Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
7 Fakta Piramida Agung Giza, Keajaiban Dunia yang Penuh Misteri
Piramida Agung Giza, juga dikenal sebagai Piramida Khufu atau Piramida Cheops, yang terletak di dataran tinggi Giza di Mesir. (unsplash.com/Dilip Poddar)
  • Piramida Agung Giza dibangun sekitar 2560 SM untuk Firaun Khufu dengan 2,3 juta balok batu presisi tinggi, menunjukkan kehebatan teknik dan matematika Mesir Kuno.
  • Penelitian modern mengungkap bahwa piramida tidak dibangun oleh budak, melainkan pekerja terampil yang hidup dalam sistem kerja terorganisir dengan fasilitas lengkap di sekitar lokasi proyek.
  • Selain menjadi Situs Warisan Dunia UNESCO, Piramida Giza tetap menarik wisatawan global berkat misteri ruang tersembunyi dan keselarasan posisinya dengan sabuk rasi bintang Orion.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Piramida Agung Giza sudah gak asing lagi bagi kita semua. Sebagai piramida terbesar di Mesir yang terletak di kawasan Giza, bangunan bersejarah ini memegang gelar sebagai yang tertua dari Tujuh Keajaiban Dunia Kuno. Hebatnya lagi, dari semua keajaiban dunia tersebut, hanya piramida ini yang sebagian besar strukturnya masih berdiri kokoh dan utuh sampai sekarang.

Lantas, bagaimana cara orang zaman dulu membangun struktur sepresisi ini tanpa bantuan teknologi mesin modern? Yuk, kita bedah lebih dalam sejarah dan fakta unik Piramida Agung Giza dalam artikel ini!

1. Terdiri dari jutaan balok batu

Tampilan jarak dekat dari blok batu Piramida Agung Giza. (commons.wikimedia.org/Warren LeMay)

Piramida Agung Giza dibangun sekitar tahun 2560 SM sebagai tempat peristirahatan terakhir Firaun Khufu. Skala pembangunannya benar-benar luar biasa karena melibatkan sekitar 2,3 juta balok batu. Bayangkan saja, satu balok rata-rata beratnya 2,5 ton, bahkan ada balok granit di bagian dalam yang beratnya mencapai 80 ton. Hebatnya lagi, batu-batu raksasa itu harus didatangkan dari wilayah Aswan yang jaraknya sejauh 800 kilometer dari lokasi proyek.

Tingkat presisi bangunan ini juga bikin takjub karena posisinya sejajar hampir sempurna dengan arah mata angin. Sambungan antar batu di bagian dalamnya sangat rapat dengan celah hanya sekitar 0,5 milimeter, alias tipis sekali. Para pekerja zaman dulu menyusun batu yang paling besar dan berat di lapisan paling bawah, lalu semakin tinggi bangunannya, ukuran batu yang digunakan pun dibuat semakin mengecil dan ringan.

Selain kokoh, desain piramida ini menggunakan perhitungan matematika yang sangat jenius pada masanya. Orang Mesir Kuno menggunakan sistem ukur bernama seked untuk menentukan kemiringan bangunan agar tetap stabil. Banyak ahli berpendapat bahwa perbandingan antara keliling dan tinggi piramida ini sudah memperhitungkan rumus matematika 2𝜋 dan rasio emas dengan tingkat akurasi yang sangat tinggi.

2. Punya delapan sisi, bukan empat!

Pemandangan udara Kompleks Piramida Giza di Mesir. (unsplash.com/Dario Morandotti)

Kalau dilihat sekilas, Piramida Agung Giza memang tampak punya empat sisi seperti piramida pada umumnya. Tapi sebenarnya, bangunan bersejarah ini punya delapan sisi karena ada lekukan tipis di tengah-tengah setiap sisinya yang menjorok ke dalam dari bawah sampai ke puncak. Keunikan ini sulit sekali dilihat dari bawah dan biasanya baru kelihatan jelas dari udara saat momen tertentu, seperti saat matahari terbit atau terbenam di hari ekuinoks yang menciptakan bayangan khusus di lekukannya.

