Oleh: Sebastian Buckup, Managing Director, World Economic Forum
Saat para pemimpin politik dan bisnis berkumpul untuk Pertemuan Tahunan World Economic Forum (WEF) di Davos, diskusi akan didominasi oleh kekhawatiran tentang pertumbuhan ekonomi yang lambat, polarisasi geopolitik, kerusakan iklim, dan kebangkitan kecerdasan buatan (AI). Banyak analisis akan dicurahkan untuk membedah tantangan-tantangan ini. Namun, pengarahan (briefing) paling penting bagi para delegasi mungkin bukan datang dari ekonom atau ahli strategi politik, melainkan dari anak muda dunia.
Laporan Youth Pulse 2026—sebuah survei World Economic Forum terhadap hampir 4.600 anak muda di lebih dari 100 negara—merupakan salah satu himpunan data wawasan pemuda terbesar secara global. Laporan ini memberikan pandangan komprehensif dari mereka yang akan hidup paling lama menanggung konsekuensi keputusan yang dibuat hari ini.
Dengan lebih dari separuh penduduk bumi saat ini berusia di bawah 30 tahun, dunia memiliki populasi muda terbesar dalam sejarah. Ini adalah generasi yang paling melek AI, namun juga yang paling minim dukungan.
Anak muda sangat kurang terwakili dalam keputusan yang akan membentuk masa depan mereka. Laporan ini menunjukkan mengapa hal tersebut tidak adil dan merupakan peluang besar yang terbuang sia-sia.
Prioritas mereka dapat disimpulkan menjadi lima tuntutan yang dapat ditindaklanjuti: lebih banyak lapangan kerja berkualitas dan kewirausahaan; pendidikan yang relevan dengan dunia kerja; adopsi AI yang cepat dengan batasan (guardrails) yang tepat; transparansi yang lebih besar sebagai fondasi kepercayaan; dan aksi iklim sebagai dasar kesejahteraan.
