Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
7 Hal Ini Bisa Terjadi Jika COVID-19 Berakhir, Sudah Siap?
ekonomist.com.tr

Sejarawan Walter Scheidel dalam bukunya, The Great Leveler, pernah menulis bahwa, "Kesetaraan... dengan pengecualian yang paling langka, hanya akan muncul dalam penderitaan." Hal ini, tentunya, sangat relevan dengan kondisi saat ini di mana berbagai sektor kehidupan mengalami pukulan telak akibat pandemi COVID-19.

Kondisi ini pun menggambarkan penderitaan yang telah disebutkan oleh Scheidel, suatu periode ketika hidup kita dipenuhi dengan ketidakpastian. Walaupun sulit, masa ini akan memicu beberapa perubahan luar biasa dalam dunia kita. Berikut beberapa hal yang akan berubah karena COVID-19 di masa mendatang.

1. Universal basic income

newatlas.com

Satu tahun yang lalu, universal basic income (UBI) masih terlihat seperti "mimpi basah" bagi para pekerja. Namun untuk beberapa tahun ke depan, hal ini mungkin akan menjadi kenyataan di beberapa negara maju.

U.S. News melaporkan kalau Inggris telah berkomitmen untuk memberikan 80 persen tunjangan dari gaji pekerjanya, sementara Denmark akan membayar hingga 90 persen dari gaji pekerjanya. Di sisi lain, Amerika Serikat berencana mengirimkan cek senilai USD1.200 hampir ke setiap kantong orang dewasa yang hidup di sana.

Dalam waktu singkat, negara-negara di atas akan menjadi contoh tentang bagaimana kebijakan ini akan benar-benar mengentaskan masalah kemiskinan di kemudian hari.

2. Pelayanan kesehatan gratis secara global

martinhealth.org

Selain masalah pemberian gaji "gratis" secara universal, tampaknya pelayanan kesehatan secara gratis dan menyeluruh pun sedang dicanangkan oleh pemerintah dunia. Seperti yang telah diketahui, negara-negara di seluruh dunia mulai menganut konsep kedokteran yang sosialis setelah pandemi Flu Spanyol pada tahun 1918.

Singkatnya, hal itu menjadi salah satu dampak signifikan dari pandemi tersebut, di mana masyarakat dunia mulai menyadari kalau kesehatan satu orang akan memengaruhi kesehatan semua orang di lapisan yang berbeda. Di tengah pandemi COVID-19, diskusi pertama yang mengarah pada perawatan kesehatan universal pun dimulai.

Seperi dilansir New York Times, negara-negara besar seperti Amerika telah berjanji untuk melakukan tes COVID-19 secara gratis dan beberapa politisi di sana mendorong pengobatan gratis.

Hanya ada beberapa negara yang tidak memiliki perawatan kesehatan universal pada saat ini, tetapi pandemi COVID-19 bisa menjadi momen yang akan mendorong seluruh pemerintah untuk menerapkan layanan kesehatan gratis di negaranya.

3. WFH secara permanen

businessinsider.es

Menurut World Economic Forum, hanya 7 persen pekerja yang dapat bekerja dari rumah (work from home) sebelum COVID-19 merebak. Statistik ini berarti bahwa 93 persen pekerja lainnya tidak dapat bekerja dari rumah dan wajib bekerja di tempat kerja masing-masing.

Saat ini, WFH adalah suatu keharusan walau belum ada statistik yang jelas tentang berapa banyak pekerja yang telah melakukan WFH di seluruh dunia. Namun, sudah ada studi tentang kebijakan ini dan hasilnya sangat positif.

Satu studi dari Orange County Register menyebutkan kalau orang yang bekerja dari rumah memiliki produktivitas 16,8 hari lebih banyak dari biasanya. Walau tidak semua orang dapat bekerja dari rumah, setidaknya hal ini dapat mendorong kebijakan WFH permanen bagi beberapa bidang pekerjaan tertentu.

4. Penerapan sistem belajar daring

forbes.com

Hampir semua sekolah ditutup, khusunya di daerah dengan kasus COVID-19 yang tinggi. Kondisi ini pun mendorong para anak dan orang tua untuk beradaptasi dalam era pendidikan yang sama sekali baru. Untuk beberapa bulan ke depan, pembelajaran daring akan menjadi sesuatu yang normal.

