Bibliotheca Alexandrina, sebuah perpustakaan besar dan pusat kebudayaan di Alexandria, Mesir. Ini adalah rekonstruksi dari Perpustakaan Alexandria kuno. (unsplash.com/Abdallah MK)
Gagasan untuk menghidupkan kembali Perpustakaan Alexandria kuno pertama kali diusulkan pada tahun 1972 oleh Profesor Mostafa El-Abbadi. Dengan dukungan internasional dari UNESCO, Pemerintah Mesir membangun gedung megah senilai $200 juta yang resmi dibuka pada Oktober 2002. Terletak di dekat lokasi aslinya di pinggir Laut Mediterania, bangunan ini memiliki desain arsitektur yang sangat unik berupa silinder raksasa yang tampak muncul dari dalam tanah. Atapnya yang berbentuk cakram kaca dan aluminium menyerupai matahari terbit sekaligus microchip komputer, sementara dinding luarnya dihiasi dengan ribuan panel granit yang dipahat dengan berbagai karakter alfabet dari seluruh dunia.
Di dalamnya, perpustakaan modern ini mampu menampung hingga delapan juta buku yang tersebar di tujuh lantai, di mana naskah tertua disimpan di lantai paling dasar sebagai simbol akar pengetahuan. Lebih dari sekadar tempat menyimpan buku, kompleks ini adalah pusat kebudayaan dan sains yang lengkap, memiliki planetarium, laboratorium pelestarian digital, hingga pusat konferensi. Dengan adanya museum, galeri seni, dan tempat penyimpanan manuskrip langka, Bibliotheca Alexandrina berhasil mewujudkan kembali impian masa lalu untuk menjadi pusat penelitian dan titik temu peradaban dunia di era digital.
Kehancuran Perpustakaan Alexandria adalah pengingat keras bahwa peradaban dan ilmu pengetahuan jauh lebih rapuh daripada yang kita bayangkan. Kita mungkin tidak akan pernah tahu secara pasti berapa banyak rahasia alam semesta yang hilang ditelan api peperangan dan fanatisme di masa lalu. Namun, sejarah Alexandria mengajarkan bahwa meskipun bangunan bisa runtuh dan papirus bisa berubah menjadi abu, tetapi haus manusia akan pengetahuan tidak akan pernah bisa dipadamkan. Kehadiran Bibliotheca Alexandrina yang berdiri megah hari ini adalah bukti nyata bahwa setiap kali sebuah jendela ilmu tertutup, kemanusiaan akan selalu mencari jalan untuk membangun pintu yang baru.