Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
5 Fakta Ikan Mandarin, si Cantik Neon dari Laut Tropis
potret ikan mandarin (unsplash.com/David Clode)
  • Ikan mandarin dikenal karena warna neon alami dari sel pigmen langka cyanophore, membuat tampilannya mencolok di antara terumbu karang tropis.
  • Berbeda dari ikan lain, tubuhnya tanpa sisik dan dilindungi lendir tebal beraroma tajam yang berfungsi sebagai pertahanan terhadap parasit dan predator.
  • Hidup di terumbu karang Indo-Pasifik, ikan ini aktif kawin saat senja dan sulit dipelihara di akuarium karena kebutuhan makan serta lingkungan yang sangat spesifik.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Laut tropis menyimpan banyak keindahan yang kerap luput dari perhatian, salah satunya adalah ikan mandarin (Synchiropus splendidus). Ikan kecil ini tampil mencolok dengan perpaduan warna cerah yang tampak seperti coretan lukisan neon. Meski ukurannya tidak besar, kehadirannya di antara terumbu karang mampu langsung menarik perhatian siapa pun yang melihatnya.

Namun, pesona ikan mandarin tidak hanya terletak pada warnanya. Ada sejumlah fakta menarik tentang anatomi, perilaku, hingga habitatnya yang mungkin belum banyak diketahui. Untuk mengenal lebih jauh si cantik neon dari laut tropis ini, yuk simak lima fakta uniknya berikut ini.

1. Warnanya seperti lukisan neon

potret ikan mandarin dengan perpaduan warna cerah yang menjadi ciri khasnya (commons.wikimedia.org/Synchiropus_splendidus_2_Luc_Viatour.jpg)

Salah satu alasan ikan mandarin begitu menarik perhatian adalah warna tubuhnya yang tampak seperti lukisan neon alami. Ikan kecil ini memiliki perpaduan warna biru terang, oranye, hijau, dan kuning yang membentuk pola berliku menyerupai coretan abstrak. Meski panjangnya hanya sekitar 5 hingga 7 sentimeter, tampilannya terlihat sangat mencolok di antara ikan-ikan terumbu karang lainnya.

Menariknya, warna biru cerah pada ikan mandarin bukan sekadar efek pantulan cahaya seperti pada banyak ikan lain. Warna tersebut dihasilkan oleh sel pigmen khusus yang disebut cyanophore, yang tergolong langka pada vertebrata. Keunikan inilah yang membuat tampilannya terlihat lebih “hidup” dan berbeda, seolah-olah tubuhnya benar-benar dicat dengan warna neon alami di tengah ekosistem terumbu karang.

2. Tidak memiliki sisik

potret ikan mandarin, salah satu spesies yang tidak memiliki sisik (commons.wikimedia.org/Lakshmi Sawitri)

Berbeda dari kebanyakan ikan karang lainnya, ikan mandarin tidak memiliki sisik pada tubuhnya. Sebagai gantinya, permukaan kulitnya dilapisi oleh lapisan lendir tebal yang memberikan tekstur licin. Lapisan ini bukan sekadar pelindung biasa, tetapi berperan penting dalam menjaga tubuhnya dari gangguan parasit serta ancaman dari lingkungan sekitar terumbu karang.

Lendir tersebut juga memiliki bau tidak sedap dan rasa pahit yang dapat mengusir predator. Bahkan, terdapat sel khusus pada kulitnya yang menghasilkan zat dengan kandungan toksin ringan sebagai bentuk pertahanan tambahan. Dengan perlindungan alami ini, ikan mandarin tetap bisa bertahan hidup meski tampilannya sangat mencolok dan mudah terlihat di antara karang.

3. Aktif kawin saat senja

potret sepasang ikan mandarin yang aktif kawin pada waktu senja (commons.wikimedia.org/Steve Childs)

Salah satu perilaku unik dari ikan mandarin adalah kebiasaannya kawin saat senja. Ketika cahaya matahari mulai meredup, ikan jantan akan memamerkan warna cerah dan mengembangkan siripnya untuk menarik perhatian betina. Dalam satu kelompok kecil, beberapa jantan bisa saling bersaing untuk mendapatkan pasangan, karena betina cenderung memilih jantan yang lebih besar dan kuat.

Proses pemijahan biasanya terjadi sesaat setelah matahari terbenam. Sepasang ikan akan berenang naik bersama dari area terumbu karang, menyelaraskan tubuh, lalu melepaskan telur dan sperma secara bersamaan ke dalam air. Pembuahan berlangsung di luar tubuh, dan telur-telur yang telah dibuahi akan mengapung sebelum menetas sekitar 12 hingga 18 jam kemudian. Perilaku yang terkoordinasi ini menjadi bagian penting dari siklus hidup ikan mandarin di alam liar.

4. Hidup di terumbu karang Indo-Pasifik

potret ikan mandarin di habitat terumbu karang Indo-Pasifik (commons.wikimedia.org/Bernard DUPONT from FRANCE)

Sebagai ikan tropis, ikan mandarin hidup di perairan hangat kawasan Indo-Pasifik bagian barat. Penyebarannya meliputi Filipina, Indonesia, Papua Nugini, Australia utara, hingga Kepulauan Ryukyu. Ikan ini menyukai suhu air sekitar 24 hingga 26 derajat Celsius dan umumnya ditemukan di kedalaman dangkal, mulai dari satu hingga sekitar 18 meter.

Habitat utamanya adalah terumbu karang dan laguna dangkal yang kaya akan karang hidup maupun pecahan karang mati. Ikan mandarin termasuk penghuni dasar perairan dan sering bersembunyi di sela-sela karang pada siang hari. Lingkungan terumbu yang sehat sangat penting bagi kelangsungan hidupnya, karena di sanalah ia mencari makan sekaligus berlindung dari ancaman predator.

5. Sulit dipelihara di akuarium

potret ikan mandarin yang membutuhkan perawatan khusus di akuarium (commons.wikimedia.org/Thesupermat)

Di alam liar, ikan mandarin dapat hidup hingga 10 sampai 15 tahun. Namun di akuarium, usianya rata-rata hanya sekitar 2 sampai 4 tahun. Perbedaan ini disebabkan oleh kebutuhan makan yang sangat spesifik. Ikan mandarin terbiasa mengonsumsi krustasea kecil seperti amphipoda dan isopoda yang hidup di sela batu karang. Di dalam tangki, mereka umumnya tidak mau menerima pakan buatan sehingga sangat bergantung pada ketersediaan batu hidup yang kaya mikroorganisme.

Selain itu, ikan ini membutuhkan akuarium yang cukup besar dan kondisi air yang stabil agar sumber makanan alaminya tetap tersedia. Sifatnya yang lambat dan cenderung pasif membuatnya kalah bersaing dengan ikan lain yang lebih agresif saat mencari makan. Dua pejantan juga tidak dapat dipelihara bersama karena akan saling menyerang. Tanpa lingkungan yang menyerupai habitat aslinya, ikan mandarin mudah mengalami stres dan kekurangan nutrisi.

Keindahan ikan mandarin bukan hanya soal warna yang mencolok, tetapi juga tentang cara hidupnya yang unik dan penuh tantangan. Dari terumbu karang Indo-Pasifik hingga akuarium rumahan, ikan kecil ini menunjukkan bahwa setiap spesies memiliki kebutuhan dan karakter yang berbeda. Semakin kita memahaminya, semakin terlihat bahwa menjaga ekosistem laut tetap sehat adalah kunci agar pesona seperti ini tetap bisa dinikmati.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team