Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Lukisan "The Scream" karya Edvard Munch.
Lukisan "The Scream" karya Edvard Munch. (commons.wikimedia.org/FrDr)

Intinya sih...

  • Judul aslinya bukan "The Scream", dan sosok tersebut tidak sedang berteriak

  • Teori mumi Florence: Teka-teki sumber inspirasi Edvard Munch

  • Ada empat versi utama The Scream sebenarnya bukan sekadar satu lukisan tunggal, melainkan sebuah rangkaian karya yang terdiri dari empat versi asli yang dibuat antara tahun 1893–1910.

Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Edvard Munch (1863–1944) merupakan pelukis sekaligus pembuat cetakan legendaris asal Norwegia yang dikenal karena kemampuannya yang luar biasa dalam memvisualisasikan emosi manusia. Alih-alih melukis dunia luar secara realistis, Munch lebih memilih menggunakan prinsip Simbolisme akhir abad ke-19 untuk mengekspresikan pengalaman batin individu, seperti kesepian, kecemburuan, cinta, hingga keputusasaan yang mendalam. Gaya seninya yang sangat sugestif ini tidak hanya memberikan bentuk nyata pada perasaan manusia, tetapi juga menjadi pengaruh besar bagi perkembangan seni ekspresionisme di Jerman dan seluruh dunia.

The Scream (1893), merupakan salah satu karya Edvard Munch yang paling terkenal. Lukisan ikonik ini sering dianggap sebagai simbol universal dari ketakutan manusia modern yang tak terucapkan. Di balik warna langitnya yang membara dan lekuk garisnya yang mencekam, tersimpan berbagai rahasia yang jarang diketahui oleh publik.

Lantas, pesan tersembunyi apa yang sebenarnya ingin disampaikan Munch melalui mahakaryanya ini? Mari kita telusuri!

1. Judul aslinya bukan "The Scream", dan sosok tersebut tidak sedang berteriak

Lukisan "The Scream" karya Edvard Munch, yang terletak di Museum Nasional Norwegia, Oslo, Norwegia. (commons.wikimedia.org/Jorge Láscar)

Inspirasi lukisan ini bermula dari pengalaman pribadi Edvard Munch saat berjalan di sebuah jalan kecil bersama dua temannya di waktu senja. Ketika matahari terbenam, langit tiba-tiba berubah menjadi merah darah yang mencekam di atas perairan fjord yang gelap. Di momen itulah, Munch merasa sangat lelah dan gemetar karena didera rasa cemas yang hebat, seolah-olah ia merasakan ada sebuah "jeritan alam" yang dahsyat dan tak henti-hentinya melintas di sekelilingnya.

Berdasarkan pengalaman tersebut, para ahli menyimpulkan bahwa sosok dalam lukisan itu sebenarnya adalah Munch sendiri yang sedang mengalami serangan panik. Alih-alih berteriak, ia justru sedang menutup telinga dengan tangannya sebagai reaksi refleks untuk meredam jeritan alam yang ia rasakan. Hal ini membuktikan bahwa judul asli lukisan ini, Der Schrei der Natur (Jeritan Alam), merujuk pada suara besar dari lingkungan sekitar yang menekan batin sang pelukis, bukan suara vokal yang keluar dari mulutnya.

2. Teori mumi Florence: Teka-teki sumber inspirasi Edvard Munch

Mumi Peru, kemungkinan mumi Inca, dalam pameran museum. Mumi ini terkenal karena posturnya, dengan tangan terangkat ke wajahnya, yang membuat beberapa orang berspekulasi bahwa mumi ini mungkin menginspirasi lukisan terkenal Edvard Munch, The Scream. (commons.wikimedia.org/Francesco Bini)

Dilansir Discovery Channel, gagasan bahwa The Scream terinspirasi dari mumi Peru sebenarnya sudah muncul sejak tahun 1978. Awalnya, para ahli menduga Munch terinspirasi oleh mumi di Paris yang ia lihat bersama pelukis Paul Gauguin. Namun, temuan terbaru dari Universitas Florence menunjukkan bahwa mumi yang disimpan di museum mereka memiliki kemiripan yang jauh lebih luar biasa. Berbeda dengan mumi di Paris yang tangannya mengepal, mumi di Florence memiliki tangan terbuka yang menempel di kedua sisi wajah—posisi yang sangat identik dan dapat "ditumpangkan" secara pas dengan sosok dalam lukisan The Scream.

