Salah satu aspek yang paling jarang dibahas secara publik adalah dampak lingkungan dari bahan kimia yang digunakan dalam penyemaian awan, terutama jika praktik ini dilakukan berulang dalam jangka panjang.
Perak iodida (AgI) merupakan bahan yang paling umum digunakan dalam cloud seeding karena struktur kristalnya menyerupai es, sehingga efektif memicu pembentukan hujan. Selama puluhan tahun, AgI dianggap “relatif aman” karena digunakan dalam konsentrasi yang sangat rendah. Namun, asumsi keamanan ini terutama didasarkan pada paparan sesaat, bukan pada akumulasi kronis akibat penggunaan berulang.
Studi eksperimental menunjukkan bahwa AgI memiliki potensi toksisitas akut terhadap organisme tanah dan perairan tawar, khususnya Enchytraeus crypticus, sejenis cacing tanah yang sering digunakan sebagai indikator kesehatan ekosistem tanah.
Temuan ini penting karena organisme tanah berperan krusial dalam siklus nutrien dan struktur tanah. Paparan berulang, meskipun dalam dosis rendah, berpotensi menyebabkan akumulasi perak di lingkungan, yang dalam jangka panjang dapat mengganggu keseimbangan ekosistem.
Selain AgI, bahan lain seperti garam (NaCl dan CaCl₂) juga digunakan dalam beberapa metode modifikasi awan. Sejumlah tulisan ilmiah-populer dan kajian lingkungan menyoroti risiko akumulasi garam ini di tanah dan perairan. Dampak yang dikhawatirkan meliputi salinisasi tanah, perubahan sifat kimia tanah, penurunan produktivitas pertanian, hingga kontribusi tidak langsung terhadap hujan asam dalam kondisi atmosfer tertentu.
Jika penyemaian dilakukan secara intensif selama bertahun-tahun di wilayah yang sama, risiko kumulatif ini menjadi semakin relevan.