Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Al-Khazneh (The Treasury) di Petra, Yordania, adalah sebuah bangunan yang difungsikan sebagai makam atau mausoleum kerajaan, kemungkinan besar untuk Raja Nabatea Aretas IV pada abad ke-1 Masehi. Meskipun dijuluki "Perbendaharaan" karena legenda harta karun, penelitian arkeologi menegaskan bangunan i
Al-Khazneh (The Treasury) di Petra, Yordania, adalah sebuah bangunan yang difungsikan sebagai makam atau mausoleum kerajaan, kemungkinan besar untuk Raja Nabatea Aretas IV pada abad ke-1 Masehi. Meskipun dijuluki "Perbendaharaan" karena legenda harta karun, penelitian arkeologi menegaskan bangunan ini adalah monumen pemakaman yang memiliki ruang makam di bawahnya. (unsplash.com/Alex Vasey)

Intinya sih...

  • Petra adalah kota kuno di barat daya Yordania yang dibangun di tengah lembah tebing batu pasir, mencapai puncak kejayaannya saat dijadikan ibu kota oleh bangsa Nabatea.

  • Petra adalah kota seluas seratus mil persegi di barat daya Yordania yang dibangun dengan cara unik, dipahat langsung ke dalam tebing batu pasir dan memiliki sistem pengairan yang sangat canggih.

  • Petra ditetapkan sebagai Situs Warisan Dunia UNESCO pada tahun 1985 karena merupakan perpaduan unik antara gaya arsitektur Timur dan Barat (Yunani-Romawi) serta memiliki nilai universal yang luar biasa.

Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Yordania adalah negara Arab di Asia Barat Daya, tepatnya di gurun berbatu di bagian utara Semenanjung Arab, serta berbatasan dengan Arab Saudi, Irak, dan Suriah. Negara ini merupakan sebuah negeri yang menyimpan sejuta pesona sejarah, mulai dari keajaiban Laut Mati hingga kemegahan gurun Wadi Rum yang eksotis. Di antara semua daya tariknya, Petra muncul sebagai ikon utama, sebuah kota bersejarah dan arkeologi yang berdiri sejak ribuan tahun lalu. Keindahan arsitekturnya yang masuk dalam jajaran tujuh keajaiban dunia pun menjadikan kota kuno ini penuh dengan cerita dan sejarah yang masih melekat hingga saat ini.

Lantas, bagaimana Petra mampu bertahan dari terjangan waktu selama ribuan tahun dan tetap berdiri kokoh meski pernah “menghilang” dari peta dunia? Mari kita telusuri!

1. Dari masa kejayaan hingga menjadi kota yang hilang

Pemandangan kota kuno Petra, sebuah kota bersejarah dan arkeologis di Yordania selatan. Kota ini terkenal dengan arsitektur pahatan batunya dan sistem saluran airnya. (unsplash.com/Vinicius)

Petra (Raqmu) adalah kota kuno di barat daya Yordania yang dibangun di tengah lembah tebing batu pasir. Kota ini juga dijuluki sebagai "Kota Mawar" tebing batu pasirnya berwarna merah dan ungu yang bervariasi hingga kuning pucat. Wilayah ini sebenarnya sudah dihuni sejak zaman prasejarah, tetapi mencapai puncak kejayaannya saat dijadikan ibu kota oleh bangsa Nabatea. Di bawah kendali mereka, Petra berkembang pesat menjadi pusat perdagangan rempah-rempah yang sangat ramai dengan penduduk mencapai 30.000 jiwa. Kekuatan kota ini bahkan terbukti saat mereka berhasil mempertahankan wilayahnya dari serangan pasukan Seleukia pada tahun 312 SM.

Seiring berjalannya waktu, Petra jatuh ke tangan bangsa Romawi dan mulai mengalami kemunduran akibat perubahan jalur perdagangan dunia. Kondisi kota pun semakin terpuruk setelah gempa bumi besar menghancurkan banyak bangunan pada tahun 551 M, yang membuat penduduknya perlahan pergi. Meski sempat mengalami masa invasi Islam dan menjadi pos pertahanan Tentara Salib pada abad ke-12, pemukiman besar di Petra seolah "menghilang" dan keberadaannya hanya diketahui oleh suku lokal setempat.

2. Kota yang dipahat, bukan dibangun

Situs arkeologi kompleks Kuil Agung di Petra, Yordania. (commons.wikimedia.org/Dennis G. Jarvis)

Petra adalah kota seluas seratus mil persegi di barat daya Yordania yang dibangun dengan cara unik. Alih-alih menyusun batu bata, bangsa Nabatea yang dikenal sebagai pemahat ulung justru mengukir rumah, kuil, dan makam langsung ke dalam tebing batu pasir. Gaya arsitekturnya pun sangat kaya karena memadukan pengaruh budaya Yunani, Mesir, dan Asyur. Keunikan utama kota ini terletak pada warna batunya yang bisa berubah-ubah secara dramatis mengikuti pergerakan matahari, menciptakan pemandangan yang sangat memukau.

Pembangunan Petra ternyata tidak hanya mengutamakan keindahan visual, tetapi juga memperhitungkan posisi benda langit. Menurut sebuah studi terbaru, bangsa Nabatea merancang kota ini agar cahaya matahari dapat menyinari tempat-tempat suci mereka secara presisi, layaknya sorotan cahaya surgawi. Hal ini menunjukkan bahwa arsitektur Petra memiliki makna spiritual yang mendalam, di mana fasad-fasad bangunannya yang megah merupakan perpaduan antara kecanggihan teknik manusia dengan fenomena alam semesta.