Meskipun kemiripan visualnya sangat kuat, teori ini masih bersifat hipotesis karena belum ditemukan dokumen resmi yang mencatat kunjungan Munch ke Florence sebelum ia melukis mahakaryanya pada tahun 1893. Namun, peneliti meyakini ada kemungkinan Munch melakukan kunjungan pribadi yang tidak tercatat melalui hubungannya dengan lingkaran intelektual di Italia. Terlepas dari perdebatan sejarah tersebut, para pakar sepakat bahwa pose tubuh mumi Peru yang terpelintir dan ekspresi keputusasaannya merupakan sumber yang sangat masuk akal bagi visualisasi emosi dalam karya Munch.

3. Ada empat versi utama

Lukisan "The Scream" karya Edvard Munch, versi pastel pada karton. Versi ini dianggap sebagai versi paling awal dari The Scream, terlihat lukisan ini dibuat sebagai sketsa di mana Munch memetakan esensi dari komposisi lukisan. (commons.wikimedia.org/Nurtenge)

The Scream sebenarnya bukan sekadar satu lukisan tunggal, melainkan sebuah rangkaian karya yang terdiri dari empat versi asli yang dibuat antara tahun 1893–1910. Edvard Munch menggunakan berbagai media berbeda untuk setiap versinya, mulai dari cat minyak, tempera, pastel, hingga krayon di atas karton sebagai bagian dari proyek seninya yang bertajuk "The Frieze of Life". Selain lukisan tangan, Munch juga membuat versi cetakan litografi agar gambar ikonik ini dapat direproduksi secara luas dan dikenal oleh masyarakat dunia melalui berbagai publikasi.

Karya-karya legendaris ini kini tersebar di beberapa tempat penting seperti Galeri Nasional dan Museum Munch di Oslo, Norwegia. Keunikan dan nilai sejarahnya membuat lukisan ini sangat diincar, terbukti dengan adanya catatan dua kali pencurian versi yang berbeda sejak tahun 1994 sebelum akhirnya ditemukan kembali. Nilai ekonominya pun sangat fantastis, pada tahun 2012, salah satu versi pastelnya mencatat rekor dunia dengan terjual seharga hampir 1,1 triliun rupiah dalam sebuah pelelangan di New York.

4. Ada "pesan rahasia" di sudut lukisan

Tulisan tangan pada lukisan "The Scream" karya Edvard Munch. (Nasjonalmuseet/Børre Høstland)

Selama bertahun-tahun, muncul perdebatan mengenai tulisan tangan kecil berbunyi “Kan kun være malet af en gal Mand!” yang artinya "Hanya bisa dilukis oleh orang gila!" yang ditemukan pada sudut lukisan The Scream versi tahun 1893. Awalnya, banyak yang mengira itu adalah aksi vandalisme oleh penonton yang marah. Namun, teknologi inframerah dari Museum Nasional Norwegia baru-baru ini mengonfirmasi bahwa tulisan tersebut adalah asli milik Edvard Munch sendiri. Hal ini dibuktikan melalui analisis sistematis yang menunjukkan bahwa tulisan tangan tersebut identik dengan catatan harian dan surat-surat pribadi sang seniman.

