Para perwira Jepang menyerah kepada pasukan Sekutu, khususnya personel Angkatan Darat AS dari Divisi ke-93, di pulau Morotai pada tanggal 27 Agustus 1945. (commons.wikimedia.org/Hugh Kennare/Australian War Memorial)
Teruo Nakamura adalah prajurit Jepang asal Taiwan yang bertugas di Pulau Morotai saat Perang Dunia II. Ketika pasukan Sekutu menguasai pulau tersebut pada 1944, ia melarikan diri ke hutan dan dinyatakan telah tewas. Namun, Nakamura sebenarnya terus bertahan hidup di pedalaman selama 30 tahun karena tidak mengetahui bahwa perang telah berakhir.
Selama masa persembunyiannya, Nakamura hidup mandiri di sebuah gubuk kecil dan bercocok tanam untuk bertahan hidup. Ia sempat dibantu secara rahasia oleh seorang warga lokal bernama Baicoli yang rutin membawakannya bahan makanan. Rahasia ini dijaga selama puluhan tahun hingga akhirnya putra Baicoli, Luther, melaporkan keberadaan Nakamura kepada pihak berwenang karena khawatir tidak ada lagi yang akan mengurus prajurit tua tersebut.
Pada Desember 1974, tim TNI Angkatan Udara melakukan misi pencarian rahasia untuk menjemputnya. Tim berhasil menemukan gubuknya dan menyanyikan lagu kebangsaan Jepang, Kimigayo, serta mengibarkan bendera untuk meyakinkannya bahwa mereka bukan musuh. Meski sempat terkejut dan bersiaga dengan senjatanya, Nakamura akhirnya menyerah setelah dijelaskan bahwa Jepang telah kalah dan Indonesia sudah merdeka.
Penemuan Nakamura memicu perdebatan internasional terkait status kewarganegaraannya sebagai orang Taiwan yang membela Jepang. Meskipun sempat ada kendala diplomatik dan masalah tunjangan, ia akhirnya dipulangkan ke Taiwan untuk bertemu kembali dengan keluarganya. Nakamura menjalani sisa hidupnya di kampung halaman hingga wafat pada tahun 1979 akibat penyakit kanker.