Kementerian PUPR meluncurkan program kolaboratif bernama PAMSIMAS (Penyediaan Air Minum dan Sanitasi Berbasis Masyarakat). (Dok. Kementerian PUPR)
Berbicara tentang pengelolaan air di desa, lebih khusus lagi dalam Permendagri Nomor 44 Tahun 2016 tentang Kewenangan Desa ditegaskan bahwa pengelolaan air minum berskala desa merupakan kewenangan Desa dengan kategori kewenangan lokal berskala desa. Kewenangan inilah yang memberi amanat kepada pemerintah desa agar mengatur dan mengurus kebutuhan pokok terhadap pengelolaan air minum bagi masyarakat di desanya.
Atas dasar ini, sarana air minum yang dibangun melalui program PAMSIMAS, juga harus menjadi perhatian pemerintah desa, mulai persiapan dan pengusulan, perencanaan dan proses pembangunannya serta selanjutnya agar menjamin keberfungsian, pengembangan dan keberlanjutanya. Atau dengan kata lain, pemerintah desa bukan hanya sekadar diminta berpartisipasi dalam pembangunan dan keberlanjutan sarana air minum di desa, melainkan hal tersebut merupakan kewajiban Pemerintah Desa dan dapat dibiayai melalui APB Desa.
Dengan diberlakukannya Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2014 tentang Desa, maka Program PAMSIMAS yang lokusnya di desa melakukan penyesuaian dalam pelaksanaan agar sinkron dengan ketentuan Peraturan Perundangan yang berlaku, sehingga pada PAMSIMAS III yang dimulai sejak tahun 2016, peran pemerintah desa ditingkatkan lagi dan memberi kewajiban kepada pemerintah desa agar berkontribusi minimal 10% dari total nilai perencanaan pembangunan sarana air minum dan sanitasi yang telah disusun bersama dengan masyarakat di desa terkait.
Dengan demikian, porsi pembiayaan pada PAMSIMAS III adalah 70% dari pemerintah/pemerintah daerah, 20% dari masyarakat dan 10% bersumber dari APB Desa. Program PAMSIMAS merupakan program yang menekankan kolaborasi baik di pusat, daerah maupun di desa, di pusat Program PAMSIMAS dikelola Kemeterian PUPR, Kementerian Dalam Negeri, Kementerian Desa dan PDTT, Kementerian Kesehatan dan Bappenas.
Pengelolaan Program PAMSIMAS di daerah melibatkan Bappeda, Dinas PU, Dinas PMD, dan Dinas Kesehatan, sedangkan di tingkat desa, sebagai program yang berbasis masyarakat maka pemeran utamanya adalah masyarakat yang diwakili Pokmas (Kelompok Masyarakat) dan KPSPAMS (Kelompok Pengelola Sistem Penyediaan Air Minum dan Sanitasi) yang tentunya dalam tanggung jawab pembinaan dan pengawasan pemerintah desa.
Partisipasi dan keterlibatan pemerintah desa dalam PAMSIMAS dan pemenuhan layanan air minum untuk masyarakat tidak terbatas pada pembinaan saja, tetapi juga dituntut untuk melakukan pendanaan melalui APB Desa. Kebijakan tersebut disambut baik oleh Pemerintah Desa dan terbukti dengan relatif besarnya kontribusi APB Desa yang berhasil dimonitor, yaitu sejak tahun 2016 sampai dengan akhir tahun 2021, tercatat dalam SIM (Sistem Informasi Manajemen) PAMSIMAS, nilai kontribusi desa untuk pembangunan sarana air minum dan sanitasi mencapai Rp819.850.470.527, nilai itu terbagi menjadi APB Desa Sharing (kewajiban minimal 10%) sejumlah Rp788,661,916,743 dan APB Desa Non-Sharing (di luar kewajiban sharing) sejumlah Rp31,188,553,784.
Terkait dengan APB Desa non-sharing untuk pembangunan sarana air minum dan sanitasi di desa lokasi PAMSIMAS, sebenarnya jauh lebih besar daripada nilai yang tercatat pada SIM PAMSIMAS. Hal itu tidak tercatat dalam SIM PAMSIMAS karena realisasi APB Desa Non-Sharing tersebut direalisasikan setelah pembangunan sarana air minum yang didukung dari APBN/APBD selesai (pasca program). Jadi, lebih kepada pengembangan sarana yang sudah ada untuk pemenuhan akses 100% air minum di desa.
Indikasi nilai APB Desa jauh lebih besar daripada nilai yang tercatat pada SIM PAMSIMAS tersebut dibuktikan dengan beberapa analisis maupun temuan antara lain, yaitu Kabupaten Enrekang melaporkan jumlah realisasi APB Desa Non-Sharing Tahun 2020. Pada saat misi WB tanggal 3 Januari 2021 mencapai Rp1.453.577.000, kemudian saat presentasi laporan APB Desa pada kegiatan Workshop Peningkatan APB Desa untuk kegiatan air minum dan sanitasi tanggal 15 sampai dengan 17 September 2021 di Jakarta terungkap laporan dari beberapa sampel desa sebagai berikut (1) Desa Waara, Kabupaten Buton Tengah, Provinsi Sulawesi Tenggara, akumulasi realisasi APB Desa dari tahun 2019-2020 berjumlah Rp1.250.000.000, (2) Desa Bunut, Kabupaten Pesawaran, Provinsi Lampung, akumulasi realisasi APB Desa dari tahun 2018-2020 berjumlah Rp1.163.000.000, (3) Desa Balung, Kabupaten Kampar, Provinsi Riau, akumulasi realisasi APB Desa dari tahun 2017-2021 berjumlah Rp1.100.000.000, (4) Desa Salenrang Kabupaten Maros, Provinsi Sulawesi Selatan, akumulasi realisasi APB Desa dari tahun 2017-2021 berjumlah Rp1.095.000.000, (5) Desa Telaga Waru, Kabupaten Lombok Tengah, Provinsi Nusa Tenggara Barat, akumulasi realisasi APB Desa dari tahun 2020-2021 berjumlah Rp1.095.000.000, (6) Desa Buhung Bundang Bontotiro, Kabupaten Bulukumba, Provinsi Sulawesi Selatan, akumulasi realisasi APB Desa dari tahun 2019-2021 berjumlah Rp890.000.000, (7) Desa Kemurung Wetan, Kabupaten Brebes, Provinsi Jawa Timur, akumulasi realisasi APB Desa dari tahun 2019-2021 berjumlah Rp849.000.000 rupiah, dan (8) Desa Dhereisa, Boawae, Kabupaten Nagekeo, Provinsi Nusa Tenggara Timur, realisasi APB Desa pada tahun 2019 saja berjumlah Rp898.000.000.
Kemudian dari laporan akhir ROMS (Konsultan Pendamping Pamsimas) pada setiap provinsi juga dapat dipetik data Laporan Kontribusi APB Desa non-sharing dari tahun 2016 sampai dengan tahun 2021 keseluruhannya mencapai Rp116.440.969.383.