Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
5 Fakta Hyde Park, Hasil Sitaan Raja Henry VIII dari Para Biarawan
Hyde Park, London, Inggris (unsplash.com/Igor Sporynin)
  • Hyde Park awalnya disita Raja Henry VIII dari biarawan Westminster Abbey pada 1536 dan baru dibuka untuk publik oleh Raja Charles I pada 1637.
  • Rotten Row menjadi jalan pertama di Inggris dengan penerangan buatan, sementara Speakers’ Corner lahir dari protes sosial abad ke-19 sebagai simbol kebebasan berpendapat.
  • Taman ini pernah menampung Great Exhibition 1851 dengan Crystal Palace megah serta memiliki Danau Serpentine hasil inovasi lanskap Ratu Caroline yang mengubah wajah taman Inggris.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Taman luas yang terletak di jantung kota London ini menyimpan catatan sejarah cukup kelam mengenai perebutan kekuasaan. Henry VIII menyita lahan ini secara paksa dari tangan para biarawan Westminster Abbey karena ingin memiliki area pribadi yang eksklusif bagi kerajaan.

Kini masyarakat umum bebas mengunjungi dan menikmati fasilitas di atas lahannya setiap hari tanpa hambatan. Padahal pada masa lalu, kawasan ini berada di bawah pengawasan ketat penjaga hutan bersenjata agar rakyat jelata gak bisa memasuki wilayah milik raja tersebut. Penasaran? Berikut adalah fakta-fakta menarik di balik kemegahan Hyde Park yang belum banyak diketahui orang.

1. Berawal dari aksi sita paksa Raja Henry VIII

Hyde Park, London, Inggris (commons.wikimedia.org/Garry Knight)

Raja Henry VIII dikenal sebagai penguasa yang sangat ambisius dan memiliki ketertarikan besar terhadap aktivitas olahraga fisik yang ekstrem. Dilansir laman The Royal Parks, raja yang dikenal dengan sifatnya yang keras dan dominan ini mengambil alih lahan yang kini membentuk Hyde Park dari tangan para biarawan Westminster Abbey pada tahun 1536 untuk menambah koleksi tempat berburunya.

Lahan ini awalnya tetap berstatus sebagai area privat yang tertutup rapat dari jangkauan publik selama puluhan tahun sebagai wujud eksklusivitas kekuasaan raja. Baru pada tahun 1637, di bawah kepemimpinan Raja Charles I, gerbang taman ini akhirnya dibuka secara resmi bagi masyarakat umum setelah sebelumnya hanya terbatas bagi kalangan bangsawan dan elit sosial tertentu saja.

2. Asal-usul nama unik Rotten Row dan lampu jalan pertama

Rotten Row, Hyde Park, London sekitar tahun 1890-an (commons.wikimedia.org/Library of Congress)

Jalur sepanjang 1.384 meter yang melintasi Hyde Park ini awalnya dibangun oleh Raja William III sebagai akses aman untuk bepergian di antara Istana Kensington dan Istana St James. Dilansir laman Hertford Street, kawasan ini dulunya merupakan tempat persembunyian favorit para perampok jalanan sehingga raja memasang 300 lampu minyak di sepanjang jalur tersebut.

Pemasangan lampu tersebut menjadikan rute ini sebagai jalan raya pertama di Inggris yang memiliki sistem penerangan buatan secara permanen. Meskipun namanya terdengar kurang menyenangkan, istilah "Rotten Row" sebenarnya merupakan pelesetan dari bahasa Prancis Route du Roi yang berarti Jalan Raja, dan kini lokasi tersebut aktif digunakan sebagai area latihan berkuda bagi anggota Household Cavalry serta masyarakat umum.

3. Speakers’ Corner sebagai simbol demokrasi yang lahir dari gejolak sosial

Speakers’ Corner, Hyde Park, London (commons.wikimedia.org/Anthony O'Neil)

Terletak di sudut timur laut taman dan tidak jauh dari Marble Arch, Speakers’ Corner berdiri sebagai salah satu lokasi paling terkenal di dunia untuk debat publik serta orasi bebas. Dilansir laman Marble Arch London, tradisi ini lahir dari serangkaian protes besar dan kerusuhan di pertengahan abad ke-19, termasuk reaksi terhadap undang-undang perdagangan hari Minggu yang merugikan kelas pekerja saat itu.

Ketegangan politik yang memuncak dalam peristiwa The Hyde Park Railings Affair pada tahun 1866 akhirnya memaksa pemerintah mengeluarkan Parks Regulation Act tahun 1872 yang melegalkan pertemuan publik di area tersebut. Lokasi legendaris ini pernah menjadi panggung bagi tokoh-tokoh besar seperti William Morris, Vladimir Lenin, hingga Karl Marx, dan tetap menjadi pusat bagi siapa pun yang ingin menyuarakan pendapat secara terbuka hingga saat ini.

4. Simbol kejayaan London dalam pameran internasional pertama

Ilustrasi Crystal Palace, Hyde Park (commons.wikimedia.org/Dickinson Brothers)

Hyde Park pernah menjadi lokasi berdirinya Crystal Palace, sebuah aula pameran raksasa dari kaca dan besi yang dirancang oleh Sir Joseph Paxton untuk menampung Great Exhibition tahun 1851. Dilansir laman Britannica, bangunan monumental ini merupakan ide dari Pangeran Albert untuk mengumpulkan ribuan peserta pameran internasional, mulai dari mesin uap hingga inovasi teknologi Amerika Serikat.

Struktur megah ini mencakup area seluas sekitar 18 hektar di atas permukaan tanah dan berhasil menarik lebih dari enam juta pengunjung selama masa pamerannya. Setelah acara berakhir, bangunan tersebut dibongkar dan didirikan kembali di Sydenham Hill sebelum akhirnya musnah terbakar pada tahun 1936, namun warisannya tetap menetapkan standar arsitektur bagi pameran internasional di berbagai belahan dunia lainnya.

5. Inovasi lanskap danau Serpentine yang mendobrak tradisi

Danau Serpentine, Hyde Park (commons.wikimedia.org/David Dixon)

Penciptaan Danau Serpentine pada tahun 1730 merupakan sebuah revolusi dalam desain taman karena meninggalkan gaya formal yang kaku. Dilansir laman London Guided Walks, Ratu Caroline memprakarsai pembendungan aliran sungai Westbourne untuk membentuk danau dengan lekukan alami yang tidak beraturan, sebuah gaya yang kemudian memengaruhi gerakan taman lanskap Inggris.

Proyek ambisius ini dirancang untuk menata area jalan santai sekaligus memperbaiki sistem drainase dan sanitasi di kawasan taman yang sebelumnya berupa rawa. Keberadaan danau dilengkapi dengan Jembatan Serpentine yang dirancang oleh insinyur John Rennie pada tahun 1826, yang hingga kini berfungsi sebagai batas antara Hyde Park dan Kensington Gardens.

Sejarah Hyde Park mencatat perubahan fungsi kawasan dari tanah sitaan kerajaan hingga ruang publik yang terbuka bagi masyarakat. Berbagai peninggalan dari masa monarki masih dapat ditemui di tengah perkembangan lingkungan perkotaan London yang terus berjalan.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team