Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
ilustrasi produk makeup masa kini, hasil evolusi panjang kecantikan
ilustrasi produk makeup masa kini, hasil evolusi panjang kecantikan (unsplash.com/leva Vi)

Intinya sih...

  • Makeup sudah dikenal sejak 6000 SM di Mesir Kuno sebagai bagian dari ritual keagamaan dan simbol status serta perlindungan diri.

  • Pada masa Yunani dan Romawi Kuno, kecantikan identik dengan kulit putih bersih yang dianggap melambangkan kemurnian dan status tinggi.

  • Pada Abad Pertengahan, makeup dianggap sebagai sesuatu yang berdosa oleh gereja, namun perempuan tetap mencari cara untuk tampil menarik tanpa melanggar aturan moral.

Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Sejak ribuan tahun lalu, manusia sudah mengenal seni merias wajah. Makeup bukan sekadar alat untuk mempercantik diri, tetapi juga memiliki makna sosial, budaya, dan spiritual. Di berbagai peradaban, riasan wajah menjadi simbol status, kepercayaan, hingga perlindungan diri dari hal-hal yang dianggap jahat. Seiring waktu, fungsi dan arti makeup terus berubah mengikuti perkembangan zaman dan cara pandang manusia terhadap kecantikan.

Kini, makeup telah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari dan cara seseorang mengekspresikan diri. Dari sekadar alat ritual hingga menjadi bentuk kebebasan dan kreativitas, sejarah panjang makeup menyimpan banyak cerita menarik di balik tiap goresan warna dan kuasnya. Untuk memahami bagaimana perjalanan itu terjadi, yuk kita telusuri perjalanan panjang makeup dari masa ke masa.

1. Mesir Kuno, awal semua cerita makeup dimulai

potret topeng mumi Mesir kuno dengan riasan mata khas kohl hitam (commons.wikimedia.org/Yair Haklai)

Makeup sudah dikenal sejak sekitar 6000 SM di Mesir Kuno dan memiliki makna lebih dari sekadar mempercantik diri. Bagi masyarakat Mesir, riasan wajah merupakan bagian dari ritual keagamaan dan simbol kesucian yang menunjukkan kedekatan dengan para dewa. Baik pria maupun wanita memakainya, meski perbedaan status terlihat dari wadah dan alat rias yang digunakan. Kaum kaya memiliki kotak berhias gading atau permata, sementara rakyat biasa memakai pot tanah liat sederhana. Makeup juga diyakini memberi perlindungan dari roh jahat dan penyakit, sekaligus menjadi lambang kekuatan dan keindahan.

Riasan khas Mesir Kuno adalah kohl, bubuk hitam dari galena yang digunakan untuk melapisi mata. Selain mempercantik, kohl dipercaya menjaga kesehatan mata dan melindungi dari “mata jahat”. Mereka juga memakai serbuk malachite berwarna hijau di kelopak mata sebagai eyeshadow yang melambangkan dewa Horus dan Re sebagai simbol perlindungan. Gaya riasan ini menjadi ciri khas abadi dan menginspirasi tampilan cat-eye modern. Karena dianggap penting, wadah kohl bahkan sering dimakamkan bersama pemiliknya sebagai bekal menuju kehidupan setelah mati.

2. Yunani dan Romawi, cantik itu putih dan murni

potret wadah kosmetik dari masa Romawi kuno (commons.wikimedia.org/Dave & Margie Hill)

Pada masa Yunani dan Romawi Kuno, kecantikan identik dengan kulit putih bersih yang dianggap melambangkan kemurnian dan status tinggi. Untuk mendapatkannya, wanita memakai bubuk kapur atau timbal putih, meski bahan ini beracun dan bisa merusak kulit. Mereka juga menggunakan minyak zaitun dan madu untuk menjaga kelembapan kulit, serta sedikit warna merah di pipi dan bibir agar tampak segar tetapi tetap alami.

Meski makeup cukup populer, tidak semua orang memandangnya positif. Beberapa filsuf Romawi menganggap riasan berlebihan sebagai bentuk kesombongan. Namun, bagi kalangan bangsawan, makeup tetap menjadi simbol keanggunan dan kekayaan. Mereka bahkan menggunakan bahan mahal seperti saffron untuk eyeliner, sementara kalangan biasa memakai versi yang lebih sederhana. Gaya kulit pucat dan tampilan alami pun menjadi standar kecantikan yang bertahan lama, meski sering diperoleh dengan cara yang berisiko bagi kesehatan.

