Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
potret ular mata kucing bergaris yang masih muda
potret ular mata kucing bergaris yang masih muda (commons.wikimedia.org/Brian Gratwicke)

Intinya sih...

  • Ular mata kucing bergaris punya mata besar dan gigi beralur. Adapun, panjang mereka hanya 75–100 cm.

  • Mereka pemangsa sabar yang berburu amfibi dan telur katak dengan kamuflase sempurna.

  • Meski berbisa, ular ini tidak berbahaya bagi manusia dan populasi mereka tergolong stabil.

Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Kalau ada nominasi spesies ular dengan rasio ukuran kepala dan mata yang paling tidak proporsional, ular mata kucing bergaris (Leptodeira annulata) pasti masuk di dalamnya. Soalnya, ular dengan sisik berwarna kuning kecokelatan dan bintik/garis hitam ini memiliki ukuran mata yang lebih besar ketimbang kepala sehingga terlihat unik sekaligus aneh. Selain dari mata yang unik itu, ular mata kucing bergaris punya gigi dengan bentuk beralur di bagian belakang pada rahang atas.

Soal ukuran, mereka terbilang kecil. Panjang rata-rata individu sekitar 75—100 cm dan bobot beberapa gram saja. Nah, selain fisik yang sudah sedikit kita singgung itu, ular mata kucing bergaris juga memiliki beberapa fakta menarik lain yang akan segera kita kupas satu per satu. Jadi, kalau kamu mau kenalan dengan ular imut yang satu ini, simak pembahasan berikut sampai tuntas, ya!

1. Peta persebaran dan habitat ular mata kucing bergaris

Seekor ular mata kucing bergaris berada di atas daun. (commons.wikimedia.org/Giovanni Alberto Chaves Portilla)

Persebaran utama dari ular mata kucing bergaris berada di Benua Amerika, tepatnya Amerika Tengah hingga Amerika Selatan. Artinya, si kecil ini ditemukan mulai dari Meksiko, seluruh negara Amerika Tengah, Panama, Brasil, Argentina, Kolombia, Venezuela, dan pulau kecil, seperti Margarita atau Trinidad serta Tobago. Luasnya persebaran ular mata kucing bergaris tentu berkorelasi langsung terhadap jenis habitat yang bisa ditinggali.

Utamanya, ular ini tinggal di hutan hujan tropis yang lembap. Namun, kadang mereka menjelajah ke tepian hutan yang berbatasan dengan habitat lain, semisal rawa atau dataran banjir. Selain itu, kalau kebetulan dekat, ular mata kucing bergaris juga dapat masuk ke lahan pertanian atau perkebunan manusia. Hebatnya, mereka beradaptasi dengan baik di lingkungan buatan manusia itu karena di sana tersedia salah satu jenis makanan favorit.

2. Makanan favorit ular mata kucing bergaris dan cara mereka berburu

Ular mata kucing bergaris dapat menunggu mangsa selama berjam-jam di atas dahan pohon kecil. (commons.wikimedia.org/Jean-nature)

Sama seperti kerabat yang lain, reptil ini termasuk karnivor sejati. Namun, mengingat ukuran yang mungil, ular mata kucing bergaris tentu tidak memburu hewan berukuran besar. Mangsa yang banyak mereka buru adalah amfibi berukuran kecil, semisal katak ataupun salamander. Namun, ular ini juga punya makanan favorit lain: telur katak. Ini terutama dari spesies katak pohon mata merah (Agalychnis callidryas).

Untuk cara berburu, ular mata kucing bergaris lebih dominan menggunakan teknik kesabaran. Snake Radar melansir kalau ular ini akan menunggu di dahan pohon yang tidak terlalu tinggi ataupun di tanah dalam diam. Warna tubuh yang cukup membaur dengan lingkungan sekitar jadi senjata kamuflase agar dapat mengejutkan mangsa. Setelah mangsa terlihat mendekat, ular mata kucing bergaris langsung menyambar dan menyuntikkan bisa untuk melumpuhkan target. Setelah mangsa lemas, barulah mereka menelan mangsa bulat-bulat.