Pesan tersembunyi ini diduga ditulis Munch sebagai respons ironis terhadap kritik pedas masyarakat yang meragukan kesehatan mentalnya saat lukisan tersebut pertama kali dipamerkan. Pada masa itu, Munch memang sangat tertekan oleh persepsi publik dan ketakutannya akan penyakit mental keturunan yang dialami keluarganya. Dengan menulis kalimat tersebut, Munch tidak sedang mengakui dirinya gila, melainkan sedang menunjukkan kendali atas emosinya dan balik menyindir mereka yang telah menghakiminya dengan kejam.

5. Warna langit diduga terinspirasi dari letusan Gunung Krakatau di Indonesia

Lukisan "The Scream" karya Edvard Munch. (commons.wikimedia.org/Edvard Munch (1863–1944)/Mariordo (Mario Roberto Durán Ortiz))

Secara visual, lukisan The Scream terbagi menjadi tiga bagian utama, yaitu jembatan kayu yang lurus dan tegas, pemandangan garis pantai Oslofjord yang bergelombang, serta langit yang dipenuhi garis melengkung berwarna oranye dan merah menyala. Sosok utama di latar depan digambarkan dengan lekuk tubuh yang menyatu dengan aliran lanskap di belakangnya, sehingga menciptakan kesan bahwa ia sedang terseret dalam pusaran emosi. Kontras antara garis jembatan yang kaku dan langit yang bergejolak memperkuat suasana kecemasan eksistensial atau angst yang mencekam manusia modern.

Warna langit yang tampak tidak alami dan dramatis tersebut diduga kuat terinspirasi dari kejadian nyata, yakni debu vulkanik akibat letusan dahsyat Gunung Krakatau di Indonesia pada tahun 1883. Letusan tersebut menghasilkan fenomena matahari terbenam yang sangat merah dan luar biasa di seluruh Eropa selama berbulan-bulan. Selain itu, Munch mungkin juga terinspirasi oleh formasi unik awan mutiara yang sering muncul di langit Norwegia saat musim dingin, yang kemudian ia ubah menjadi simbol kegelisahan batin yang mendalam melalui karyanya.

6. Masalah noda putih yang misterius

Noda pada lukisan "The Scream" karya Edvard Munch, yang terlihat di bawah bahu kanan, telah diidentifikasi sebagai lilin. (commons.wikimedia.org/Richard Mortel)

Selama bertahun-tahun, terdapat noda putih misterius pada bahu sosok utama dalam lukisan The Scream versi tahun 1893. Banyak orang sebelumnya berspekulasi bahwa noda tersebut adalah kotoran burung karena Munch dikenal sering melukis di luar ruangan dan membiarkan karyanya terkena elemen alam. Namun, para konservator meragukan teori ini karena noda tersebut tidak terlihat korosif seperti kotoran burung dan berada di atas permukaan cat tanpa merusak karton yang rapuh.

Misteri ini akhirnya terpecahkan melalui penelitian tim ilmuwan dari Universitas Antwerp menggunakan teknologi difraksi sinar-X. Hasil analisis laboratorium membuktikan bahwa zat putih tersebut bukanlah kotoran burung, melainkan tetesan lilin. Para peneliti menyimpulkan bahwa noda tersebut berasal dari lilin yang tidak sengaja menetes di studio Munch saat ia sedang bekerja, sekaligus menutup perdebatan panjang mengenai "jejak alam" yang dianggap mengotori mahakarya tersebut.

The Scream bukan sekadar lukisan tentang rasa takut, melainkan cerminan mendalam dari kerapuhan jiwa manusia yang berhasil diabadikan oleh Edvard Munch. Meskipun mahakarya ini telah berkali-kali menjadi target pencurian drama dunia seni dan menyimpan berbagai misteri, tetapi kekuatannya untuk menyentuh perasaan siapa pun yang melihatnya tetap tidak pudar. Hingga hari ini, jeritan tanpa suara dari Oslo tersebut terus bergema, mengingatkan kita bahwa seni adalah jembatan paling jujur untuk mengekspresikan emosi yang paling sulit sekalipun.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team