Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
[OPINI] Saat Family Man Diapresiasi, Kenapa Independent Woman Dipertanyakan?
ilustrasi ayah bermain dengan anak (unsplash.com/Nathan Dumlao)
  • Label 'family man' otomatis dianggap positif karena terbentuk dari kebiasaan lama yang menilai pria sebagai pelindung keluarga, sementara perempuan mandiri sering dipertanyakan pilihannya.
  • Kerja keras pria dilihat sebagai kewajiban, sedangkan kerja keras perempuan dianggap pilihan tambahan, menciptakan standar sosial yang tidak seimbang dalam menilai peran keduanya.
  • Media dan budaya populer memperkuat stereotip dengan menggambarkan family man hangat dan independent woman keras, membuat persepsi publik terhadap keduanya tetap bias dan tidak setara.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Label "family man" sering terdengar hangat karena langsung diasosiasikan dengan sosok yang hadir, bertanggung jawab, dan dekat dengan keluarga. Di sisi lain, independent woman justru kerap disambut dengan nada berbeda, kadang dipuji, kadang juga dipelintir seolah terlalu keras kepala.

Perbedaan respons ini tidak muncul begitu saja, melainkan terbentuk dari kebiasaan panjang yang jarang disadari. Cara orang menilai dua label ini ternyata tidak sesederhana kelihatannya. Berikut beberapa sudut pandang yang bisa membantu melihatnya lebih jernih.

1. Label family man dilekatkan sebagai sosok ideal sejak lama

ilustrasi family man (unsplash.com/Kelly Sikkema)

Sejak kecil, banyak orang sudah akrab dengan gambaran laki-laki yang bekerja, lalu pulang membawa peran sebagai pelindung keluarga. Contoh paling sederhana terlihat dari obrolan santai, seperti pujian untuk pria yang tidak sering nongkrong malam karena memilih pulang cepat. Hal seperti itu dianggap benar, sehingga label family man terasa otomatis positif.

Sebaliknya, perempuan yang berdiri sendiri sering dianggap keluar dari jalur yang sudah lama dibentuk. Misalnya, saat ada perempuan memilih fokus kerja atau hidup sendiri, respons yang muncul justru penuh tanya. Padahal, pilihan itu sama wajarnya dengan pria yang bekerja keras demi keluarga. Perbedaan penerimaan ini lahir dari kebiasaan lama yang terus diulang tanpa disaring lagi.

2. Kerja keras pria dianggap kewajiban, perempuan dianggap pilihan

ilustrasi independent woman (unsplash.com/Zulfugar Karimov)

Laki-laki yang bekerja keras sering dipuji karena dianggap menjalankan tanggung jawab. Namun di saat yang sama, kerja keras itu juga dilihat sebagai sesuatu yang memang seharusnya. Maka tak pernah ada istilah seperti independent man, karena sudah dianggap sebagai kewajiban mereka.

Berbeda dengan perempuan yang bekerja atau mandiri secara finansial, yang sering dilihat sebagai sesuatu yang bersifat tambahan. Contohnya, saat perempuan sukses, komentar yang muncul bisa melebar ke hal lain, bukan sekadar pencapaiannya. Padahal, kalau dilihat secara sederhana, dua-duanya sama-sama berusaha bertahan hidup dan berkembang.

3. Peran keluarga masih dibebankan lebih besar ke perempuan

ilustrasi mencuci piring (unsplash.com/Documerica)

Ada anggapan tidak tertulis bahwa urusan rumah dan kedekatan dengan orangtua lebih lekat ke perempuan. Akibatnya, ketika pria terlihat dekat dengan keluarga, itu dianggap sebagai nilai lebih. Sementara perempuan yang memilih jalur mandiri sering dinilai seolah meninggalkan peran tersebut.

Contoh yang sering muncul ada di lingkungan sekitar, ketika perempuan yang belum menikah di usia tertentu mulai dibandingkan dengan yang sudah berkeluarga. Padahal, kedekatan dengan orangtua tidak selalu diukur dari status atau pilihan hidup. Cara pandang seperti ini membuat standar yang dipakai jadi tidak seimbang sejak awal.

4. Cara media dan obrolan sehari-hari membentuk persepsi

ilustrasi ayah bermain dengan anak (unsplash.com/OPPO Find X5 Pro)

Cerita di film, konten media sosial, sampai obrolan tongkrongan ikut membentuk cara melihat dua label ini. Sosok family man biasanya digambarkan hangat dan setia, sehingga mudah disukai. Sementara perempuan mandiri kadang ditampilkan dengan karakter yang terlalu keras atau sulit didekati.

Efeknya terasa di kehidupan nyata, ketika orang lebih cepat memberi label tanpa benar-benar mengenal orangnya. Misalnya, perempuan yang fokus karier langsung dianggap tidak butuh siapa-siapa, padahal kenyataannya tidak sesederhana itu. Pengaruh cerita yang terus diulang ini pelan-pelan membentuk cara berpikir tanpa disadari.

5. Standar sosial masih suka tidak konsisten

ilustrasi independent woman (unsplash.com/Vitaly Gariev)

Ada momen ketika masyarakat memuji perempuan mandiri, tetapi di waktu lain juga mengkritik pilihan yang sama. Hal ini membuat label independent woman terasa seperti pujian yang tidak selalu tulus. Sementara family man cenderung aman dari kritik selama memenuhi gambaran umum yang sudah dikenal.

Contoh konkretnya terlihat saat perempuan sukses tetap ditanya soal kehidupan pribadi, sedangkan pria jarang mendapat pertanyaan serupa. Standar yang berubah-ubah ini akhirnya membuat perempuan harus menyesuaikan diri lebih banyak. Padahal, jika dilihat secara adil, setiap orang punya cara hidup yang berbeda dan tidak bisa disamakan begitu saja.

Pada akhirnya, cara memandang family man dan independent woman lebih banyak dipengaruhi oleh kebiasaan lama dibandingkan dengan realitas yang ada sekarang. Selama standar yang dipakai masih berbeda, perbandingan seperti ini akan terus muncul. Mungkin yang perlu dipertanyakan bukan lagi siapa yang lebih layak dipuji, tetapi kenapa ukuran penilaiannya tidak pernah benar-benar setara?

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team