ilustrasi sawit (pixabay.com/sarangib)
Meski sama-sama tinggi, sawit memiliki sejumlah perbedaan mendasar dibanding pohon pada umumnya. Berikut penjelasannya:
Sawit termasuk tumbuhan monokotil, satu kelompok dengan rumput, jagung, dan anggrek. Sementara itu, sebagian besar pohon seperti mangga, jati, atau apel adalah dikotil. Perbedaan ini berpengaruh besar pada struktur dan cara tumbuh tanaman.
Batang sawit tidak memiliki kambium, yaitu jaringan yang membuat batang pohon bisa terus membesar. Karena itu, diameter batang sawit akan berhenti tumbuh setelah mencapai ukuran maksimal. Pohon dikotil justru punya kambium yang membentuk lingkaran tahun dan memungkinkan batang makin besar seiring usia.
Permukaan batang sawit yang terlihat kasar bukanlah kulit kayu. Itu adalah sisa pangkal pelepah daun yang mengeras. Berbeda dengan pohon lain yang memiliki kulit kayu asli untuk melindungi batang dan membantu proses pemulihan saat terluka.
Daun sawit berbentuk pelepah panjang dengan ratusan anak daun dan hanya tumbuh di bagian pucuk. Sawit hampir tidak pernah bercabang, kecuali jika titik tumbuhnya rusak. Sebaliknya, pohon umumnya memiliki banyak cabang yang menyebar dari batang utama.
Sawit tidak memiliki akar tunggang. Akarnya menyebar ke samping dalam jumlah sangat banyak dan dikenal sangat rakus menyerap air. Inilah yang membuat sawit berisiko bagi lingkungan jika ditanam di daerah aliran sungai karena tanah bisa cepat jenuh dan memicu limpasan air.