ilustrasi worm moon yang signifikan secara astronomi (pexels.com/Ivan Tanchev)
Menurut data orbit bulan yang dihimpun oleh Time and Date, Worm Moon 2026 bukan termasuk supermoon besar karena tidak bertepatan dengan titik perige terdekatnya ke Bumi.
Supermoon biasanya tampak sekitar 7% lebih besar dan 15% lebih terang dibanding purnama rata-rata. Namun Worm Moon 2026 berada dalam kisaran jarak normal orbit elips bulan.
Meski begitu, signifikansinya tidak terletak pada ukuran visual, melainkan konteks waktunya, yaitu dekat dengan ekuinoks dan menjadi referensi kalender religius. Kadang, yang membuat fenomena langit penting bukan intensitas cahayanya, tetapi posisi temporalnya dalam sistem peradaban manusia.
Worm Moon Maret 2026 adalah bukti bahwa langit bukan sekadar latar belakang malam. Ia adalah jam kosmik yang telah dipakai manusia selama ribuan tahun—untuk bertani, merayakan musim, hingga menentukan hari raya.
Di Indonesia, mungkin kita tidak melihat cacing muncul dari salju yang mencair. Tapi ketika kamu menatap bulan purnama Maret nanti, kamu sedang menyaksikan fenomena yang menghubungkan ekologi, astronomi, dan sejarah iman dalam satu lingkar cahaya yang sama. Dan itu, jauh lebih magis daripada sekadar bulan biasa.