peta bekas wilayah uni soviet di tahun 1992 (flickr.com/Nathan Hughes)
Tanda-tanda keruntuhan Uni Soviet sebenarnya sudah mulai terlihat sejak tahun 1960an ketika jutaan penduduknya menderita kelaparan. Dilansir dari History Channel, industrialisasi besar-besaran yang digaungkan pemerintah membuat masyarakat sipil sampai tidak memiliki akses terhadap kebutuhan dasarnya. Di sisi lain, para petinggi Partai Komunis menikmati kekayaan karena kebijakan ekonomi terpusatnya.
Pada tahun 1985, Uni Soviet di bawah pimpinan Mikhail Gorbachev menerapkan dua kebijakan yaitu Glasnost atau keterbukaan hak politik rakyat Soviet dan Perestroika yaitu reformasi menuju sistem ekonomi komunis-kapitalis. Kedua kebijakan ini tidak membuahkan hasil dalam memecahkan masalah Uni Soviet. Kebebasan berpolitik di era Gorbachev justru memunculkan gerakan separatis yang ingin memisahkan diri dari Uni Soviet.
Dilansir dari Ohio State University, sebanyak 15 wilayah Uni Soviet mendeklarasikan kemerdekaaannya menjelang akhir 1991. Pada 25 Desember 1991, Gorbachev mundur dari jabatannya sebagai presiden Uni Soviet. Peristiwa ini sekaligus menjadi pertanda berakhirnya era Uni Soviet dan berdirinya Republik Rusia di bawah pimpinan Boris Yeltsin.
Peristiwa bersejarah ini juga memberikan pengaruh pada sejarah bangsa Indonesia, lho. Runtuhnya Uni Soviet turut memberi jalan Indonesia untuk terjun ke pasar bebas dan dimulainya liberalisasi ekonomi.