Sebelum COVID-19 menyebar, sebagian besar masyarakat dunia sedang "memeluk" partai-partai sayap kanan di negaranya masing-masing. Namun, kondisi ini berubah ketika kebijakan sosialis mulai diterapkan di seluruh dunia, bahkan di negara-negara yang dipimpin oleh para pemimpin konservatif dan libertarian.
COVID-19 memang memukul bidang kesehatan kita dengan keras, tetapi pandemi ini juga turut memukul ekonomi kita dengan lebih keras. Bahkan menurut analis J.P. Morgan Chase, diperkirakan kalau goncangan COVID-19 akan menghasilkan resesi global dan gelombang pengangguran.
Di tengah pandemi ini, orang miskin lah yang paling terkena dampaknya. Sementara pekerja kelas menengah dapat bekerja dari jarak jauh atau dari rumah, sebagian besar buruh kasar dan pekerja harian akan dipecat karena pandemi ini. Hal itu memang menyakitkan, tetapi seperti yang dikatakan Schiedel di atas, kesetaraan dapat muncul dalam penderitaan.
Tentunya, masyarakat dunia akan belajar banyak dari COVID-19. Begitu mereka tahu apa pelajaran sebenarnya dari pandemi ini, mereka akan mulai menuntut perubahan. Para ahli juga sudah mulai memprediksi berbagai revolusi yang akan terjadi setelah pandemi ini berakhir.
Akhir-akhir ini kita dihebohkan dengan gerakan "Black Lives Matter" yang dengan cepat melanglang buana. Kita tahu kalau gerakan ini berawal dari rasisme yang sudah mengakar kuat di Amerika Serikat. Mungkin saja semua ini hanyalah awal dari serangkaian peristiwa besar yang akan terjadi di masa mendatang.
COVID-19 memang sedang menguji kita. Namun ketika ujian itu sudah selesai, kita akan memiliki pemahaman yang lebih baik tentang celah-celah dan kebobrokan dalam masyarakat kita. Dan jika beruntung, dunia mungkin akan berakhir di tempat yang lebih baik.