Penemuan ini terjadi secara gak sengaja pada tahun 1940 saat seorang pilot Inggris sedang terbang melintas dan memotret cekungan tersebut. Para ahli punya beberapa teori soal fungsinya, mulai dari teknik untuk memperkuat struktur supaya lapisan luar batu gak gampang geser, hingga anggapan bahwa itu adalah bagian dari rancangan getaran bangunan. Meski ada juga yang menganggapnya sebagai kesalahan desain, banyak peneliti setuju kalau lengkungan ini sengaja dibuat agar konstruksi piramida jauh lebih stabil dan kokoh.

3. Dulu, warnanya bukan cokelat seperti sekarang

Batu pelapis yang masih tersisa di Piramida Agung Giza. (commons.wikimedia.org/Jon Bodsworth/egyptarchive.co.uk)

Dahulu, Piramida Agung punya penampilan yang beda jauh dengan yang kita lihat sekarang. Awalnya, seluruh permukaan piramida ditutupi lapisan batu kapur putih yang dipoles sangat halus sampai mengilap. Saat terkena sinar matahari, bangunan ini bakal memantulkan cahaya dengan sangat terang layaknya cermin raksasa. Lapisan luar ini dipahat dengan sangat presisi dan ditempelkan ke bagian inti bangunan menggunakan semen kuno atau mortar supaya benar-benar kokoh.

Sayangnya, penampilan putih berkilau itu mulai hilang seiring berjalannya waktu, terutama karena faktor alam dan sejarah. Banyak batu pelapisnya yang lepas akibat gempa bumi besar, lalu sisanya sengaja diambil oleh penguasa di masa lalu untuk membangun masjid dan istana di Kairo. Sekarang, kita cuma bisa melihat tumpukan batu inti yang berwarna cokelat, meski di beberapa titik bagian bawah masih ada sisa-sisa batu pelapis asli yang tertanam di tempatnya.

4. Bukan dibangun oleh budak

Nekropolis Giza di Mesir, yang menampilkan tiga piramida utama, yakni Piramida Agung Giza (depan), Piramida Khafre (tengah), dan Piramida Menkaure (belakang). (unsplash.com/2H Media)

Banyak orang mengira kalau piramida dibangun oleh budak, tapi penemuan terbaru justru menunjukkan hal yang berbeda. Para arkeolog menemukan sisa-sisa kamp tempat tinggal ribuan pekerja yang terorganisir dengan rapi di dekat lokasi pembangunan. Mereka adalah tenaga kerja terampil dan warga yang ikut serta dalam proyek besar ini, bahkan ada perkiraan yang menyebutkan sekitar 13.000 hingga 40.000 orang bekerja saat proyek sedang di puncaknya.

Ada teori menarik yang bilang kalau banyak dari mereka adalah petani yang membantu membangun piramida saat Sungai Nil sedang banjir dan ladang gak bisa digarap. Namun, ada juga tim inti yang terdiri dari sekitar 20.000 pekerja tetap, mulai dari tukang batu sampai tenaga pendukung seperti dokter, tukang roti, hingga pendeta. Para pekerja ini dipenuhi kebutuhan hidupnya dan diberikan fasilitas yang layak, jauh dari kesan kerja paksa seperti yang sering diceritakan.

Logistik untuk mengurus ribuan orang ini tentu butuh keahlian administrasi yang luar biasa hebat di zamannya. Penggalian di sekitar area tersebut mengungkapkan adanya desa pekerja lengkap dengan toko roti, bengkel, hingga makam khusus untuk para pengrajin. Semua bukti ini menunjukkan kalau pembangunan piramida adalah sebuah proyek nasional yang sangat terencana, di mana setiap pekerja punya peran penting dan didukung penuh oleh sistem yang profesional.