3. Memiliki sistem pengairan yang sangat canggih

Mata Air Musa (Ain Musa) di Wadi Musa, dekat Petra, Yordania, yang mendominasi aliran air mata air alami ke Petra. (commons.wikimedia.org/Le Médocain)

Bangsa Nabatea berhasil mengubah Petra yang gersang menjadi sebuah "oase buatan" melalui sistem pengairan yang sangat jenius. Mereka memanfaatkan sembilan mata air alami, termasuk Ain Musa, dan membangun infrastruktur air yang luar biasa canggih. Dengan luas pipa tanah liat mencapai lebih dari 200 kilometer, mereka menghubungkan berbagai waduk, tangki penyimpanan bawah tanah, dan saluran air yang dipahat langsung di pegunungan. Sistem ini dirancang dengan sangat presisi untuk menjaga aliran air tetap stabil, meminimalkan kebocoran, dan memastikan ketersediaan air bersih bagi penduduk maupun kafilah dagang yang datang, bahkan mampu mencukupi kebutuhan kota selama berbulan-bulan.

Selain untuk konsumsi, infrastruktur air Petra juga berfungsi ganda sebagai pengendali bencana dan fasilitas publik. Bendungan strategis dibangun untuk menangkap air hujan sekaligus mencegah banjir bandang yang sering mengancam wilayah lembah. Kolam-kolam pengendapan juga diciptakan untuk menjernihkan air dari pasir serta menggunakan sistem pipa bertekanan untuk mengalirkan air ke air mancur dan fasilitas umum di pusat kota. Kehebatan teknologi ini begitu diakui hingga saat bangsa Romawi berkuasa, hingga mereka memilih untuk tetap menggunakan dan memperluas sistem asli ciptaan bangsa Nabatea tersebut daripada menggantinya.

4. Eksplorasi kota dan situs suci di Petra

Area yang dikenal sebagai Bab El-Siq atau "Gerbang menuju Siq" di Petra, Yordania, yang menampilkan Blok Djinn Nabatea kuno. (commons.wikimedia.org/Berthold Werner)

Perjalanan memasuki Petra dimulai melalui Siq, sebuah ngarai sempit alami sepanjang 1,2 kilometer dengan dinding tebing setinggi 80 meter yang memukau. Di sepanjang jalan ini, pengunjung dapat melihat kecanggihan sistem air kuno serta bendungan pelindung banjir karya bangsa Nabatea. Di ujung jalan yang berkelok, pengunjung akan disambut oleh pemandangan paling ikonik, yaitu Al-Khazneh (The Treasury). Bangunan megah setinggi 43 meter ini dipahat langsung pada tebing batu merah muda sebagai makam kerajaan dan menjadi bukti kejeniusan arsitektur masa lalu yang memadukan keindahan alam dengan seni pahat yang sangat detail.

Lebih jauh ke dalam kota, terdapat kompleks Makam Kerajaan yang terdiri dari empat bangunan megah, termasuk Makam Guci yang luas dan Makam Istana yang memiliki banyak pilar. Petra juga memiliki teater kuno yang dipahat di lereng gunung dengan kapasitas 4.000 penonton serta Jalan Kolonade yang menjadi pusat keramaian di masa lalu. Bagi pengunjung yang kuat mendaki ratusan anak tangga, mereka dapat mencapai Ad-Deir (Biara) yang berukuran raksasa di puncak bukit atau mengunjungi Tempat Pengorbanan Tinggi, sebuah situs suci di puncak gunung yang menawarkan pemandangan seluruh kota serta jejak sejarah keagamaan dari zaman Alkitab.

5. Ditetapkan sebagai Situs Warisan Dunia UNESCO

Teater Petra dengan desain Nabatea-Romawi adalah amfiteater kuno abad ke-1 Masehi yang unik karena sebagian besar diukir langsung dari batu pasir padat di lereng gunung, bukan dibangun dari blok batu. (commons.wikimedia.org/Boris Debic)

Sejak ditemukan kembali oleh penjelajah Johann Ludwig Burckhardt pada tahun 1812, Petra terus memukau dunia hingga akhirnya ditetapkan sebagai Situs Warisan Dunia UNESCO pada tahun 1985. Kota ini dianggap memiliki nilai universal yang luar biasa karena merupakan perpaduan unik antara gaya arsitektur Timur dan Barat (Yunani-Romawi). Keberadaan sisa-sisa peninggalan dari zaman prasejarah, pertambangan tembaga, hingga benteng Tentara Salib menjadi bukti nyata dari berbagai peradaban besar yang pernah mendiami wilayah ini.

Meskipun megah, kelestarian Petra menghadapi tantangan besar akibat faktor alam dan aktivitas manusia. Bangunan-bangunan batu pasir ini sangat rentan terhadap erosi angin, hujan, serta ancaman banjir bandang jika sistem pengalihan air kunonya tidak dirawat dengan baik. Selain itu, sebagai destinasi wisata populer, Petra harus menghadapi tekanan dari membludaknya jumlah pengunjung dan kebutuhan pembangunan infrastruktur modern. Upaya pelestarian pun terus dilakukan pemerintah setempat dan UNESCO agar keaslian dan kemegahan kota kuno ini tetap terjaga untuk generasi mendatang.

Petra bukan sekadar tumpukan batu kuno, melainkan bukti nyata kejeniusan manusia dalam menaklukkan kerasnya alam. Meskipun kini menghadapi tantangan besar, tetapi pesona kota ini tetap tidak tertandingi berkat berbagai upaya konservasi yang terus dilakukan. Fokus utama penyelamatan saat ini diarahkan pada perbaikan akses di gerbang utama Siq demi keamanan wisatawan, serta berbagai penelitian mendalam untuk memastikan situs warisan dunia ini tetap kokoh dan terlindungi dari kerusakan lebih lanjut.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team