bukan dari jumpa pers atau siaran pers. Saya harus kreatif memikirkan ide dan sudut pandang tulisan. Proses ini bagian dari mengumpulkan memori, kenangan melewati bulan Ramadan, pada suatu masa.
Bagaimana dengan Cerita Ramadan teman-teman? Semoga mendapat berkah Ramadan ya.
Selamat menyambut Idulfitri 2024, Maaf Lahir Batin