Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
5 Fakta Pembantaian Keluarga Kerajaan dalam Kudeta Irak 1958
tentara revolusioner di jalanan Baghdad, Irak pada 14 Juli 1958 (commons.wikimedia.org/Ho)
  • Kerajaan Irak yang dipimpin Dinasti Hashemite berdiri sejak 1921 di bawah Raja Faisal I hingga Faisal II, sebelum tumbang akibat kudeta militer pada 14 Juli 1958.
  • Kudeta dipicu ketidakpuasan rakyat terhadap kedekatan monarki dengan Barat dan ketimpangan sosial, dipimpin Abdul Karim Qasim bersama kelompok Perwira Bebas.
  • Dalam kudeta singkat itu, keluarga kerajaan dibunuh di Istana Rihab, Qasim mengambil alih kekuasaan dan mendirikan republik, namun pemerintahannya runtuh lima tahun kemudian.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Bukan rahasia lagi bahwa sejarah politik Irak penuh dengan kerusuhan dan kekerasan. Ternyata, itu bukan hal baru. Beberapa rakyat Irak menyalahkan kejatuhan keluarga kerajaan dari 60 tahun yang lalu sebagai penyebab utama konflik yang terjadi akhir-akhir ini.

Setelah itu, muncul republik yang tidak stabil. Dibandingkan dengan itu, serta masalah-masalah dari 20 tahun terakhir, era keluarga kerajaan yang relatif makmur tampak seperti "zaman keemasan." Sayangnya, tidak ada sesuatu pun yang abadi, termasuk peradaban.

Di samping itu, tidak semua kepemimpinan sempurna. Kesenjangan yang tajam antara si kaya dan si miskin, serta ketidakpuasan atas pengaruh Barat di negara itu, yang akhirnya mencetuskan beberapa konflik. Kerusuhan itu menyebabkan pemberontakan dan kudeta pada tahun 1958. Arab News melaporkan bahwa kekerasan yang terjadi saat kudeta itu adalah pertanda dari masa depan Irak. Sayangnya, pemimpin kudeta itu dibunuh hanya 5 tahun kemudian. Kematiannya seperti sebuah karma, karena pada tahun 1958, pasukannya telah memusnahkan keluarga kerajaan Irak. Bagaimana sejarahnya?

1. Siapa saja keluarga kerajaan Irak?

Rombongan Faisal I di konferensi Versailles. Dari kiri ke kanan: Rustam Haidar, Nuri as-Said (Nuri al-Said), Pangeran Faisal (depan), Kapten Rosario Pisani (belakang), T. E. Lawrence, dan Kapten Hassan Khadri. (commons.wikimedia.org/Lowell Thomas)

Keluarga kerajaan baru berkuasa di Irak selama 37 tahun sebelum terjadinya kudeta. Dikutip The National, setelah jatuhnya Kekaisaran Ottoman selama Perang Dunia I, butuh beberapa tahun bagi wilayah yang sekarang dikenal sebagai Irak untuk bisa stabil. Di sisi lain, Inggris memiliki mandat, atau hak untuk mengendalikan administrasi di Irak. Inggris pun ingin ikut campur dalam masa depan negara tersebut.

Pada tahun 1921, para pemimpin Inggris dan Eropa lainnya memilih seorang raja untuk Irak, yaitu Faisal I, putra Hussein bin Ali, Syarif Mekah. Ia adalah anggota dinasti Hashemite dari Arab Saudi. Itu kenapa Inggris berharap untuk terus mengendalikan wilayah tersebut.

Faisal I memerintah selama 12 tahun. Ia pun mengawasi berakhirnya mandat Inggris dan pembentukan kerajaan Irak yang merdeka. Takhta kemudian diwariskan kepada putranya, Ghazi, tetapi ia hanya memerintah selama enam tahun karena meninggal dalam kecelakaan mobil. Raja baru, Faisal II, putra Ghazi, baru berusia tiga tahun, sehingga selama 15 tahun berikutnya, pamannya yang bernama Putra Mahkota Abdallah, memerintah sebagai wali raja. Faisal II bersekolah di Harrow School di Inggris dan secara resmi naik takhta pada tahun 1953.

2. Latar belakang terjadinya kudeta

Harry S. Truman, Presiden Amerika Serikat (kanan), menerima Yang Mulia Raja Faisal II Al-Hashimi dari Irak di Gedung Putih. (commons.wikimedia.org/Harry S. Truman Library & Museum)

Meskipun Irak berkembang pesat secara ekonomi dan industrinya tumbuh di bawah pemerintahan Faisal II, banyak rakyat Irak yang tidak suka dengan eratnya hubungan monarki itu dengan kekuatan Barat. Rasa tidak puas, terutama terhadap hubungan Irak dengan Inggris, meningkat setelah krisis Suez pada tahun 1956. Perbedaan antara kelompok etnis dan agama di Irak juga menjadi masalah. Muslim Syiah khususnya, merasa tidak terwakili dengan baik oleh raja Muslim Sunni.

Dikutip Britannica, generasi muda di Irak pada saat itu sangat tidak puas dan marah karena pemerintah masih berada di tangan pemimpin-pemimpin yang lebih tua. Akhirnya, sebuah kelompok dibentuk di militer Irak, yang disebut Free Officers atau Perwira Bebas. Kelompok kecil ini sangat misterius dan mulai membuat rencana untuk revolusi. Pemimpin mereka adalah seorang perwira tinggi, Abdul Karim Qasim. Ia melihat peluang ketika brigadenya diperintahkan untuk pergi ke Yordania sebagai tanggapan atas ketegangan Yordania dengan Israel. Ketika pasukannya melewati Baghdad, ia berniat akan merebut kota itu.

