Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
ilustrasi jaguarundi si kucing berang-berang misterius
ilustrasi jaguarundi si kucing berang-berang misterius (inaturalist.org/gabriel_arroyo)

Intinya sih...

  • Jaguarundi memiliki bentuk tubuh yang mirip berang-berang, dengan tubuh panjang, ramping, kaki pendek, kepala kecil, dan ekor panjang. Mereka juga memiliki variasi warna bulu yang unik.

  • Jaguarundi aktif di siang hari (diurnal) dan memiliki pola berburu yang luwes serta lebih aktif di siang hari daripada kucing liar lainnya.

  • Jaguarundi memiliki kemampuan vokal yang luar biasa dengan setidaknya 13 suara berbeda untuk komunikasi internal. Mereka juga memiliki wilayah persebaran yang luas dari Meksiko hingga Argentina Selatan.

Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Jaguarundi (Herpailurus yagouaroundi) adalah salah satu kucing liar paling unik dan sering disalahpahami di dunia satwa. Tidak seperti kucing besar lain dari keluarga Felidae yang kita kenal—seperti jaguar, ocelot, atau puma—jaguarundi punya bentuk tubuh yang mengejutkan. Panjang, ramping, kaki pendek, kepala kecil dan telinga bulat, sehingga sering dibandingkan penampilannya dengan berang-berang atau musang, bukan kucing biasa. Penampilan fisik yang berbeda ini bahkan membuat jaguarundi mendapatkan julukan ‘otter-cat’ (kucing berang-berang) di beberapa kawasan Meksiko, karena tubuhnya yang elongatif dan kemampuannya berenang dengan luwes seperti mamalia semiakuatik.

Namun, keanehan jaguarundi bukan hanya soal bentuknya yang nyeleneh. Satwa ini juga memiliki perilaku, pola aktivitas harian, komunikasi, persebaran, dan adaptasi yang tidak biasa dibandingkan sepupu-sepupunya di keluarga kucing. Dari cara berburu yang lebih aktif di siang hari hingga ragam suara yang lebih beragam daripada kebanyakan kucing liar, jaguarundi terus menunjukkan bahwa dunia kucing liar jauh lebih beragam dan tak terduga daripada yang sering kita bayangkan. Yuk, kita simak 7 fakta paling unik dan mengejutkan tentang jaguarundi—baik buat kamu yang cinta sains, satwa, maupun sekadar ingin tahu hal menarik tentang alam liar.

1. Tubuhnya mirip berang-berang, bukan kucing

ilustrasi jaguarundi yang badannya mirip berang-berang (inaturalist.org/Ben Jobson)

Jaguarundi punya bentuk tubuh yang sangat berbeda dari kucing lain. Tubuhnya panjang dan ramping, kaki pendek, kepala kecil dengan moncong datar, serta ekor yang sangat panjang, sehingga banyak orang yang pertama kali melihatnya justru menyangka ini adalah berang-berang yang besar atau musang raksasa. Paruh tubuh yang unik ini bukan hanya penampilan, hal tersebut mencerminkan adaptasi jaguarundi untuk bergerak cepat di semak-semak terbuka dan vegetasi rendah—area yang sering kali menjadi tempat mereka berburu.

Lebih menariknya lagi, tubuh jaguarundi tidak memiliki corak tutul atau garis khas seperti kebanyakan kucing liar lainnya. Warna bulunya bisa berkisar dari abu-abu kehitaman hingga cokelat-kemerahan, dan dua varian warna ini dapat muncul dalam satu keluarga jaguarundi yang sama. Hal ini menunjukkan bahwa variasi warna bukanlah indikator usia atau jenis kelamin, tetapi hasil dari variasi genetik yang cukup unik di spesies ini.

Karena bentuk tubuhnya yang tidak ‘kucing banget’, beberapa masyarakat lokal bahkan menyebutnya dengan nama yang mencerminkan perpaduan berbagai mamalia, bukan hanya kucing. Perpaduan karakter ini membuat jaguarundi menjadi salah satu contoh evolusi bentuk tubuh yang paling tidak biasa di antara semua kucing liar di dunia.