Nah, kalau ingin berburu telur amfibi seperti katak, cara mereka berbeda lagi. Mereka secara aktif bergerak dari pohon ke pohon sampai menemukan sarang katak pohon mata merah. Soalnya, katak yang satu itu selalu meletakkan telur-telur di dalam pohon yang menjadikan santapan mudah bagi reptil ini. Oh, ya, ular ini termasuk hewan nokturnal sehingga waktu aktivitas paling tepat berlangsung setelah Matahari terbenam.

3. Ular mata kucing bergaris termasuk ular berbisa, tapi …

kamuflase sempurna dari ular mata kucing bergaris (commons.wikimedia.org/Bernard DUPONT)

Seperti yang sudah disebutkan sebelumnya, ular mata kucing bergaris termasuk spesies ular berbisa. Kandungan racun pada bisa ular ini terbilang unik, yakni metalloproteinases (SVMPs) dan phospholipase A2 (PLA2). Kedua enzim pada bisa mereka memang jarang terdengar, beda dengan racun jenis neurotoksin, hemotoksin, dan sitotoksin yang sering kita dengar pada spesies ular berbisa. Hal ini wajar karena bisa ular mata kucing bergaris memang tidak sampai membahayakan nyawa manusia jika tak sengaja tergigit.

Dilansir Critter Science, bisa mereka benar-benar hanya efektif pada amfibi sebagai mangsa favorit mereka. Seandainya manusia yang digigit dan terinjeksi bisa ular mata kucing bergaris, efeknya sebatas iritasi, gatal, dan pembengkakan di area yang digigit. Beberapa korban mungkin juga merasakan sensasi terbakar yang cukup menyakitkan. Karena itu, sekalipun tidak berbahaya, sebaiknya hindari memprovokasi ular mata kucing bergaris agar tidak menggigit tubuh kita.

4. Sistem reproduksi ular mata kucing bergaris

Ular mata kucing bergaris betina mampu menunda pembuahan ketika bereproduksi. (commons.wikimedia.org/Mauricio Espejo Chura)

Tak banyak hal yang kita ketahui soal ritual kawin dari ular mata kucing bergaris. Yang jelas, musim kawin bagi reptil yang satu ini berlangsung antara Februari—Mei. Adapun, mereka tergolong hewan ovipar sehingga betina akan bertelur setelah terjadi pembuahan dengan jantan.

Uniknya, ular mata kucing bergaris betina punya kemampuan untuk menunda pembuahan, dilansir Critter Science. Maksudnya, betina dapat menunda sperma masuk ke sel telur di dalam tubuh sampai waktu tertentu atau menemukan tempat bertelur yang sesuai. Setelah itu, ia akan mengeluarkan telur dengan jumlah maksimal sampai 12 butir telur. Masa inkubasi yang dijalani telur ular mata kucing bergaris sekitar 60—90 hari. Adapun, setelah menetas, anak-anak ular ini langsung mampu hidup mandiri.

5. Status konservasi ular mata kucing bergaris

kerusakan hutan jadi masalah utama untuk populasi ular mata kucing bergaris (commons.wikimedia.org/Bernard DUPONT)

Menurut catatan IUCN Red List, status konservasi ular mata kucing bergaris tergolong dalam kategori hewan dengan risiko rendah (Least Concern). Kondisi populasi dinilai masih stabil meski sebenarnya tidak ada data pasti soal jumlah individu di alam. Hal ini wajar karena persebaran mereka yang luas ditambah banyak lokasi habitat alami yang mustahil dijangkau manusia.

Kalau bicara soal ancaman yang mampu mengurangi populasi ular mata kucing bergaris di alam liar, sebenarnya tidak ada yang terlalu spesifik. Meski begitu, dalam pandangan secara umum, kerusakan habitat yang terjadi di Amerika Tengah dan Amerika Selatan yang masih terjadi saat ini berpotensi merusak stabilitas ekosistem yang membuat ular ini jadi sulit mencari makan. Kalau terus dibiarkan, bukan hanya ular mata kucing bergaris saja yang jadi berkurang, melainkan juga keanekaragaman hayati yang ada di sana.

Fakta lain yang tak kalah unik dari ular mata kucing bergaris adalah soal nama. Ya, spesies yang satu ini disebut dalam banyak nama, tergantung daerah dan kebudayaan di sekitar habitat alami yang mereka tinggal. Sebagai contoh, mereka juga dipanggil sebagai culebra de pantano, come sapo, culebra destenida, machete savane, mapana de agua, ranera, dan mapana tigre.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team

EditorYudha ‎