Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
tim NTSB sedang mengembawa perangkat black box
tim NTSB sedang mengembawa perangkat black box (commons.wikimedia.org/National Transportation Safety Board)

Intinya sih...

  • Black box merekam data penerbangan dan suara di ruang kendali pesawat untuk mengungkap kronologi kecelakaan pesawat.

  • Informasi dari FDR dan CVR menjadi kunci utama investigasi sebelum laporan akhir diterbitkan.

  • Data black box juga digunakan untuk meningkatkan standar keselamatan dan prosedur penerbangan pada masa mendatang.

Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Peristiwa pesawat ATR 42-500 milik Indonesia Air Transport yang hilang kontak pada Sabtu (17/1/2026) dan dikonfirmasi jatuh pada Minggu (18/1/2026) jelas meninggalkan duka yang besar. Pesawat dengan nomor registrasi PK-THT dikonfirmasi menabrak Gunung Bulusaraung di Kabupaten Pangkajene dan Kepulauan (Pangkep), Sulawesi Selatan. Proses investigasi terus dilakukan, apalagi kotak hitam (black box) sudah ditemukan. Tak hanya dalam kasus pesawat ATR 42-500 milik Indonesia Air Transport, tiap kali ada berita tentang kecelakaan pesawat, pencarian black box pasti akan jadi topik yang banyak dibahas.

Kira-kira apa yang menyebabkan pencarian black box jadi sangat vital untuk investigasi kecelakaan pesawat? Seperti apa bentuk kotak hitam ini? Lalu, informasi apa saja yang disimpan di dalamnya? Untuk menjawab semua pertanyaan itu, yuk, simak pembahasan di bawah ini sampai tuntas!

1. Apa itu black box?

potret perangkat black box (commons.wikimedia.org/NTSB)

Sebelum masuk pada pembahasan utama, penting untuk mengetahui apa itu black box. Meski namanya diasosiasikan dengan warna hitam, sebenarnya black box merupakan perangkat kotak dengan warna jingga. Penamaan black box sendiri diawali ketika teknisi asal Prancis, François Hussenot, menciptakan sebuah benda untuk merekam data dengan sensor yang secara optik menampilkan sepuluh parameter ke dalam film fotografi sekitar 1930-an.

Nah, karena pada zaman itu film fotografi masih diputar di dalam kotak yang kedap cahaya, terminologi black box jadi lebih melekat. Sementara itu, wadah luar untuk menyimpan dan melindungi perekam data itu sedari awal sudah dipilih karena mudah untuk identifikasi wadah logam yang dipakai, dilansir Airbus. Ciri khas tersebut masih terus dipertahankan sampai sekarang. Tentunya, ada sejumlah peningkatan dari cara mendeteksi keberadaan si kotak hitam agar mudah dicari.

Guna menghadapi berbagai situasi yang ekstrem, black box pun dilengkapi dengan sejumlah fitur ketahanan tingkat tinggi. Kotak itu mampu menahan benturan sampai ribuan gaya-g, suhu lebih dari 1.000 derajat celsius, dan bertahan di dalam tekanan laut sampai 1 bulan. Tujuan dari kekuatan black box yang tak main-main ini hanya satu: bisa bertahan dan terbaca datanya meski pesawat mengalami kecelakaan yang mengerikan.

Adapun, isian dari black box ini umumnya terdiri atas dua perangkat perekam yang berbeda. Pertama, ada flight data recorder (FDR) yang mencatat berbagai parameter penting dari konfigurasi pesawat selama terbang. Kedua, ada cockpit voice recorder (CVR) yang merekam seluruh percakapan dan suara yang ada di dalam ruang kendali pesawat (cockpit).

2. Informasi di dalam black box sangat berguna untuk investigasi

proses pengembalian perangkat black box yang sangat hati-hati (commons.wikimedia.org/National Transportation Safety Board)

Seperti yang sudah disinggung sebelumnya, dua instrumen utama yang ada di dalam black box, yakni FDR dan CVR, jadi sumber informasi kunci untuk mengungkap apa penyebab pesawat mengalami kecelakaan. Dari namanya saja mudah ditebak kalau dua perekam data ini punya fungsi yang berbeda. Seperti yang sudah disebutkan sebelumnya, FDR berperan dalam perekaman parameter atau konfigurasi pesawat yang dipakai ketika terbang.

Australian Transport Safety Bureau melansir kalau FDR menyimpan ribuan jenis data berbeda. Namun, pada spesifikasi standar yang diperlukan, alat ini harus bisa merekam tekanan di ketinggian, kecepatan pesawat, arah relatif dengan kutub, akselerasi, dan waktu transmisi radio. Seiring berjalannya waktu, FDR semakin berkembang dalam merekam berbagai parameter penting lain dari penerbangan yang dilalui, khususnya bagi pesawat-pesawat modern yang sudah terkomputerisasi. Kalau ditotal, bisa ada ribuan parameter berbeda yang direkam oleh sebuah FDR di dalam pesawat komersial.