2. Jaguarundi itu diurnal, hewan aktif di siang hari

ilustrasi jaguarundi hewan diurnal (inaturalist.org/Thibaud Aronson)

Berbeda dengan sebagian besar kucing liar yang aktif berburu pada malam hari (nokturnal) atau saat senja atau subuh (krepuskular), jaguarundi justru lebih aktif di siang hari (diurnal), terutama saat pagi hingga sore. Foto-foto dan rekaman kamera jebak memperlihatkan bahwa jaguarundi sering bergerak, berburu, dan menjelajahi wilayahnya dengan puncak aktivitas antara pagi dan sore hari.

Polanya ini memungkinkan jaguarundi menghindari kompetisi langsung dengan kucing lain seperti ocelot atau puma yang lebih aktif di malam atau senja, sehingga mereka bisa mengeksploitasi sumber daya yang tersedia di siang hari tanpa harus sering bertemu predator besar lain.

Aktivitas siang hari ini juga berkaitan erat dengan cara berburu jaguarundi yang sangat luwes. Mereka bisa menjelajah tanah lapang, semak, dan rumput rendah dengan kecepatan tinggi, sambil mencari mangsa di tempat yang lebih cerah daripada malam hari—sesuatu yang jarang dilakukan kucing liar lain.

3. Jaguarundi itu cerewet, ragam suaranya bikin kaget

ilustrasi jaguarundi yang cerewet (commons.wikimedia.org/Alena Houšková)

Satu hal yang memisahkan jaguarundi dari banyak kucing liar lain adalah kemampuan vokalnya yang luar biasa. Jaguarundi diketahui memiliki setidaknya 13 suara berbeda yang digunakan untuk komunikasi internal, termasuk purring (dengkuran), whistles (peluit), yaps (teriakan tajam), chattering, dan suara yang mirip kicauan burung.

Rentang suara ini jauh lebih variatif daripada yang umum di banyak spesies kucing, dan diperkirakan berfungsi untuk berkomunikasi antarindividu dalam berbagai konteks; seperti memberi peringatan, menyapa satu sama lain, atau memanggil anaknya.

Kesimpulannya, jaguarundi bukan hanya ‘berbicara’ seperti kucing pada umumnya. Ia memiliki pustaka vokal yang luas yang mencerminkan hubungan sosial dan adaptasi perilaku yang kompleks dalam kehidupan liar mereka.

4. Persebarannya sangat luas dari Meksiko ke Argentina Selatan

ilustrasi jaguarundi yang menyebar sangat luas (commons.wikimedia.org/Abujoy, Bodlina)

Jaguarundi memiliki wilayah persebaran yang sangat luas di Amerika Tengah dan Selatan, mulai dari Meksiko, seluruh Amerika Tengah, hingga bagian utara Argentina, Paraguay, Brasil, dan Uruguay. Mereka tinggal di beragam habitat, termasuk hutan hujan tropis, semak kering, savana, hingga daerah dekat sungai dan rawa.

Uniknya, meskipun wilayahnya luas, jaguarundi sering kali ditemukan dalam kepadatan populasi yang sangat rendah. Sering hanya 1 hingga 5 individu per 100 km² di banyak area studi. Hal ini menandakan kalau mereka jarang terlihat secara langsung oleh manusia atau ilmuwan.

Di beberapa bagian utara seperti Texas dan Arizona (AS), jaguarundi bahkan dianggap sangat langka hingga punah lokal, meskipun ada laporan tak resmi dari pengamatan beberapa individu di masa lalu.

5. Habitatnya fleksibel, dari lowland sampai pegunungan tinggi

ilustrasi jaguarundi yang habitatnya fleksibel (inaturalist.org/ferblafla)

Jaguarundi bukan hanya tinggal di satu tipe habitat saja. Mereka dikenal sebagai spesies yang sangat fleksibel. Bahkan, dapat hidup di hutan tropis lembap, semak semiarid, sabana basah, hingga tepi sungai, bahkan di dataran tinggi hingga 3.200 meter di beberapa bagian Andes.

