Sepak bola Eropa telah sekian lama punya pengalaman dengan kekerasan suporter. Dalam konteks sepak bola modern, rivalitas suporter di Eropa kini lebih sehat jika dibandingkan dengan yang terjadi di Indonesia.
Korban nyawa yang sia-sia bukan tidak pernah terjadi di sana. Paling terkenal tentu saja tragedi Heysel yang menewaskan 39 suporter setelah tifosi Juventus dan Kopites yang terlibat tawuran di dalam stadion sebelum laga final Piala Champions Eropa di tahun 1985.
Dalam waktu yang panjang sepak bola Eropa mampu menangani dan meredam kekerasan antar suporter. Cara yang diambil setiap negara memang berbeda-beda. Hal ini dapat dibaca dalam Football Violence and Hooliganism in Europe (1996).
Dalam menanggulangi hooliganisme atau kekerasan dalam sepak bola, Inggris menempuh cara preventif, reaktif, dan refresif sekaligus. Inggris melakukan pemolisian terhadap suporter yang hobi rusuh (hooligan), dan membedakannya dengan suporter biasa.
Polisi Inggris membuat sistem khusus yang dapat memantau pergerakan hooligans setiap saat, termasuk dengan upaya melakukan penyamaran (intelijen) terutama saat hooligan melakukan aksi tandang.
Polisi Inggris juga membuat unit khusus yang menangani suporter sepak bola. Tak lupa disediakan pula nomor siaga (hotline) yang dapat dihubungi oleh siapa saja apabila sewaktu-waktu kerusuhan pecah.
Kali lain polisi Inggris juga bersedia melayani (escort) suporter yang hendak mendukung pada laga tandang. Polisi akan mengantar suporter mulai kedatangan di stasiun sampai berada di dalam stadion. Namun, hal ini sempat dikritisi karena kadang malah menaikkan tensi di dalam stadion.
Polisi Inggris juga menyediakan petugas penghubung (liason officer) yang ditempatkan di klub. Tugasnya mengindentifikasi dan memonitor hooligan yang melakukan tandang. Petugas ini juga dapat menghubungi dan mengasistensi polisi setempat jika situasi memaksa. Cara Inggris ini ditiru otoritas Italia.
Sementara negara-negara seperti Jerman, Belanda, Belgia, Swedia, dan Swis menempuh cara lain. Mereka menggalakkan program yang dinamakan dengan Fan Projects (fan coachs). Program ini dijalankan anak-anak muda sebagai pekerja social. Mereka melayani suporter, sekaligus menyuplai informasi kepada aparat kepolisian terkait dengan dinamika suporter.
Pekerja sosial untuk suporter memberikan panduan secara personal kepada suporter, baik mengenai bagaimana menghadapi situasi kritis jika tertangkap polisi, memberi masukan terkait aktivitas rekreasi, edukasi, bahkan karier mereka. Di Jerman, segala aktivtas Fan Projects dibiayai oleh klub terkait, federasi sepak bola Jerman (DFB), pemda setempat, dan donasi lain yang tak mengikat (nonkomersial).
Proyek yang sama juga diberlakukan di Belanda. Bedanya pihak yang terlibat diperluas, tidak polisi, klub terkait, dan pemda, namun juga melibatkan asosiasi suporter. Pembiayaannya didapat dari pemerintah, klub, dewan kota, dan federasi sepak bola. Hal serupa juga diterapkan Belgia dengan pembiayaan penuh oleh pemerintah pusat.
Adapun Swedia dan Swiss menerapkan apa yang dinamai dengan Project Battre Lakter Kulture (Proyek untuk Masa Depan yang Lebih Baik) yang praktiknya mengadakan pelbagai macam inisiatif untuk menangkal kekerasan di antar suporter. Proyek ini menggunakan pembiayaan sepenuhnya dari klub dan federasi sepak bola.
Upaya-upaya yang dilakukan negara-negara besar sepak bola di Eropa di atas terbukti berhasil menekan angka fatalitas dan kekerasan di antara suporter. Pemerintah, PSSI, klub, dan seluruh asosiasi suporter di Indonesia tentu dapat menempuh cara yang sama atau setidaknya menempuh cara yang paling cocok untuk diterapkan jika memang benar-benar hendak memutus rantai kekerasan di antara suporter yang terlajur diwarisi turun-temurun.
Sejauh ini dapat dikatakan semua pimpinan asosiasi suporter maupun patron yang “dituakan” seolah bekerja sendirian mengedukasi anggotanya. Padahal suara mereka pun kadang tak didengar oleh suporter di kalangan akar rumput.
Kini saatnya semua pihak berkehendak untuk memberdayakan suporter. Jangan hanya menjadikan mereka sebagai sapi perahan yang keuntungannya hanya dinikmati segelintir orang, lalu dituding paling bersalah saat terjadi tragedi kemanusiaan. Wallahu a’lam bish-shawab.
Andriansyah Syihabuddin
Penikmat sepak bola; pengasuh blog reformpssi.com