Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
ilustrasi menulis
ilustrasi menulis (pexels.com/Berna)

Intinya sih...

  • Tulisan yang rapi, terstruktur, dan minim kesalahan sering dicurigai sebagai buatan AI. Padahal, kerapian bisa saja lahir dari kebiasaan menulis, riset, dan penyuntingan berulang-ulang.

  • Gaya bahasa netral dan pilihan kata baku dianggap dingin serta tidak personal. Akibatnya, fokus pembaca bergeser dari isi ke prasangka soal penulis asli.

  • Alat pendeteksi AI sering dipercaya mentah-mentah sebagai kebenaran. Proses kreatif manusia lantas diabaikan karena angka dianggap lebih sahih daripada konteks tulisan dan pengalaman penulis.

Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Rasanya miris sekali, ya, kalau menulis rapi, tapi justru bikin orang curiga. Bukan karena isi tulisannya yang salah, tapi karena tampilan, susunan, tata bahasanya terstruktur dibanding kebanyakan tulisan orang. Banyak yang merasa kalau satu paragraf bisa nyambung secara mulus ke paragraf lain, rapi, memakai bahasa intelektual—seperti diskursus, eskalasi, resisten, dan sebagainya—berarti ditulis menggunakan akal imitasi (AI). Padahal, bisa saja itu cuma hasil kebiasaan menulis setiap hari, riset banyak jurnal, membaca ulang ratusan kali sebelum terbit, lalu membetulkan sesuai gaya penulis.

Lucunya lagi, menulis dengan tanda pisah atau em dash (—), bikin orang langsung berkata, “Wah, fiks pakai AI. Gak mungkin gak.” Tak heran, tulisan yang terlihat rapi dan tertata sering kali langsung dianggap atau dihakimi hasil AI tanpa dipikir panjang. Hmm, kenapa bisa begitu? Simak penjelasannya!

1. Tulisan yang rapi membuat orang gampang menuduh buatan AI

ilustrasi menulis (pexels.com/Ron Lach)

Cukup aneh memang dunia tulis menulis zaman sekarang. Baru melihat tulisan yang rapi sedikit saja, orang langsung berpikir ke mana-mana. Bukan malah fokus ke isinya, tapi ke bagaimana caranya tulisan itu dibuat. Padahal, belum tentu ada yang aneh, lho. Bisa saja penulisnya memang tidak pernah saltik (typo) karena telah menyunting tulisan sendiri (self-editing) puluhan kali sebelum artikel atau tulisan itu diunggah. Kadang, perkara sesederhana itu dituduh A, B, C.

Nulis, nulis, nulis, lalu dibaca ulang. Merasa ada kalimat yang ganjil, lantas dibetulkan. Namun, karena hasil akhirnya bagus, bahkan mungkin kelewat bagus, tulisan malah dianggap menggunakan AI. Lucu, tapi sering sekali kejadian. Nah, yang bikin makin kesal, proses menulis tentu tidak pernah kelihatan, tapi kenapa orang dengan mudah menghakimi? Wajar kalau penulis tersinggung. Orang mana tahu ada yang nulis sambil bengong, berhenti sebentar, lalu lanjut lagi besok sampai memperoleh tulisan yang penulis harapkan. Yang terlihat cuma hasil akhirnya yang rapi, bagus, dan terstruktur. Eh, yang seperti itu langsung dianggap buatan AI.

2. Gaya tulisan yang netral sering dianggap hambar

ilustrasi menulis (pexels.com/William Fortunato)

Masalahnya sekarang, tulisan dengan gaya penulisan tenang, terstruktur, rapi, tanpa menghakimi sering dianggap mencurigakan. Begitu tidak ada kalimat yang penuh emosi, tidak ada kata yang terasa marah, atau terlalu setuju dengan opini, pembaca mulai berpikir, tulisan siapa sebenarnya? Rasanya dingin, datar, lalu muncul dugaan jangan-jangan ini buatan AI.

