Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
5 Fakta Unik Varosha, Kota Hantu Siprus yang Terbengkalai Sejak 1974
Varosha (unsplash.com/Steffen Lemmerzahl)
  • Varosha dulunya pusat wisata dan ekonomi pesisir Siprus, namun berubah drastis setelah konflik 1974 yang membuat kawasan ini tertutup total bagi warga sipil.
  • Sejak intervensi Turki 1974, Varosha menjadi kota hantu akibat pembekuan politik dan militer, sementara resolusi PBB serta Uni Eropa terus menegaskan status hukumnya.
  • Selama puluhan tahun tanpa manusia, alam mengambil alih ruang kosong Varosha, memunculkan ide menjadikannya kota hijau simbol rekonsiliasi dan pembaruan pascakonflik.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Varosha adalah nama sebuah kawasan di Famagusta, Siprus, yang pernah berkembang sebagai pusat komersial sekaligus resor wisata di pesisir selatan kota itu. Menurut Britannica, kawasan ini dibangun sebagai pusat komersial dan resor wisata, lalu berubah menjadi ruang yang tertutup dan nyaris membeku dalam waktu setelah konflik 1974.

Yang membuatnya menarik bukan hanya karena bangunan bangunannya kosong, tetapi karena Varosha menyatukan sejarah konflik, kebijakan internasional, dan perubahan lingkungan dalam satu lanskap. Di satu sisi, kawasan ini berada dalam sengketa politik yang terus dipantau PBB dan Uni Eropa. Di sisi lain, alam perlahan mengisi celah yang ditinggalkan manusia, dari semak liar hingga fauna pesisir.

1. Varosha pernah menjadi mesin wisata Siprus

Varosha (pexels.com/Kürşat Kuzu)

Sebelum 1974, Varosha dikenal sebagai kawasan wisata yang hidup. Britannica mencatat bahwa daerah ini berkembang sebagai pusat komersial dan resor di Famagusta, sementara National Geographic menggambarkannya sebagai tempat liburan yang pernah menampung sekitar 25.000 pencari hiburan.

Kondisi itu menunjukkan betapa kuatnya ekonomi pesisir di Mediterania timur pada masa itu. Lokasi tepi laut, iklim hangat, dan arus wisatawan membuat Varosha tumbuh cepat. Karena itu, perubahan yang terjadi setelah 1974 terasa ekstrem, bukan sekadar penurunan bertahap seperti kota wisata lain.

2. Kota ini berhenti mendadak setelah intervensi 1974

Varosha (commons.wikimedia.org/Mihai DZ)

Britannica menyebut bahwa setelah intervensi Turki pada 1974, Varosha ditutup bagi warga sipil dan aktivitas wisata berhenti. Dari sudut pandang sejarah perkotaan, inilah yang menjadikan Varosha berbeda dari kawasan yang ditinggalkan secara perlahan. Kota ini tidak habis karena proses ekonomi, melainkan dibekukan oleh peristiwa politik dan militer.

Ketika sebuah kawasan kehilangan fungsi hunian dan perawatan rutin, kerusakan fisik biasanya berjalan cepat. Atap bocor, logam berkarat, kaca pecah, dan dinding dibiarkan terbuka terhadap cuaca. Dalam Varosha, proses itu terjadi selama puluhan tahun, sehingga citranya berubah menjadi kota hantu yang paling terkenal di Mediterania timur.

3. Status Varosha tetap dikunci oleh resolusi internasional

Varosha (commons.wikimedia.org/Zairon)

Persoalan Varosha tidak berhenti pada urusan bangunan kosong. UN Web TV mencatat bahwa Dewan Keamanan PBB pada 2022 menyoroti aktivitas tanpa izin di buffer zone dan menyatakan penyesalan atas langkah langkah sepihak terkait Varosha sejak Oktober 2020. PBB juga meminta penghormatan terhadap integritas zona penyangga.

Uni Eropa juga menegaskan hal serupa. Dalam deklarasi 2021, Dewan Uni Eropa merujuk pada Resolusi 550 tahun 1984 dan Resolusi 789 tahun 1992, yang memandang upaya menetapkan penduduk selain penghuni asal sebagai hal yang tidak dapat diterima, serta meminta area itu diserahkan ke administrasi PBB.

4. Alam perlahan mengambil alih ruang kosongnya

Varosha (commons.wikimedia.org/Çınar Civan)

IWM mencatat bahwa selama bertahun tahun kawasan ini tidak sepenuhnya mati, karena semak kecil muncul di pantai, halaman hotel yang dulu rapi ditumbuhi perdu liar, dan berbagai flora seperti kaktus mulai menyebar. Dalam lanskap yang kosong dari aktivitas manusia, tumbuhan justru menemukan ruang baru untuk bertahan.

Fenomena ini memperlihatkan cara ekosistem merespons gangguan besar. Saat tekanan manusia berkurang, spesies pionir seperti semak dan kaktus sering lebih cepat menguasai ruang terbuka. IWM bahkan menyebut adanya babutsa, jenis kaktus yang buahnya manis, serta catatan bahwa virus pada tanaman itu kemudian menyebar ke kebun kebun di Famagusta.

5. Varosha juga pernah dibayangkan sebagai kota hijau

Varosha (unsplash.com/Steffen Lemmerzahl)

National Geographic melaporkan bahwa ada gagasan untuk mengubah Varosha menjadi kota hijau yang memadukan pangan, energi alternatif, dan desain ekologis. Dalam bayangan itu, reruntuhan bukan akhir, melainkan bahan dasar untuk urban renewal dan peace building.

Gagasan tersebut penting karena memperlihatkan bahwa Varosha bukan hanya situs masa lalu, melainkan laboratorium simbolis tentang bagaimana kota pascakonflik bisa dibaca ulang. Dari resor mewah, kota terkunci, lalu ruang kosong yang ditumbuhi alam, Varosha menyimpan pelajaran besar tentang rapuhnya peradaban pesisir ketika politik, hukum, dan lingkungan bertemu di satu tempat.

Varosha menunjukkan bahwa sebuah kota dapat berubah total bukan hanya karena waktu, tetapi juga karena konflik dan keputusan politik. Di balik tembok dan pagar yang membungkamnya selama puluhan tahun, tersimpan kisah tentang wisata, identitas, hukum internasional, dan daya pulih alam yang terus bekerja tanpa perlu banyak suara.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team