Garis horizontal di tengah angka 7 bukan sekadar hiasan atau kebiasaan iseng dalam penulisannya. Penambahan garis ini muncul dari kebutuhan, terutama untuk menghindari kesalahan baca. Dalam tulisan tangan yang dibuat cepat, angka 7 sering kali terlihat mirip dengan angka 1, apalagi jika penulis tidak memberi “topi” atau lengkungan di bagian atas angka. Nah, di sinilah fungsi garis tengah tersebut.
Menurut Judith Langer, profesor dari State University of New York, bentuk angka 7 awalnya berasal dari sistem numeral India–Arab yang berkembang sejak ratusan tahun sebelum Masehi. Pada masa itu, angka 7 ditulis tanpa garis tengah. Garis tersebut baru mulai digunakan ketika sistem penulisan angka ini diadopsi di Eropa. Di sana, garis horizontal ditambahkan agar angka 7 tidak tertukar dengan angka lain dalam dokumen penting.
Seiring waktu, gaya penulisan ini menyebar ke berbagai wilayah dunia, termasuk Indonesia. Melalui sistem pendidikan kolonial Belanda, standar penulisan angka ala Eropa diajarkan di sekolah-sekolah. Dampaknya masih terasa hingga kini, terutama di lingkungan kerja yang menuntut presisi tinggi, seperti akuntansi dan administrasi, di mana angka salah bisa berakibat fatal.