Teater Petra dengan desain Nabatea-Romawi adalah amfiteater kuno abad ke-1 Masehi yang unik karena sebagian besar diukir langsung dari batu pasir padat di lereng gunung, bukan dibangun dari blok batu. (commons.wikimedia.org/Boris Debic)
Sejak ditemukan kembali oleh penjelajah Johann Ludwig Burckhardt pada tahun 1812, Petra terus memukau dunia hingga akhirnya ditetapkan sebagai Situs Warisan Dunia UNESCO pada tahun 1985. Kota ini dianggap memiliki nilai universal yang luar biasa karena merupakan perpaduan unik antara gaya arsitektur Timur dan Barat (Yunani-Romawi). Keberadaan sisa-sisa peninggalan dari zaman prasejarah, pertambangan tembaga, hingga benteng Tentara Salib menjadi bukti nyata dari berbagai peradaban besar yang pernah mendiami wilayah ini.
Meskipun megah, kelestarian Petra menghadapi tantangan besar akibat faktor alam dan aktivitas manusia. Bangunan-bangunan batu pasir ini sangat rentan terhadap erosi angin, hujan, serta ancaman banjir bandang jika sistem pengalihan air kunonya tidak dirawat dengan baik. Selain itu, sebagai destinasi wisata populer, Petra harus menghadapi tekanan dari membludaknya jumlah pengunjung dan kebutuhan pembangunan infrastruktur modern. Upaya pelestarian pun terus dilakukan pemerintah setempat dan UNESCO agar keaslian dan kemegahan kota kuno ini tetap terjaga untuk generasi mendatang.
Petra bukan sekadar tumpukan batu kuno, melainkan bukti nyata kejeniusan manusia dalam menaklukkan kerasnya alam. Meskipun kini menghadapi tantangan besar, tetapi pesona kota ini tetap tidak tertandingi berkat berbagai upaya konservasi yang terus dilakukan. Fokus utama penyelamatan saat ini diarahkan pada perbaikan akses di gerbang utama Siq demi keamanan wisatawan, serta berbagai penelitian mendalam untuk memastikan situs warisan dunia ini tetap kokoh dan terlindungi dari kerusakan lebih lanjut.