Potret sapi sedang makan (pexels.com/Los Muertos Crew)
Walau gen menentukan dasar sifatnya, pertumbuhan tanduk tetap dipengaruhi oleh perawatan. Pembentukan jaringan tanduk memerlukan asupan mineral serta energi yang memadai. Kekurangan nutrisi khusus dapat menghambat ukuran maupun kualitas pertumbuhannya. Artinya, faktor pemeliharaan tetap memegang peranan penting.
Tekanan lingkungan ikut memberi dampak pada perkembangan fisik hewan ternak. Ruang yang terlalu padat atau persaingan ekstrem berpengaruh pada kesehatan secara menyeluruh. Tubuh akan memprioritaskan fungsi vital dibandingkan pembentukan struktur tambahan. Dampaknya bisa terlihat pada laju pertumbuhan yang kurang optimal.
Sebaliknya, sapi yang dipelihara dengan manajemen baik cenderung berkembang sesuai potensi genetiknya. Pakan seimbang dan ruang gerak memadai membantu proses pertumbuhan berlangsung stabil. Jika membawa sifat bertanduk, maka tanduk akan hadir sesuai karakter alaminya. Bila tidak, kepalanya tetap bersih sejak lahir.
Jadi, ada atau tidaknya tanduk pada sapi bukanlah hal yang terjadi acak. Semua berkaitan dengan gen bawaan, campur tangan manusia, dan kondisi lingkungan tempat sapi dibesarkan. Ketika tiga hal itu saling bertemu, di situlah kita melihat variasi alami yang selama ini mungkin luput dari perhatian.
Referensi :
Langova, L., Novotna, I., Nemcova, P., Machacek, M., Havlicek, Z., Zemanova, M., & Chrast, V. (2020). Impact of nutrients on the hoof health in cattle. Animals, 10(10), 1824.
Cozzi, G., Gottardo, F., Brscic, M., Contiero, B., Irrgang, N., Knierim, U., ... & Winckler, C. (2015). Dehorning of cattle in the EU Member States: A quantitative survey of the current practices. Livestock Science, 179, 4-11.
Phillips, A., Coventry, J., & Springs, A. (2004). Genetic effects on the mature weight of cattle. Northern Territory Government, Department of Primary Industry, Fisheries and Mines, https://industry. nt. gov. au/__data/assets/pdf_file/0013/233041/793. pdf (last access: 10 August 2024).