Rasanya miris sekali, ya, kalau menulis rapi, tapi justru bikin orang curiga. Bukan karena isi tulisannya yang salah, tapi karena tampilan, susunan, tata bahasanya terstruktur dibanding kebanyakan tulisan orang. Banyak yang merasa kalau satu paragraf bisa nyambung secara mulus ke paragraf lain, rapi, memakai bahasa intelektual—seperti diskursus, eskalasi, resisten, dan sebagainya—berarti ditulis menggunakan akal imitasi (AI). Padahal, bisa saja itu cuma hasil kebiasaan menulis setiap hari, riset banyak jurnal, membaca ulang ratusan kali sebelum terbit, lalu membetulkan sesuai gaya penulis.
Lucunya lagi, menulis dengan tanda pisah atau em dash (—), bikin orang langsung berkata, “Wah, fiks pakai AI. Gak mungkin gak.” Tak heran, tulisan yang terlihat rapi dan tertata sering kali langsung dianggap atau dihakimi hasil AI tanpa dipikir panjang. Hmm, kenapa bisa begitu? Simak penjelasannya!
