Sapi (unsplash.com/Gilles)
Penelitian dari Universitas Northampton menemukan bahwa sapi memiliki pertemanan yang selektif dan mengalami stres yang jauh lebih sedikit ketika mereka bergaul dengan teman-temannya.
Dalam penelitian tersebut, McLennan melakukan pengamatan di sebuah peternakan sapi perah tertentu untuk memastikan sapi mana yang paling akrab. Beberapa ribu pengamatan dicatat saat hewan-hewan tersebut merumput, beristirahat, dan diberi makan.
Ia mencari sapi mana yang paling sering mereka dekati. Peneliti menemukan pola hubungan preferensial yang jelas, dengan lebih dari 50% menghabiskan waktu dan berbagi ruang dengan satu pasangan. Menariknya, preferensi ini tidak didasarkan pada hubungan biologis.
Peneliti kemudian mengamati efek fisiologis atau perilaku dari pemisahan kawanan. Mereka mengambil sebelas ekor sapi yang membentuk enam pasangan hubungan pilihan. Di mana satu sapi berteman baik dengan dua sapi lainnya.
Sapi-sapi tadi kemudian diisolasi dari kawanan selama 30 menit dengan pasangan pilihan mereka, dan selama 30 menit dengan sapi acak yang bukan pasangan pilihan. Temuan menunjukkan bahwa sapi yang dipisahkan dengan pasangan pilihan mereka menunjukkan detak jantung yang jauh lebih tenang dan tingkat kegelisahan lebih rendah, dibandingkan jika mereka bertemu sapi acak.
Sapi seringkali dihadapkan pada situasi, di mana mereka harus terpisah dari kawanan. Pemisahan ini dapat bersifat jangka pendek, misalnya adanya pemeriksaan rutin oleh dokter hewan atau ditempatkan di kandang isolasi. Sementara itu, pemisahan jangka panjang dalam lingkungan komersial, ini kemungkinan besar merupakan hasil dari metode pertanian dasar atau disebut pengelompokan ulang.
Misalnya, sapi yang sedang menyusui dikelompokkan bersama dan dipisahkan dari sapi yang tidak menyusui. Hasilnya, pemisahan kawanan baik jangka pendek atau jangka panjang dapat menimbulkan stres, yang diamati melalui peningkatan vokalisasi, perlawanan fisik, dan peningkatan detak jantung. Pengelompokan ulang juga merupakan penyebab stres yang sangat tinggi, artinya sapi-sapi harus beradaptasi dengan hierarki sosial kelompok baru.
Pada sapi dan anak sapi, pemisahan dan pengelompokan kembali umumnya memicu tanda-tanda yang cukup mudah dikenali, bahkan tanpa peralatan. Beberapa tanda tersebut diamati sebagai peningkatan suara, gerakan gelisah, pengurangan waktu istirahat, peningkatan kewaspadaan, penurunan nafsu makan dan lebih banyak waktu yang dihabiskan untuk memeriksa gerbang atau batas pagar.
Dilansir A-Z Animals, sapi merasa lebih aman saat bersama teman dekatnya. Fenomena ini disebut Social Buffering. Di mana kehadiran teman akrab berfungsi sebagai sistem keamanan yang membantu sapi tetap tenang saat menghadapi berbagai situasi. Itulah mengapa, kehilangan sahabat adalah penyebab stres hingga berakhir mogok makan.
Dengan mempelajari kehidupan sosial sapi, dapat diambil kesimpulan bahwa sapi adalah makhluk sosial dan mampu merasakan emosi. Saking sosialnya, sapi bahkan memiliki teman dekat yang selalu membuatnya merasa aman di berbagai situasi, tidak heran kalau sapi akan stres, cemas, takut hingga mogok makan jika ditinggal sahabatnya.