3. Bagaimana kudeta itu terjadi?

tentara revolusioner di jalanan Baghdad, Irak pada 14 Juli 1958 (commons.wikimedia.org/Ho)

Menurut artikel dari Time Magazine tahun 1958, kudeta ini hanya berlangsung satu jam, tepatnya dari pukul 5 pagi hingga 6 pagi pada 14 Juli 1958. Kelompok pemberontak memasuki kota dan mengambil alih beberapa tempat penting, seperti stasiun kereta api, persimpangan utama, kantor pos dan telegraf, serta stasiun radio. Kisah tentang apa yang terjadi selanjutnya bervariasi berdasarkan berbagai sumber. Namun, satu hal yang pasti adalah, beberapa tentara pemberontak pergi ke Istana Rihab, tempat kediaman raja.

Dalam bukunya yang berjudul The Iraqi Revolution of 1958: A Revolutionary Quest for Unity and Security, Juan Romero mengutip berbagai sumber dan sampai pada kesimpulan bahwa keluarga kerajaan keluar dari belakang istana setelah tentara menembaki istana. Namun, banyak tentara pemberontak yang berhasil menghentikan mereka dan mengepung mereka di taman istana. Adapun, pengawal raja mencoba melindungi keluarga kerajaan ini. Sayangnya, tentara justru menembaki keluarga kerajaan. Faisal II tewas bersama pamannya, Putra Mahkota Abdallah, ibu Putra Mahkota, yang bernama Nafisa, dan saudara perempuan Putra Mahkota, Abadiyya. Romero berpendapat bahwa para pemberontak telah merencanakan untuk membunuh Abdallah dan Perdana Menteri Nuri al-Said, yang ditangkap dan dibunuh keesokan harinya, tetapi mereka tidak berniat membunuh raja.

4. Apa yang terjadi setelah kudeta?

Mural yang menggambarkan perlawanan rakyat untuk memperingati Revolusi 14 Juli. (commons.wikimedia.org/Mohammdaon)

Abdul Karim Qasim dan para pengikutnya memberlakukan darurat militer di Irak segera setelah kudeta. Qasim sendiri adalah kepala kabinet yang dibentuknya, sekaligus komandan pasukan nasional dan menteri pertahanan. Para pemberontak membentuk Dewan Kedaulatan yang terdiri dari tiga orang yang akan menjadi kepala negara. Meskipun demikian, Qasim memegang sebagian besar kekuasaan.

Namun, tidak semua menteri pemerintahan baru adalah militer, karena beberapa di antaranya adalah warga sipil. Banyak yang memiliki keyakinan nasionalis sayap kanan, beberapa bahkan pernah menjadi simpatisan Nazi. Meskipun banyak yang dididik di Barat, mereka memiliki sentimen anti-Barat yang kuat, tulis penjelasan Time Magazine.

Pemerintahan baru mendeklarasikan Irak sebagai republik dan mengumumkan bahwa Islam akan menjadi agama negara tersebut. Banyak pemberontak tertarik pada cita-cita pan-Arab yang dianut oleh presiden Mesir Gamal Abdel Nasser, tetapi Qasim ingin fokus pada kemerdekaan Irak. Akhirnya, perpecahan seperti ini melemahkan pemerintahan baru dan mengisolasi Qasim secara politik. Pemerintahannya pun jatuh pada tahun 1963.

5. Misteri salah satu anggota keluarga kerajaan yang kemungkinan selamat dalam pembantaian

Putri Hiyam (commons.wikimedia.org/PD-ar)

Salah satu misteri abadi dari kudeta Irak adalah nasib Putri Hiyam, istri Putra Mahkota Abdallah. Meskipun beberapa sumber mencatat kalau ia juga tewas dalam kudeta tersebut, namanya tidak tercantum di antara korban tewas dalam artikel Time Magazine dari Juli 1958. Dalam buku Juan Romero, beberapa sumber melaporkan bahwa ia hanya terluka, bukan tewas.

Salah satu sumber mengatakan bahwa pahanya tertembak dan dibawa oleh seorang anggota Pengawal Kerajaan ke sebuah ruangan tempat ia disembunyikan. Namun, Romero berpendapat kalau hal tersebut tidak mungkin berhasil tanpa diketahui oleh tentara pemberontak. Apalagi luka akibat tembakan senjata kemungkinan sulit bagi seseorang untuk bertahan hidup tanpa ditangani segera.

Itulah sebabnya, nasib sang putri setelah pembantaian tersebut masih tidak diketahui. Anggota keluarga kerajaan lainnya melarikan diri ke Arab Saudi dengan bantuan raja Arab dan duta besar Saudi untuk Irak, tulis laporan Arab News. Nah, bisa saja Putri Hiyam melakukan hal yang sama.

Kudeta Irak 1958 mengakhiri Kerajaan Irak yang dipimpin oleh Dinasti Hashemite. Kerajaan ini berkuasa selama 37 tahun. Sayang, monarki ini tak abadi dan menewaskan anggota keluarganya dengan brutal.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team