Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Potret salah satu hewan endemik gajah Sumatra
Potret salah satu hewan endemik gajah Sumatra (commons.wikimedia.org/Hartert, Ernst, 1859-1933)

Intinya sih...

  • Deforestasi: Penyebab utama penurunan populasi hewan endemik Sumatra, terutama gajah, orangutan, dan harimau.

  • Perburuan ilegal: Aktivitas terlarang yang memengaruhi biodiversitas dan jumlah populasi hewan endemik Sumatra.

  • Konflik manusia dengan satwa: Deforestasi menyebabkan konflik di area pemukiman dan laju deforestasi tertinggi berdampak pada konflik gajah.

Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Pulau Sumatra dikenal sebagai salah satu pulau dengan kekayaan hayati paling menakjubkan di dunia. Dari hutan hujan tropis yang begitu lebat hingga pegunungan yang menjulang, pulau ini menjadi rumah bagi beragam spesies dan flora unik yang tidak ditemukan di tempat lain. Mulai dari predator harimau Sumatra, orangutan Sumatra, hingga badak Sumatra, semuanya adalah hewan endemik yang menjadi kebanggan Indonesia sekaligus simbol penting keseimbangan ekosistem.

Namun sayangnya, di balik keindahan alamnya, Sumatra sedang menghadapi krisis keanekaragaman hayati yang serius. Dilansir laman UNESCOTropical Rainforest Heritage of Sumatra,” menyebutkan bahwa Taman Nasional seperti Gunung Leuser National Park dilaporkan terus menghadapi ancaman serius yang mengakibatkan penurunan terhadap keanekaragaman hayati, terutama mamalia besar contohnya gajah. Kemudian beberapa spesies bahkan telah mencapai status “kritis” menurut daftar merah IUCN, yang artinya hanya selangkah lagi menuju kepunahan. Fenomena ini pastinya mengundang tanda tanya besar, apa sebenarnya yang membuat hewan endemik di Sumatra terancam punah? Apa faktor penyebabnya? Yuk, simak ulasan lengkapnya berikut ini!

1. Deforestasi

ilustrasi deforestasi (commons.wikimedia.org/Malahat Review)

Istilah deforestasi juga memiliki makna “the intentional clearing of forested land” artinya penghilangan secara sengaja kawasan hutan yang sebelumnya terhutani. Dilansir laman National Geographic, ada beberapa poin penting terkait dengan aktivitas ini. Area hutan dibabat atau dibakar memiliki tujuan untuk area pertanian dan perkebunan atau untuk kayu industri. Deforestasi juga mengakibatkan fragmentasi habitat hutan besar menjadi terpecah, sehingga hewan yang butuh ruang besar atau migrasi menjadi terganggu. Selain beberapa hektar lahan hutan hilang, hal ini juga ikut menurunkan kualitas hutan primer berubah menjadi hutan sekunder, hutan terbuka, hingga lahan perkebunan.

Kenapa deforestasi di Sumatra menjadi salah satu faktor utama hewan terancam punah? Berdasarkan data eyes on the forest, tahun 1985 Sumatra memiliki sekitar 25 juta hektar hutan alami. Namun pada 2016 atau 30 tahun setelahnya tinggal sekitar 11 juta hektar saja. Dampak langsung dari aktivitas ini menyebabkan penurunan dramatis populasi hewan endemik.  Spesies seperti gajah, orangutan, dan harimau sangat bergantung pada keberadaan hutan alami, hutan primer, hutan dataran rendah, dan habitat besar yang tersambung.

2. Perburuan ilegal

ilustrasi perburuan ilegal (commons.wikimedia.org/FieldsportsChannel.tv)

Tindakan perburan illegal sangat dilarang keras di Indonesia. Aktivitas terlarang ini sangat memengaruhi jumlah populasi hewan endemik Sumatra. Contohnya harimau Sumatra yang sering ditemukan kasus perburuan illegal. Dilansir laman Kementerian Kehutanan Republik Indonesia, siapa pun yang terbukti terlibat perburuan illegal akan diproses hukum sesuai dengan Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya, dengan hukuman pidana.

Perburuan maupun perdagangan ilegal terhadap satwa yang dilindungi akan memengaruhi biodiversitas yang ada di Sumatra. Salah satu hal yang perlu dilakukan demi menjaga keseimbangan ekosistem dengan tidak memburu satwa seperti harimau Sumatra. Masyarakat juga turut aktif melaporkan setiap aktivitas illegal terkait satwa liar kepada pihak yang berwenang.

