Walau saat ini terlihat sepele karena ada imunisasi, nyatanya cacar pernah menjadi momok bagi "Dunia Baru" pada gelombang pertama kolonialisme. Cacar adalah endemik yang datang ke wilayah Eropa, Asia dan Timur Tengah selama berabad-abad, yang menewaskan tiga dari sepuluh orang yang terinfeksi dan meninggalkan sisanya dengan bekas luka bopeng.
Namun tingkat kematian di Dunia Lama tidak lebih buruk jika dibandingkan dengan kerusakan yang ditimbulkan pada populasi di Dunia Baru, yakni ketika virus cacar pertama kali tiba di wilayah mereka pada abad ke-15.
Mengutip dari Science Magazine, virus ini datang bersamaan dengan para penjelajah Eropa pertama, di mana pribumi Meksiko dan Amerika Serikat tidak memiliki kekebalan alami terhadap cacar. Akibatnya, puluhan juta penduduk asli benua Amerika wafat karena virus ini.
"Belum ada pembunuhan dalam sejarah manusia yang dapat menyamai apa yang terjadi di Amerika — 90 hingga 95 persen populasi pribumi musnah selama satu abad," ujar Thomas Mockaitis seperti yang dilansir dari The Hill. "Populasi di Meksiko sendiri berkurang, yang pada awalnya (sebelum penaklukan) 11 juta orang menjadi satu juta orang."
Berabad-abad kemudian, cacar menjadi epidemi pertama yang diakhiri dengan vaksin. Pada akhir abad ke-18, seorang dokter Inggris bernama Edward Jenner menemukan vaksin untuk cacar. "Menghilangkan cacar, momok paling mengerikan dari spesies manusia, harus menjadi hasil akhir dari praktik yang saya lakukan," tulis Jenner pada tahun 1801.
Dia pun berhasil walau butuh hampir dua abad lagi untuk membuktikan ucapannya. Tepat pada tahun 1980, World Health Organization mengumumkan kalau pandemi cacar telah sepenuhnya "ditekan".