3. Abad Pertengahan, makeup adalah dosa

ilustrasi wanita abad pertengahan yang menggambarkan pandangan bahwa kecantikan harus tampak alami dan sopan (commons.wikimedia.org/Jean Hey)

Pada Abad Pertengahan, makeup dianggap sebagai sesuatu yang berdosa. Gereja yang memiliki pengaruh besar pada kehidupan masyarakat menilai bahwa merias diri secara mencolok adalah tindakan tidak bermoral dan bentuk pembangkangan terhadap nilai spiritual. Namun, perempuan tetap diharapkan tampil menarik untuk menarik perhatian calon suami, sehingga mereka harus berhati-hati menyeimbangkan antara kecantikan dan kesopanan.

Untuk memenuhi tuntutan itu, para wanita mulai berkreasi menggunakan bahan alami. Mereka membuat lipstik dari campuran akar dan buah beri yang dicampur dengan lemak hewan, menghasilkan warna lembut seperti merah muda pucat agar tetap terlihat alami. Dengan cara ini, mereka bisa menjaga penampilan tanpa melanggar batas moral yang ditetapkan oleh gereja.

4. 1920-an, lipstick jadi simbol pemberontakan

potret Clara Bow, ikon flapper 1920-an yang menjadikan lipstick simbol kebebasan dan ekspresi diri (commons.wikimedia.org/Otto Dyar (1892-1988))

Tahun 1920-an menjadi titik balik penting dalam sejarah makeup. Sebelumnya, perempuan dianggap tidak pantas mengenakan riasan yang mencolok, tetapi generasi flapper mengubah pandangan itu. Mereka tampil berani dengan bibir merah terang, pipi merona, dan riasan mata tegas sebagai simbol kebebasan dari aturan lama yang konservatif. Inovasi seperti tabung lipstik logam dan bedak padat juga membuat makeup lebih praktis digunakan dan mudah dibawa, sehingga menjadi bagian dari gaya hidup modern.

Lipstik merah kemudian menjadi lambang pemberontakan perempuan pada masa itu. Gaya bibir “cupid’s bow” yang dipopulerkan oleh aktris seperti Clara Bow mencerminkan kepercayaan diri dan semangat baru untuk mengekspresikan diri. Makeup tidak lagi sekadar alat untuk mempercantik penampilan, tetapi juga menjadi simbol kebebasan perempuan dalam menentukan cara mereka tampil dan dilihat oleh masyarakat.

5. Era modern, makeup untuk semua orang

ilustrasi aktivitas berdandan sebagai simbol kebebasan dan kepercayaan diri di era modern (pexels.com/Polina Tankilevitch)

Memasuki abad ke-20, makeup berkembang pesat berkat pengaruh Hollywood. Para aktris seperti Greta Garbo dan Marilyn Monroe menjadi ikon kecantikan yang menginspirasi jutaan perempuan di seluruh dunia. Produk seperti foundation dan maskara yang awalnya dibuat untuk kebutuhan film, kemudian menjadi bagian dari rutinitas sehari-hari. Berkat kemajuan teknologi dan iklan yang masif, makeup pun beralih dari simbol kelas sosial menjadi kebutuhan umum yang mudah dijangkau oleh semua kalangan.

Di abad ke-21, makeup menjadi cara bagi banyak orang untuk mengekspresikan diri dengan bebas. Banyak merek kosmetik yang menghadirkan produk untuk berbagai warna kulit, sehingga semua orang bisa merasa terwakili. Tren kosmetik ramah lingkungan juga semakin digemari seiring meningkatnya kesadaran terhadap keberlanjutan. Kini, makeup tidak hanya digunakan untuk mempercantik diri, tetapi juga untuk menunjukkan kepribadian dan nilai yang diyakini. Inovasi dan keterbukaan terhadap keberagaman membuat makeup di era modern benar-benar menjadi milik semua orang.

Perkembangan makeup menunjukkan bagaimana manusia menggunakan riasan untuk berbagai tujuan, mulai dari ritual hingga ekspresi diri. Dari Mesir Kuno sampai era modern, makeup telah menjadi bagian dari budaya dan kehidupan sehari-hari. Saat ini, makeup tidak hanya untuk mempercantik diri, tetapi juga untuk menunjukkan identitas dan kepribadian. Perjalanan panjang ini memperlihatkan bahwa makeup selalu berkembang mengikuti zaman dan cara pandang manusia terhadap kecantikan.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team