Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Kenapa Gajah Tidak Boleh Ditunggangi? Ini Alasannya!
ilustrasi gajah (pixabay.com/cocoparisienna)
  • Artikel mengungkap sisi kelam di balik wisata naik gajah, termasuk pelatihan kejam sejak kecil yang membuat hewan ini mengalami trauma fisik dan mental seumur hidup.
  • Punggung gajah tidak dirancang untuk menahan beban berat, sehingga praktik wisata ini menyebabkan luka, nyeri kronis, hingga memperpendek usia mereka secara signifikan.
  • Klaim konservasi dari industri wisata gajah terbukti menyesatkan karena justru mendorong penangkapan ilegal dan pembiakan paksa, sementara alternatif etis adalah observasi tanpa menunggangi.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Gajah selama ini dikenal sebagai simbol kekuatan, kebijaksanaan, dan keagungan. Di berbagai destinasi wisata seperti Thailand, India, hingga Bali, wisata naik gajah kerap dipromosikan sebagai pengalaman tak terlupakan. Duduk di atas punggung hewan raksasa ini, menyusuri hutan tropis, terdengar seperti mimpi bagi banyak orang.

Namun, di balik pengalaman yang tampak indah itu, ada kenyataan pahit yang jarang diperlihatkan kepada wisatawan. Banyak organisasi kesejahteraan hewan menyatakan bahwa praktik menunggangi gajah bersifat kejam, eksploitatif, dan merugikan hewan tersebut secara fisik maupun mental. Jadi, kenapa gajah tidak boleh ditunggangi? Berikut penjelasan lengkapnya.

1. Proses pelatihan yang kejam sejak masih bayi

Banyak orang tidak tahu bahwa gajah yang digunakan untuk wisata biasanya sudah dilatih sejak kecil. Anak gajah sering dipisahkan dari induknya saat usia 2–4 tahun untuk menjalani proses pelatihan yang disebut phajaan atau “the crush”.

Dalam proses ini, anak gajah dikurung di ruang sempit, diikat, lalu dipukul menggunakan tongkat besi atau alat tajam. Mereka juga sering dibiarkan tanpa makanan, air, dan tidur yang cukup selama berhari-hari. Tujuannya adalah menghancurkan mentalnya agar tunduk pada manusia.

Trauma ini bukan hal sepele. Banyak gajah yang menunjukkan gejala stres berat seumur hidup, seperti mengayun-ayunkan kepala terus-menerus, bergerak bolak-balik tanpa henti, atau menunjukkan agresivitas mendadak. Perilaku ini mirip dengan gangguan stres pascatrauma pada manusia.

2. Beban fisik yang menyiksa tubuh gajah

Secara alami, punggung gajah tidak dirancang untuk menopang beban berat seperti kuda. Dalam industri wisata, seekor gajah dewasa bisa membawa beban hingga 300 kilogram (termasuk pelana dan beberapa penumpang) selama 8–10 jam sehari.

Tekanan ini menyebabkan masalah serius: nyeri punggung kronis, radang sendi, luka terbuka akibat gesekan kursi pelana (howdah), hingga deformitas kaki karena terlalu lama berdiri di permukaan keras seperti beton. Banyak gajah wisata juga mengalami infeksi pada luka yang tidak ditangani dengan baik.

Di alam liar, gajah bisa hidup hingga 60–70 tahun. Namun, gajah yang terus-menerus dipakai untuk wisata sering kali tidak mencapai usia tersebut karena kelelahan dan kondisi kesehatan yang memburuk.

3. Mitos konservasi yang menyesatkan

ilustrasi gajah (pexels.com/Pixabay)

Banyak tempat wisata mengklaim bahwa naik gajah membantu konservasi. Sayangnya, klaim ini tidak benar. Perdagangan gajah untuk industri pariwisata justru mendorong penangkapan ilegal dari alam liar.

Permintaan wisata membuat ribuan gajah dipelihara dalam kondisi penangkaran. Di Thailand saja, lebih dari 2.500 gajah dimiliki secara pribadi untuk tujuan wisata. Banyak dari mereka tidak hidup di suaka konservasi yang benar-benar memprioritaskan kesejahteraan hewan.

Selain itu, sistem pembiakan paksa juga dilakukan agar pasokan gajah tetap ada. Anak gajah yang lahir sering kali kembali dipisahkan dari induknya untuk mengulangi siklus pelatihan yang sama. Ini bukan konservasi, melainkan industri.

4. Dampak psikologis yang tak terlihat

Gajah adalah hewan sosial dan sangat cerdas. Mereka memiliki ikatan keluarga yang kuat, mampu merasakan empati, bahkan menunjukkan tanda-tanda berduka ketika kehilangan anggota kelompoknya. Memaksa hewan secerdas ini hidup dalam rantai dan tekanan setiap hari tentu berdampak besar pada kesejahteraannya.

Perilaku seperti berdiri diam tanpa ekspresi atau terlihat “tenang” bukan berarti mereka bahagia. Sering kali itu tanda bahwa mereka sudah menyerah setelah melalui proses kekerasan panjang.

5. Alternatif wisata yang lebih etis

Kalau begitu, apakah kita harus berhenti berinteraksi dengan gajah sama sekali? Tidak juga. Ada banyak pilihan wisata yang lebih etis, seperti mengunjungi suaka yang benar-benar memprioritaskan kesejahteraan hewan, seperti Badan Taman Nasional Tesso Nilo, Taman Nasional Way Kambas, dan Suaka Margasatwa Padang Sugihan.

Di tempat seperti ini, pengunjung hanya diperbolehkan mengamati dari jarak aman tanpa menunggangi atau memaksa gajah beratraksi. Wisatawan tetap bisa belajar tentang perilaku gajah, memberi makan dengan pengawasan, dan melihat mereka hidup lebih alami.

Menunggangi gajah mungkin terlihat seperti pengalaman seru dan unik. Namun, di balik foto-foto indah itu, ada rantai, luka, dan trauma yang jarang terlihat kamera. Dengan memilih untuk tidak ikut naik gajah, kita ikut mengurangi permintaan terhadap industri yang menyakiti mereka.

Gajah bukanlah alat hiburan. Mereka adalah makhluk hidup yang berhak hidup bebas sesuai nalurinya. 

Referensi
Nextshark. Diakses pada Maret 2026. Thai Elephant Nursery Exposed for ‘Breaking’ Baby Elephants for Tourist Attractions
Project Aboard. Diakses pada Maret 2026. Elephant Rides: What I Wish I'd Known
Wildlife SOS. Diakses pada Maret 2026. Five Reasons Why You Should Never Ride Elephants If You Love Them!
Wold Animal Protection. Diakses pada Maret 2026. Taken for A Ride: Thousands of Elephants Exploited for Tourism are Held in Cruel Conditions

Editorial Team