ilustrasi musim kemarau (pexels.com/Pixabay)
Menurut pakar lingkungan dari Universitas Muhammadiyah Sidoarjo, Dr Syamsudduha Syahrorini, dampak Godzilla El Nino paling cepat terasa pada sektor ketersediaan air. Hal ini karena air sangat sensitif terhadap perubahan curah hujan sehingga penurunannya bisa terjadi dalam waktu singkat. Dampaknya meliputi krisis air bersih, terganggunya sistem irigasi pertanian, hingga menurunnya produksi listrik dari pembangkit listrik tenaga air (PLTA).
Selain sektor air, dampak lain yang perlu diwaspadai adalah meningkatnya risiko kebakaran hutan dan lahan serta gangguan pada sektor pertanian. Fenomena ini biasanya mulai terasa dalam hitungan minggu hingga bulan setelah El Nino menguat. Sementara itu, potensi krisis air dan pangan memang ada, tetapi sangat bergantung pada intensitas El Nino itu sendiri. Untuk kondisi saat ini, risiko krisis secara nasional masih tergolong rendah, meskipun daerah rawan kekeringan tetap perlu waspada terhadap dampak lokal.
Di sisi lain, peneliti dari Badan Riset dan Inovasi Nasional, Erma Yulihastin, mengungkapkan bahwa dampak fenomena ini tidak merata di seluruh wilayah Indonesia. Daerah selatan ekuator seperti Jawa dan sebagian Sumatra cenderung mengalami kondisi lebih kering yang bisa memicu kekeringan dan kebakaran hutan. Sebaliknya, wilayah utara ekuator seperti sebagian Kalimantan dan Sumatra bagian utara justru berpotensi mengalami hujan dengan intensitas tinggi hingga meningkatkan risiko banjir.