Selama berburu makanan, capung memanfaatkan penglihatan dan kelincahan mereka dengan baik. Capung mampu mengenali mangsa yang bergerak di tempat ramai dan memprediksi kemana perginya mangsa tersebut.
Saat perburuan dimulai, capung terus mengawasi mangsanya. Sepasang mata yang besar itu tak lepas memantau tiap gerak gerik mangsanya. Ketika capung memutar tubuhnya untuk bermanuver di udara selama pengejaran, ia memutar kepalanya berlawanan arah demi memastikan target tetap sejajar dengan area mata dengan fokus yang sangat tajam. Penuh kehati-hatian.
Kecerdasan capung dalam urusan berburu tidak usah diragukan lagi. Mereka bahkan memanfaatkan titik buta mangsanya dengan menyergap dari belakang dan bawah. Ketika jaraknya sudah dekat, kaki capung yang panjang bergerak dengan cepat seperti jaring, mengayunkannya ke depan dan ke atas untuk menangkap mangsanya.
Capung dewasa lebih sering berburu serangga bersayap, seperti lalat, lebah, kumbang, kupu-kupu, dan capung lainnya. Bahkan, beberapa capung mampu menangkap dan memakan burung kecil.
Dilansir Natural History Museum, capung dinobatkan sebagai hewan dengan strategi berburu paling sukses, dengan tingkat keberhasilan hingga 97%. Wah, sungguh angka yang sempurna bagi hewan berukuran kecil ini!
Sangat mengesankan, bahkan strategi berburu capung pun sempat dibandingkan dengan predator tangguh lainnya seperti singa dan elang.
Diketahui, elang peregrine yang merupakan burung tercepat di dunia karena kemampuannya menukik dengan kecepatan 320 kilometer per jam demi mendapatkan mangsanya. Namun, adanya penelitian menunjukkan bahwa burung ini hanya berhasil sekitar 47%.
Sementara itu, singa si raja hutan yang terkenal ganas dan kejam dalam urusan berburu, hanya memiliki keberhasilan 25% meskipun memiliki gigi dan cakar yang sangat tajam.