5. Ditemukan rongga raksasa sepanjang 30 meter

Tampilan potongan timur-barat Piramida Agung dan tampilan depan area Chevron sisi utara. a Ruang bawah tanah, b ruang ratu, c galeri besar, d ruang raja, e koridor menurun, f koridor menaik, g koridor al-Ma'mun, h area Chevron sisi utara, i ScanPyramids Big Void dengan hipotesis horizontal (arsiran merah) dan hipotesis miring (arsiran hijau) seperti yang diterbitkan pada November 2017. (commons.wikimedia.org/https://www.nature.com/articles/s41467-023-36351-0)

Di dalam Piramida Agung, sebenarnya ada tiga ruangan utama yang sudah lama diketahui, yaitu Kamar Raja, Kamar Ratu, dan Kamar Bawah Tanah. Namun, pada tahun 2017, para ilmuwan yang menggunakan teknologi partikel kosmik canggih menemukan kejutan baru berupa rongga raksasa sepanjang 30 meter di atas area Galeri Agung. Ruangan yang dijuluki "The Big Void" ini diperkirakan sudah tertutup rapat selama 4.500 tahun sejak masa pemerintahan Firaun Khufu, dan sampai detik ini belum ada yang tahu pasti apa isinya atau untuk apa ruangan itu dibuat.

Penemuan ruang rahasia ini adalah bagian dari proyek besar bernama The Scan Pyramids Project yang memang fokus mencari celah-celah tersembunyi menggunakan teknologi modern. Meskipun lokasinya sangat sulit dijangkau dan misterinya sudah bertahan ribuan tahun, para peneliti percaya bahwa teknologi masa kini perlahan bisa membongkar rahasia tersebut.

6, Posisinya dianggap sejajar dengan sabuk rasi bintang orion

Susunan bintang pada poros Piramida Agung Giza. (commons.wikimedia.org/Luke Hancock)

Pembangunan kompleks Piramida Giza ternyata punya hubungan erat dengan benda langit dan gak dibuat secara asal-asalan. Tiga piramida terbesar di sana, yaitu Khufu, Khafre, dan Menkaure, posisinya dianggap sejajar dengan tiga bintang yang ada di sabuk rasi bintang Orion. Bagi bangsa Mesir Kuno, rasi bintang Orion sangat penting karena melambangkan Dewa Osiris, yang dipercaya sebagai dewa kelahiran kembali dan pelindung kehidupan setelah kematian.

Ide tentang keselarasan ini dikenal sebagai Teori Korelasi Orion, yang menyebutkan bahwa para pembangun piramida sengaja meniru peta bintang di langit untuk diterapkan ke bumi. Dalam teori ini, bintang Alnitak berpasangan dengan Piramida Agung, bintang Alnilam dengan piramida Khafre, dan bintang Mintaka dengan piramida Menkaure. Bahkan, ada yang berpendapat bahwa aliran Sungai Nil di dekatnya sengaja diposisikan sebagai perwakilan dari galaksi Bima Sakti di daratan Mesir.

7. Hampir selalu ramai oleh turis

Momen turis di Piramida Agung Giza. (commons.wikimedia.org/Jorge Láscar)

Piramida Giza, terutama Piramida Agung Khufu, sekarang sudah punya status sebagai Situs Warisan Dunia UNESCO dan tetap jadi ikon paling hits di Mesir. Walaupun usianya sudah ribuan tahun, bangunan raksasa ini masih berdiri sangat kokoh meski permukaan luarnya terlihat lebih lapuk dibanding dulu.

Sebagai pusat wisata yang sangat populer, kawasan ini hampir selalu ramai oleh turis dari berbagai negara, apalagi kalau hari libur atau akhir pekan. Pengunjung yang datang ke sini bisa melihat kemegahannya dari dekat, berkeliling naik unta, kuda, atau delman, bahkan bisa masuk langsung ke dalam piramida dengan tiket khusus. Karena ramainya orang, pihak keamanan sangat ketat mengatur akses dan membatasi jumlah orang yang boleh masuk ke area tertentu demi menjaga kelestarian situs bersejarah ini.

Misteri dan kemegahan Piramida Agung Giza memang selalu menarik untuk dibahas karena banyak sisi unik yang belum terpecahkan. Kamu bisa mengunjungi langsung kawasan ini di Mesir untuk membuktikan sendiri betapa luar biasanya arsitektur kuno ini.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team