FDR dirancang untuk tahan benturan dan suhu panas, seperti yang sudah disebutkan sebelumnya. Selain itu, data yang disimpan di dalam FDR biasanya mencakup rentang waktu 25 jam sehingga sangat membantu proses investigasi. Sebab, panjang rekaman itu menandakan seluruh parameter pesawat yang mengalami kecelakaan benar-benar terekam mulai dari proses persiapan terbang, saat terbang, dan detik-detik menjelang kecelakaan. Soal ukuran, FDR punya panjang 50 cm, lebar 12,7 cm, tinggi 16 cm, dan bobot 4,8 kg.

Di sisi lain, CVR akan merekam berbagai suara audio yang ada di cockpit pesawat selama penerbangan. Artinya, cakupan suara yang direkam tak hanya percakapan antara dua pilot yang bertugas, tapi juga suara transmisi radio kru dengan pusat kontrol di darat, suara mesin atau tombol yang ditekan, hingga suara mesin dan udara yang dilewati pesawat. Namun, durasi perekaman CVR cukup terbatas. Sebab, informasi yang direkam biasanya hanya mencakup 2 jam sebelum kecelakaan.

Ketika black box berhasil ditemukan, penanganannya tidak boleh sembarangan. World Aviation Flight Academy melansir kalau black box yang sudah ditemukan akan dibawa sesuai dengan lokasi kecelakaan. Kalau di laut, kotak itu akan tetap direndam di dalam air sampai tiba ke tempat investigasi. Sementara, jika di daratan, proses membawanya lebih ditekankan lewat mekanisasi tanpa sentuhan tangan manusia. Hal ini penting agar menghindari kerusakan pada alat perekam tersebut.

Dari isi informasi yang ada di FDR dan CVR saja sudah sangat jelas soal fungsi dua perekam ini untuk investigasi kecelakaan pesawat. Lantas, tidak mungkin memantau CCTV atau visual secara langsung menjelang detik-detik kecelakaan. Itu sebabnya, data parameter dan rekaman suara langsung di dalam cockpit jadi kunci untuk mengetahui apa yang sebenarnya terjadi pada pilot maupun instrumen penerbangan sebelum terbang, saat terbang, serta tepat sebelum kecelakaan.

Namun, bukan berarti tim investigasi bisa langsung memperoleh jawaban setelah mendapatkan data dari black box. Masih butuh proses kompleks sebelum laporan akhir keluar. Ada pemulihan dan pengunduhan data rekaman, pemeriksaan secara menyeluruh dari tiap detik parameter yang terlihat, sampai analisis bersama dengan berbagai ahli maupun bukti-bukti lain di luar rekaman black box. Oleh sebab itu, dalam investigasi kecelakaan pesawat, kita sering melihat rilis preliminary report yang merujuk pada laporan awal (biasanya 1 bulan pascakecelakaan) dan final report (laporan akhir yang memakan waktu panjang dengan waktu maksimal setahun).

3. Fungsi lain black box untuk dunia penerbangan

perangkat flight data recorder (FDR) yang jadi bagian dari black box (commons.wikimedia.org/Matti Blume)

Fungsi black box sejatinya tak sebatas mengungkap kebenaran di balik insiden kecelakaan yang terjadi. Sebab, data-data yang diperoleh setelah adanya kecelakaan pesawat itu mampu mengubah industri penerbangan. Maksudnya, dari data rekaman suatu insiden, pihak terkait yang mengurus standar dan prosedur keselamatan pesawat jadi bisa melakukan evaluasi secara mendalam, dilansir Rouda Feder Tietjen & McGuinn.

Hasil rekaman black box tragedi 9/11 dan Germanwings 9525, misalnya, mengubah standar prosedur pintu menuju cockpit agar aman dari potensi pembajakan dari luar maupun dalam (contoh kasus Germanwings). Selain itu, ada banyak rekaman black box yang membantu industri penerbangan untuk menentukan standar pengucapan antara pilot dengan air traffic control. Dengan begitu, tidak ada lagi kesan ambigu atau multitafsir.

Dari situ, kita bisa memandang kecelakaan yang menimpa pesawat dalam dua sisi. Pertama, ini sebagai tragedi yang menghasilkan duka mendalam bagi banyak pihak. Kedua, ini sebagai cara manusia belajar untuk menciptakan sistem penerbangan komersial yang lebih terkendali. Tujuan besarnya hanya satu: menciptakan standar keamanan setinggi mungkin sehingga tiap penumpang pesawat tak perlu khawatir dengan kondisi moda transportasi yang dinaiki.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team

EditorYudha ‎