Ramadan di Indonesia hampir selalu diakhiri dengan satu pertanyaan yang berulang setiap tahun. “Lebaran besok atau lusa?” Sebagian orang sudah bersiap memakai baju baru dan memasak ketupat, sementara sebagian lain masih berpuasa satu hari lagi. Perbedaan ini sering dianggap sebagai konflik metode antara rukyatul hilal dan hisab, bahkan kadang dianggap sekadar perbedaan organisasi. Padahal jika dilihat dari perspektif astronomi dan ilmu observasi langit, fenomena ini jauh lebih kompleks daripada sekadar “melihat bulan” atau “menghitung bulan.”
Dalam ilmu astronomi modern, penentuan awal bulan Hijriah sebenarnya merupakan perpaduan antara perhitungan matematis orbit bulan dan fenomena optik di atmosfer bumi. Bulan baru memang dapat dihitung secara presisi, tetapi hilal (bulan sabit pertama) belum tentu langsung bisa dilihat oleh manusia. Inilah yang membuat penentuan 1 Syawal di Indonesia kadang berbeda, terutama ketika pendekatan rukyat yang digunakan oleh Nahdlatul Ulama dan pendekatan hisab yang digunakan oleh Muhammadiyah menghasilkan kesimpulan yang tidak sama.
Lalu secara ilmiah, apa sih sebenarnya penyebabnya? Mari kita bedah penjelasannya satu per satu di bawah ini!
