proses pengembalian perangkat black box yang sangat hati-hati (commons.wikimedia.org/National Transportation Safety Board)
Seperti yang sudah disinggung sebelumnya, dua instrumen utama yang ada di dalam black box, yakni FDR dan CVR, jadi sumber informasi kunci untuk mengungkap apa penyebab pesawat mengalami kecelakaan. Dari namanya saja mudah ditebak kalau dua perekam data ini punya fungsi yang berbeda. Seperti yang sudah disebutkan sebelumnya, FDR berperan dalam perekaman parameter atau konfigurasi pesawat yang dipakai ketika terbang.
Australian Transport Safety Bureau melansir kalau FDR menyimpan ribuan jenis data berbeda. Namun, pada spesifikasi standar yang diperlukan, alat ini harus bisa merekam tekanan di ketinggian, kecepatan pesawat, arah relatif dengan kutub, akselerasi, dan waktu transmisi radio. Seiring berjalannya waktu, FDR semakin berkembang dalam merekam berbagai parameter penting lain dari penerbangan yang dilalui, khususnya bagi pesawat-pesawat modern yang sudah terkomputerisasi. Kalau ditotal, bisa ada ribuan parameter berbeda yang direkam oleh sebuah FDR di dalam pesawat komersial.
FDR dirancang untuk tahan benturan dan suhu panas, seperti yang sudah disebutkan sebelumnya. Selain itu, data yang disimpan di dalam FDR biasanya mencakup rentang waktu 25 jam sehingga sangat membantu proses investigasi. Sebab, panjang rekaman itu menandakan seluruh parameter pesawat yang mengalami kecelakaan benar-benar terekam mulai dari proses persiapan terbang, saat terbang, dan detik-detik menjelang kecelakaan. Soal ukuran, FDR punya panjang 50 cm, lebar 12,7 cm, tinggi 16 cm, dan bobot 4,8 kg.
Di sisi lain, CVR akan merekam berbagai suara audio yang ada di cockpit pesawat selama penerbangan. Artinya, cakupan suara yang direkam tak hanya percakapan antara dua pilot yang bertugas, tapi juga suara transmisi radio kru dengan pusat kontrol di darat, suara mesin atau tombol yang ditekan, hingga suara mesin dan udara yang dilewati pesawat. Namun, durasi perekaman CVR cukup terbatas. Sebab, informasi yang direkam biasanya hanya mencakup 2 jam sebelum kecelakaan.
Ketika black box berhasil ditemukan, penanganannya tidak boleh sembarangan. World Aviation Flight Academy melansir kalau black box yang sudah ditemukan akan dibawa sesuai dengan lokasi kecelakaan. Kalau di laut, kotak itu akan tetap direndam di dalam air sampai tiba ke tempat investigasi. Sementara, jika di daratan, proses membawanya lebih ditekankan lewat mekanisasi tanpa sentuhan tangan manusia. Hal ini penting agar menghindari kerusakan pada alat perekam tersebut.
Dari isi informasi yang ada di FDR dan CVR saja sudah sangat jelas soal fungsi dua perekam ini untuk investigasi kecelakaan pesawat. Lantas, tidak mungkin memantau CCTV atau visual secara langsung menjelang detik-detik kecelakaan. Itu sebabnya, data parameter dan rekaman suara langsung di dalam cockpit jadi kunci untuk mengetahui apa yang sebenarnya terjadi pada pilot maupun instrumen penerbangan sebelum terbang, saat terbang, serta tepat sebelum kecelakaan.
Namun, bukan berarti tim investigasi bisa langsung memperoleh jawaban setelah mendapatkan data dari black box. Masih butuh proses kompleks sebelum laporan akhir keluar. Ada pemulihan dan pengunduhan data rekaman, pemeriksaan secara menyeluruh dari tiap detik parameter yang terlihat, sampai analisis bersama dengan berbagai ahli maupun bukti-bukti lain di luar rekaman black box. Oleh sebab itu, dalam investigasi kecelakaan pesawat, kita sering melihat rilis preliminary report yang merujuk pada laporan awal (biasanya 1 bulan pascakecelakaan) dan final report (laporan akhir yang memakan waktu panjang dengan waktu maksimal setahun).