Ada penulis yang memang sengaja menahan diri. Bukan karena tidak punya pendapat, tapi karena tidak ingin menarik pembaca ke arah tertentu. Kadang, topik tulisan memang tidak butuh komentar panjang, cukup dijelaskan apa adanya. Namun, karena sekarang orang terbiasa dengan isi tulisan yang langsung condong ke satu sisi, baik pro maupun kontra, menulis menggunakan gaya bahasa netral terasa aneh. Akhirnya, bukan isi tulisannya yang diperdebatkan, tapi gaya menulisnya. Dari situ, cap tulisan buatan AI sering muncul, padahal penulis cuma memilih untuk netral.

3. Pilihan kata baku sering disalahartikan sebagai bahasa AI

ilustrasi menulis (pexels.com/Ron Lach)

Pemakaian kata baku dalam artikel sering dianggap terlalu aman. Ketika tulisan tidak memakai bahasa gaul (slang), istilah viral, atau ungkapan populer, pembaca langsung merasa kalau ini tulisan AI. Dari situ, muncul anggapan bahwa tulisan tersebut gak natural, penulis malas, gak mau belajar nulis, mengandalkan AI, dan sejumlah tuduhan keji lainnya. Padahal, banyak penulis sengaja memilih kata baku agar artikel mereka bisa dibaca dalam waktu lama dan mudah untuk dimengerti awam.

Dalam penulisan artikel, bahasa yang baku membantu isi tulisan atau pesan yang mau disampaikan tidak cepat basi. Karena itu, penulis memilih kata-kata yang netral dan umum. Hal tersebut juga memudahkan apabila laman secara otomatis memiliki fitur terjemahan otomatis. Namun, bagi pembaca yang terbiasa dengan bahasa atau diksi santai di media sosial, memakai kata baku terasa dingin, kaku, rapi, terstruktur, tidak ada emosi, tidak bernyawa, atau tidak seperti dengan gaya sendiri. Akhirnya, bukan isi tulisan lagi yang dibahas, melainkan dugaan bahwa tulisan tersebut memang dibuat oleh AI.

4. Alat pendeteksi AI sering dijadikan patokan tunggal

ilustrasi AI (pexels.com/Airam Dato-on)

Masalah lain datang dari cara orang memperlakukan alat deteksi AI yang ada di internet. Hasil persentase yang terdeteksi sering dianggap keputusan akhir dan bersifat mutlak. Banyak yang merasa seolah alat pendeteksi itu merupakan indikator valid satu-satunya bahwa sebuah tulisan ditulis manusia atau AI. Begitu angka tertentu muncul, tulisan langsung dilabeli AI tanpa dibaca ulang. Padahal, alat pendeteksi ini bekerja berdasarkan kemungkinan, bukan kepastian mutlak.

Tulisan manusia yang konsisten, minim kesalahan, dan terstruktur memang mudah terbaca sebagai hasil AI, apalagi jika artikelnya panjang serta melalui proses penyuntingan. Namun, ketika angka pada alat pendeteksi AI lebih dipercaya daripada isi, penulis berada di posisi lemah, terpojok, dan tak diuntungkan. Di sini, tulisan manusia kalah bukan karena isi dan kualitasnya, tapi karena cara orang memercayai alat pendeteksi tanpa memahami isinya.

Dituduh menulis menggunakan AI, padahal faktanya hasil jerih payah sendiri, itu kesalnya bukan main. Bukan cuma soal tuduhannya, melainkan karena proses panjang sampai tulisan itu bisa dinikmati terasa tidak dihargai. Orang tidak tahu ada yang menulis sambil berpikir, meriset, berhenti, berganti hari, membaca jurnal, menerjemahkan dari bahasa asing, menulis lagi, lalu membaca berulang-ulang. Orang hanya fokus pada hasil akhirnya, lalu iseng membuka alat pendeteksi AI, lantas langsung memberi label. Kalau kondisinya begini terus, masalahnya bukan lagi pada teknologi, tapi pada manusia itu sendiri.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team

EditorYudha ‎