Nekropolis Giza di Mesir, yang menampilkan tiga piramida utama, yakni Piramida Agung Giza (depan), Piramida Khafre (tengah), dan Piramida Menkaure (belakang). (unsplash.com/2H Media)
Banyak orang mengira kalau piramida dibangun oleh budak, tapi penemuan terbaru justru menunjukkan hal yang berbeda. Para arkeolog menemukan sisa-sisa kamp tempat tinggal ribuan pekerja yang terorganisir dengan rapi di dekat lokasi pembangunan. Mereka adalah tenaga kerja terampil dan warga yang ikut serta dalam proyek besar ini, bahkan ada perkiraan yang menyebutkan sekitar 13.000 hingga 40.000 orang bekerja saat proyek sedang di puncaknya.
Ada teori menarik yang bilang kalau banyak dari mereka adalah petani yang membantu membangun piramida saat Sungai Nil sedang banjir dan ladang gak bisa digarap. Namun, ada juga tim inti yang terdiri dari sekitar 20.000 pekerja tetap, mulai dari tukang batu sampai tenaga pendukung seperti dokter, tukang roti, hingga pendeta. Para pekerja ini dipenuhi kebutuhan hidupnya dan diberikan fasilitas yang layak, jauh dari kesan kerja paksa seperti yang sering diceritakan.
Logistik untuk mengurus ribuan orang ini tentu butuh keahlian administrasi yang luar biasa hebat di zamannya. Penggalian di sekitar area tersebut mengungkapkan adanya desa pekerja lengkap dengan toko roti, bengkel, hingga makam khusus untuk para pengrajin. Semua bukti ini menunjukkan kalau pembangunan piramida adalah sebuah proyek nasional yang sangat terencana, di mana setiap pekerja punya peran penting dan didukung penuh oleh sistem yang profesional.