ilustrasi motivasi (unsplash.com/Randy Tarampi)
Motivasi tahun baru biasanya mencapai titik tertinggi pada awal Januari, namun kemudian menurun secara tajam. Dilansir melalui laman University of Delaware, kita sering kali keliru menganggap bahwa motivasi itu sama dengan komitmen jangka panjang, padahal keduanya adalah hal yang berbeda. Motivasi bisa datang dan pergi, sedangkan untuk membentuk sebuah kebiasaan, kita memerlukan waktu, pengulangan, dan perencanaan yang teratur.
Data Forbes dan CBS News menunjukkan bahwa meskipun sebagian orang bertahan beberapa bulan, kurang dari 10% yang benar-benar berhasil menuntaskan resolusi mereka hingga akhir. Kondisi ini terjadi karena resolusi tersebut tidak diubah menjadi rutinitas harian kecil yang nyata. Otak kita lebih membutuhkan konsistensi dibandingkan semangat besar yang hanya muncul sesaat. Tanpa adanya sistem pendukung, resolusi akan mudah terlupakan seiring dengan menghilangnya motivasi kita.
Pada akhirnya, kegagalan resolusi Tahun Baru bukanlah tanda lemahnya kemauan, melainkan cerminan dari cara otak kita mempertahankan kebiasaan lama dan merespons perubahan. Tanpa strategi yang selaras dengan sistem kerja otak, seperti target kecil, imbalan yang jelas, dan konsistensi, resolusi mudah runtuh seiring menurunnya motivasi.
Jadi bagaimana, setelah mengetahui bagaimana otak bekerja, masihkah kamu bakal melakukan hal yang sama seperti tahun-tahun sebelumnya?