COVID-19 juga membuat banyak orang tua beralih ke homeschooling. Jadi, jangan heran kalau nanti homeschooling akan kembali menjadi tren atau bahkan keharusan setelah pandemi ini berakhir.

5. Melakukan pemilihan umum melalui surat

wamu.org

Pada tanggal 15 April lalu, ketika COVID-19 sedang melanda Korea Selatan, masyarakat di sana masih diharuskan berbaris di luar bilik suara untuk melakukan pemilihan umum. Tentunya, kondisi ini dapat menciptakan kluster-kluster baru COVID-19.

Selain Korea Selaran, pandemi ini juga memengaruhi negara-negara yang akan melakukan pemilihan umum. Salah satunya adalah Amerika Serikat, di mana primary election sudah berlangsung pada awal November lalu.

Dalam kasus ini, orang Amerika harus mengubah tata cara pemilihan mereka dengan cepat. Bahkan, Morning Consult menyebutkan kalau 2 dari 3 orang Amerika khawatir dengan pemilihan secara langsung dan beberapa di antaranya menyarankan untuk melakukan pemilu lewat surat.

6. Mengakhiri ketergantungan ekonomi pada Tiongkok

moaa.org

Sejujurnya, COVID-19 benar-benar datang di waktu yang salah bagi Tiongkok. Ketika sedang berada di tengah perang dagang yang brutal dengan Amerika Serikat, COVID-19 muncul dan semakin memperburuk keadaan Tiongkok

Kita tahu kalau sampai detik ini, seluruh dunia mengandalkan Tiongkok sebagai pusat perekonomian mereka. Melansir dari Brookings Institution, saat ini Tiongkok memproduksi 20 persen dari barang dunia — lebih dari negara mana pun di dunia — dan memiliki peran yang lebih besar dalam kesehatan dunia.

Namun karena Tiongkok sedang berjuang untuk mempertahankan ekonomi negaranya, sudah semakin jelas betapa bahayanya jika negara-negara Dunia Pertama hanya bergantung pada Tiongkok untuk menyiapkan seluruh kebutuhan mereka.

Saat ini, beberapa negara tidak punya pilihan lain. Mereka harus bergantung pada negara lain (atau, jika bisa, negaranya sendiri) walau langkah itu akan "menyakiti" Tiongkok setelah pandemi ini berakhir.

7. Keruntuhan sistem lama yang akan berujung pada revolusi di berbagai negara

observer.com

Sebelum COVID-19 menyebar, sebagian besar masyarakat dunia sedang "memeluk" partai-partai sayap kanan di negaranya masing-masing. Namun, kondisi ini berubah ketika kebijakan sosialis mulai diterapkan di seluruh dunia, bahkan di negara-negara yang dipimpin oleh para pemimpin konservatif dan libertarian.

COVID-19 memang memukul bidang kesehatan kita dengan keras, tetapi pandemi ini juga turut memukul ekonomi kita dengan lebih keras. Bahkan menurut analis J.P. Morgan Chase, diperkirakan kalau goncangan COVID-19 akan menghasilkan resesi global dan gelombang pengangguran.

Di tengah pandemi ini, orang miskin lah yang paling terkena dampaknya. Sementara pekerja kelas menengah dapat bekerja dari jarak jauh atau dari rumah, sebagian besar buruh kasar dan pekerja harian akan dipecat karena pandemi ini. Hal itu memang menyakitkan, tetapi seperti yang dikatakan Schiedel di atas, kesetaraan dapat muncul dalam penderitaan.

Tentunya, masyarakat dunia akan belajar banyak dari COVID-19. Begitu mereka tahu apa pelajaran sebenarnya dari pandemi ini, mereka akan mulai menuntut perubahan. Para ahli juga sudah mulai memprediksi berbagai revolusi yang akan terjadi setelah pandemi ini berakhir.

Akhir-akhir ini kita dihebohkan dengan gerakan "Black Lives Matter" yang dengan cepat melanglang buana. Kita tahu kalau gerakan ini berawal dari rasisme yang sudah mengakar kuat di Amerika Serikat. Mungkin saja semua ini hanyalah awal dari serangkaian peristiwa besar yang akan terjadi di masa mendatang.

COVID-19 memang sedang menguji kita. Namun ketika ujian itu sudah selesai, kita akan memiliki pemahaman yang lebih baik tentang celah-celah dan kebobrokan dalam masyarakat kita. Dan jika beruntung, dunia mungkin akan berakhir di tempat yang lebih baik.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team