Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Langit malam dengan bintang bertaburan.
ilustrasi langit malam (pexels.com/Martin Mariani)

Tahun 2026 akan menyuguhkan ragam fenomena langit yang unik dan menarik. Mulai dari gerhana hingga hujan meteor, berbagai fenomena hadir dengan pola dan jumlah yang berbeda-beda. Di tahun ini, sejumlah fenomena bakal terjadi berulang kali dengan jumlah yang cukup signifikan.

Oleh sebab itu, selain mengamati, kamu harus mengetahui berapa kali fenomena tersebut muncul. Biasanya, ada yang berulang setiap bulan sebagai penanda alami pergantian waktu. Adapun, berikut fakta-fakta menarik terkait fenomena langit di sepanjang tahun 2026 yang harus kamu ketahui.

1. Bakal ada 13 bulan purnama

ilustrasi bulan purnama (pexels.com/Rino Adamo)

Tahun 2026 akan dihiasi oleh 13 bulan purnama. Jumlah ini terbilang istimewa karena umumnya hanya ada 12 bulan purnama dalam satu tahun, seperti yang terjadi pada tahun sebelumnya. Kemunculan 13 bulan purnama bukanlah sebuah kebetulan, melainkan fenomena yang memang kerap terjadi setiap 2 hingga 3 tahun sekali.

Dilansir EarthSky, tahun dengan 13 bulan purnama berarti ada satu bulan kalender yang mengalami dua kali purnama. Purnama kedua dalam bulan yang sama ini dikenal dengan sebutan bulan biru atau blue moon. Fenomena tersebut terjadi karena siklus fase Bulan yang berlangsung sekitar 29,5 hari tidak selalu sejalan dengan panjang bulan kalender.

Di tahun ini, bulan biru akan muncul pada 31 Mei 2025. Namun, jangan keliru, bulan biru hanya istilah yang merujuk pada purnama kedua di bulan kalender yang sama. Jadi, warna Bulan tidak akan berubah menjadi biru.

2. Langit akan menyuguhkan empat fenomena gerhana

ilustrasi gerhana matahari total (pexels.com/melissa mayes)

Gerhana adalah salah satu fenomena yang paling dinantikan setiap tahunnya. Untuk tahun 2026, fenomena gerhana akan terjadi sebanyak empat kali. Adapun, mengutip dari Time and Date, berikut jadwal gerhana yang akan terjadi di tahun 2026.

  • 17 Februari 2026: Gerhana Matahari Cincin

  • 23 Maret 2026: Gerhana Bulan Total

  • 12 Agustus 2026: Gerhana Matahari Total

  • 2728 Agustus 2026: Gerhana Bulan Sebagian

Kendati demikan, tidak semua gerhana bisa diamati di Indonesia. Hal ini tergantung pada letak geografis suatu wilayah dan waktu terjadinya gerhana.

3. Februari jadi momen parade planet

ilustrasi parade planet jika diamati dari Bumi. (pixabay.com/StockSanp)

Selain gerhana dan bulan biru, langit 2026 juga akan menyuguhkan parade planet yang spektakuler. Fenomena ini diperkirakan terjadi pada 28 Februari 2026. Sebanyak enam planet, yaitu Merkurius, Venus, Saturnus, Jupiter, Uranus, dan Neptunus bakal berkumpul di langit yang sama jika diamati dari Bumi.

Saturnus, Venus, dan Merkurius akan tampak berdekatan membentuk gugusan di langit selatan, sementara Jupiter terlihat bersinar terang di dekat Bulan. Berbeda dengan planet-planet tersebut, Uranus dan Neptunus tidak bisa diamati dengan mata telanjang. Keduanya terlalu redup sehingga perlu bantuan teropong atau teleskop untuk bisa terlihat.

4. Fenomena supermoon bakal terjadi sebanyak delapan kali

ilustrasi supermoon bulan purnama (pixabay.com/rogerp64)

Supermoon adalah fase Bulan purnama atau Bulan baru yang muncul saat Bulan berada di titik terdekatnya dengan Bumi, yang disebut perigee. Pada momen ini, Bulan dapat terlihat sedikit lebih besar dan lebih terang dibandingkan purnama biasa. Di tahun ini, fenomena supermoon bakal terjadi sebanyak delapan kali.

Dari delapan supermoon tersebut, tiga di antaranya merupakan purnama supermoon yang terjadi pada Januari, November, dan Desember. Sementara itu, lima lainnya merupakan Bulan baru supermoon yang terjadi antara April hingga Agustus. Umumnya, hanya supermoon Bulan purnama lah yang bisa diamati secara jelas dengan mata telanjang.

5. Ada delapan hujan meteor dengan intensitas tinggi

ilustrasi hujan meteor (pixabay.com/TeeFarm)

Dilansir Sky & Telescope, tahun 2026 akan diramaikan oleh setidaknya delapan hujan meteor dengan intensitas tinggi yang terjadi sepanjang tahun. Hujan meteor ini berasal dari serpihan komet atau asteroid di luar angkasa yang tertarik oleh gravitasi Bumi. Beberapa hujan meteor paling menonjol muncul di awal tahun, seperti Quadrantids pada Januari dan Lyrids pada April, yang dikenal memiliki laju meteor cukup tinggi.

Aktivitas tersebut berlanjut pada pertengahan tahun melalui Eta Aquariids di Mei serta Delta Aquariids di akhir Juli. Memasuki paruh akhir tahun, Perseids di Agustus dan Orionids di Oktober kembali jadi favorit pengamat langit karena meteornya relatif terang dan mudah diamati. Kemudian, di penghujung tahun, Geminids dan Ursids di Desember menjadi puncak hujan meteor terakhir yang kerap menawarkan pertunjukan langit paling konsisten.

Fenomena-fenomena langit yang berulang di atas merupakan bukti bahwa semesta memiliki siklus yang terus bergerak. Meski tampak jauh dan abstrak, peristiwa-peristiwa ini hadir dengan pola yang bisa diprediksi. Tahun 2026 menjadi salah satu contoh bagaimana langit menyimpan keteraturan di balik keindahannya. Jadi, sudah siap menyambut fenomena-fenomena spektakuler tersebut?

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team