3. Konflik manusia dengan satwa

ilustrasi konflik satwa liar (commons.wikimedia.org/Senaka Silva)

Di dalam kehidupan di muka Bumi, tidak hanya konflik manusia dengan manusia yang menjadi jurang kehancuran dalam kehidupan, tetapi juga konflik manusia dengan satwa. Kejadian ini sering terjadi di area kawasan hutan yang dekat dengan pemukiman maupun aktivitas manusia. Deforestasi atau hilangnya habitat menjadi pemicu utama konflik.

Contoh yang terjadi di Riau dan Aceh, dimana banyak kasus gajah Sumatra masuk ke kebun sawit atau perkampungan karena koridor migrasinya terputus akibat pembukaan lahan. Di Sumatra Barat juga sering terjadi harimau turun gunung dan mendekati area pemukiman karena mangsa alaminya semakin sedikit. Berdasarkan catatan WWF Indonesia dan Mongabay bahwa 70% konflik gajah di Sumatra terjadi di wilayah dengan laju deforestasi tertinggi, seperti Riau, Jambi, dan Bengkulu.  Dampak konflik ini pastinya akan berakibat fatal terhadap satwa seperti stress hingga kematian langsung.

4. Polusi

ilustrasi polusi udara (commons.wikimedia.org/Own work)

Kawasan hutan hujan tropis menjadi salah satu ekosistem paling penting di planet ini. Alasannya adalah menjadi rumah kedua lebih dari separuh spesies yang ada di dunia. Hutan sekarang perlahan mulai menghilang dengan kecepatan yang mengkhawatirkan. Polusi juga menjadi faktor penyumbang untuk memperparah kepunahan satwa di Sumatra.

Ketika hutan dibuka untuk industri dan perkebunan, maka terjadi pencemaran udara akibat pembakaran lahan dan emisi industri yang meningkatkan gas rumah kaca. Kemudian pencemaran air dari limbah sawit, bahan kimia pertanian, dan juga tambang sungai tempat hidup berbagai spesies ikan hingga amfibi. Sumatra menjadi jantung industri kelapa sawit di Indonesia, tepatnya Riau. Luas lahan mencapai 2 juta hektar bahkan lebih, juga semakin memperparah laju polusi udara, pencemaran air, dan juga tanah terkontaminasi logam berat dan bahan kimia.

5. Perubahan iklim

ilustrasi aksi peduli terhadap perubahan iklim (commons.wikimedia.org/Jeanne Menjoulet from Paris, France)

Perubahan iklim menyebabkan kelangkaan sumber daya misalnya air dan sumber makanan yang membuat satwa lebih sering berpindah atau memasuki area manusia.  Akibat dari deforestasi dan fragmentasi habitat, perubahan iklim menjadi efek negatif yang memperkuat faktor semakin terancamnya keberlangsungan hidup spesies Sumatera. Contohnya, area ruang jelajah harimau Sumatera untuk mencari mangsa dan bertahan hidup semakin menipis. Harimau merupakan hewan predator dan penjelajah ulung di habitat alaminya.

6. Rendahnya kesadaran konservasi

ilustrasi kegiatan konservasi atau peduli lingkungan (commons.wikimedia.org/USAID Indonesia)

Kesadaran konservasi menjadi faktor dalam menjaga keanekaragaman hayati di Sumatera. Sebagian penduduk lokal masih memiliki pengetahuan yang terbatas tentang pentingnya menjaga sumber daya alam. Akibatnya, aktivitas perburuan, penebangan hutan, hingga konversi lahan ke pertanian dilakukan tanpa mempertimbangkan dampaknya terhadap ekosistem. Karena kesadaran publik rendah, dukungan untuk  kebijakan lingkungan menjadi lemah hingga mempercepat penurunan populasi hewan langka di Sumatra.

Melihat berbagai faktor yang saling berkaitan, mulai dari deforestasi hingga rendahnya kesadaran konservasi. Keberlangsungan hewan endemik di Sumatra kini berada di ujung tanduk. Upaya pelestarian harus dilakukan secara menyeluruh, bukan hanya lewat perlindungan terhadap perburuan liar, tetapi kolaborasi antara pemerintah, masyarakat lokal, dan lembaga konservasi. Jika kesadaran dan tindakan nyata tidak segera ditingkatkan, maka bukan tidak mungkin generasi mendatang hanya akan mengenal gajah, harimau, dan orangutan dari buku sejarah dan foto lama semata.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team