Fleksibilitas ini menunjukkan bahwa jaguarundi mampu menyesuaikan gaya hidupnya untuk memanfaatkan berbagai sumber makanan dan kondisi vegetasi yang berbeda. Bahkan di kawasan yang sudah terfragmentasi oleh aktivitas manusia, mereka kadang bisa bertahan karena adaptasi mereka dalam mencari makanan di habitat sekunder dan area tepi vegetasi.

Namun, preferensi jaguarundi cenderung kepada lingkungan yang memiliki vegetasi cukup rendah dan tanah terbuka. Bukan hutan lebat yang rapat—sesuatu yang membedakannya dari banyak kucing liar lain yang lebih menyukai kawasan berkanopi tinggi.

6. Teritorial tapi terkadang sosial, tidak selalu soliter

ilustrasi jaguarundi yang tidak selalu teritorial (inaturalist.org/Martín Ferrari)

Jaguarundi umumnya dianggap soliter, artinya mereka hidup sendiri kecuali pada musim kawin atau ketika induk merawat anaknya. Namun, studi terbaru menunjukkan bahwa beberapa individu, terutama di Paraguay dan beberapa bagian lain, terlihat hidup berpasangan. Hal ini menunjukkan bahwa perilaku sosial mereka mungkin lebih fleksibel daripada penemuan sebelumnya.

Wilayah teritorial jaguarundi juga variatif, tergantung lingkungan dan ketersediaan sumber daya. Beberapa individu jantan memiliki area jelajah yang mencapai 88 hingga 100 km², sementara betina bisa memiliki area lebih kecil namun tetap luas.

Tingkah laku teritorial ini termasuk menandai wilayah dengan kencing, menggaruk, menggosok kepala, atau meninggalkan jejak bau, seperti kebanyakan kucing lainnya. Namun, caranya menunjukkan kombinasi perilaku kucing klasik dengan gaya unik jaguarundi.

7. Pemangsa serbabisa, dari tikus sampai ikan

ilustrasi jaguarundi yang jadi pemangsa serbabisa (inaturalist.org/COMUNA LAS BALSAS)

Jaguarundi adalah karnivora oportunistik yang makan beragam mangsa kecil, termasuk tikus, burung tanah, reptil, dan hewan kecil lainnya. Karena jaguarundi terkadang terlihat berenang dan berburu di dekat sumber air, mereka juga dilaporkan memangsa ikan kecil atau hewan yang berkaitan dengan habitat air.

Strategi berburu mereka melibatkan stalking (intai mangsa) dan pounce (loncatan ambush) yang efektif di vegetasi rendah. Dalam beberapa laporan, jaguarundi bahkan bisa memangsa mangsa yang relatif lebih besar, menunjukkan fleksibilitas taktis dalam mencari makanan.

Kemampuan makan yang beragam ini merupakan salah satu alasan jaguarundi bisa survive di habitat yang berbeda dengan komposisi mangsa yang tidak selalu sama.

Jaguarundi bukan sekadar ‘kucing yang mirip berang-berang’. Ia adalah fenomena evolusi dalam keluarga kucing liar yang menunjukkan bagaimana alam dapat menghasilkan bentuk tubuh, perilaku, dan strategi hidup yang tak terduga untuk menaklukkan berbagai habitat. Dari aktivitas siang harinya yang menantang stereotip perilaku kucing, sampai rentang suara yang beragam, jaguarundi menunjukkan bahwa keragaman satwa liar jauh lebih kompleks daripada yang sering kita kira.

Dalam kondisi alam yang terus berubah akibat tekanan manusia, jaguarundi tetap menjadi salah satu kucing liar yang paling adaptif sekaligus paling ditantang keberadaannya. Memahami lebih dalam tentang karakter dan kebutuhan ekologis jaguarundi bukan hanya menarik secara ilmiah, tetapi juga penting untuk upaya konservasi jangka panjang spesies ini, agar generasi mendatang tidak hanya membaca tentang jaguarundi sebagai anekdot sains, tapi juga melihatnya bebas berkeliaran di alam liar.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team