Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Kenapa Mamalia Tidak Ada yang Berwarna Hijau?
Potret mamalia (unsplash.com/Daniel Quiceno M)
  • Mamalia tidak memiliki pigmen hijau alami karena sistem pewarnaan mereka hanya menghasilkan melanin dengan spektrum cokelat, hitam, kemerahan, dan abu-abu tanpa jalur biologis pembentuk warna hijau.
  • Evolusi mamalia berlangsung di lingkungan gelap pada masa dinosaurus, membuat warna bulu gelap lebih adaptif dibanding warna cerah sehingga palet melanin bertahan hingga kini.
  • Kamuflase mamalia efektif tanpa warna hijau karena banyak predator melihat secara dikromatik, sementara beberapa spesies seperti sloth tampak hijau akibat alga yang tumbuh di bulunya.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Tahukah kamu? Di alam, kita sering melihat warna hijau pada daun, rumput, reptil, amfibi, bahkan burung. Warna ini sangat umum di dunia sebab berguna untuk kamuflase dan bertahan hidup. Namun jika kita berpaling ke kelas mamalia, hampir tidak ada satu pun yang berwarna hijau alami meski banyak dari mereka hidup di habitat hijau lebat. Pertanyaannya, kenapa hal ini bisa terjadi? Yuk, kita bahas lewat penjelasan berikut ini!

1. Bulu mamalia tidak bisa memproduksi pigmen hijau

Domba di padang rumput hijau (pexels.com/Anthony Beck)

Warna pada mamalia ditentukan oleh pigmen bernama melanin yang diproduksi tubuh mereka sendiri. Melanin hanya menghasilkan spektrum warna hitam, cokelat, kemerahan, hingga kuning pucat. Tidak ada jalur biologis dalam tubuh mamalia yang mampu menghasilkan pigmen hijau murni.

Berbeda dengan banyak reptil, ikan, atau amfibi yang memiliki sel pigmen khusus penghasil warna hijau bernama kromatofor. Pada mamalia, sistem pewarnaannya sangat sederhana dan terbatas. Evolusi mereka tidak pernah mengembangkan mekanisme tambahan untuk membuat warna hijau. Karena itu, seberapa pun lamanya mamalia hidup di lingkungan hijau, warna bulunya tetap tidak akan berubah jadi hijau.

2. Evolusi mamalia berawal dari dunia yang gelap

Tikus (pexels.com/Anthony Beck)

Kalau kita mundur ke era dinosaurus, mamalia awal hanyalah makhluk kecil yang hidup di bawah bayang-bayang predator raksasa. Banyak ilmuwan menyebut fase ini sebagai nocturnal bottleneck hypothesis, yaitu periode panjang ketika nenek moyang mamalia lebih aktif pada malam hari. Strategi itu dipakai demi menghindari dinosaurus yang dominan berburu di siang hari. Hidup dalam gelap pun perlahan membentuk arah evolusi mamalia.

Bukti fosil mendukung gambaran tersebut. Penelitian yang terbit di jurnal Science lalu dirilis melalui laman EurekAlert! menunjukkan bahwa mamalia yang hidup sekitar 150 juta tahun silam kemungkinan besar berbulu gelap dan kusam. Analisis melanosom terhadap fosil mengindikasikan dominasi eumelanin, pigmen yang menciptakan warna cokelat tua serta abu-abu. Spektrum ini mirip dengan yang ada pada mamalia nokturnal modern seperti tikus atau kelelawar.

Selain itu, dalam kondisi minim cahaya, warna cerah sejatinya tidak memberi keuntungan berarti. Seleksi alam justru lebih “memilih” pendengaran tajam, penciuman kuat, dan gerak senyap ketimbang warna mencolok.

Saat dinosaurus punah, mamalia mulai menyebar ke berbagai habitat terbuka. Tetapi sistem warna mereka sudah telanjur stabil dengan palet yang dihasilkan melanin: cokelat, hitam, kemerahan, serta abu-abu yang cukup efektif untuk kamuflase di banyak lingkungan.

Evolusi cenderung mempertahankan solusi yang terbukti aman. Tanpa tekanan seleksi kuat, warna hijau tak pernah benar-benar “dibutuhkan”.

3. Kamuflase tidak selalu harus hijau

Macan tutul (pexels.com/Harvey Sapir)

Kita kadang berpikir bila ingin bersembunyi di hutan, hewan harus berwarna hijau. Padahal, banyak predator mamalia tidak melihat warna layaknya manusia. Banyak dari mereka punya penglihatan dikromatik yang sulit membedakan merah dan hijau. Artinya, warna cokelat pun bisa tampak menyatu dengan dedaunan bagi mata predator.

Lagipula, lingkungan hutan tidak sepenuhnya hijau polos. Ada batang pohon cokelat, tanah gelap, bayangan hitam, serta dedaunan kering. Warna bumi yang cokelat maupun abu-abu malah lebih fleksibel untuk menyatu di beragam habitat. Dari sudut pandang evolusi, menjadi hijau tidak selalu menghadirkan keuntungan tambahan yang signifikan.

4. Ada yang terlihat hijau, tapi bukan hijau asli

Sloth (unsplash.com/Tomáš Malík)

Kalau kamu pernah melihat sloth tampak kehijauan, penyebabnya bukan karena tubuhnya menghasilkan pigmen hijau. Warna itu berasal dari alga mikroskopis yang tumbuh di bulunya, terutama pada spesies Bradypus variegatus. Simbiosis tersebut bahkan membantu sloth berkamuflase di hutan hujan tropis.

Fenomena itu turut mempertegas bahwa mamalia tidak memproduksi hijau dari dalam tubuhnya. Nuansa hijau cuma hasil simbiosis dengan alga, bukan pigmen alami. Secara biologis, sloth tetap memiliki warna dasar cokelat atau abu-abu.

Pada akhirnya, tidak adanya mamalia hijau bukanlah kekurangan maupun anomali. Itu adalah hasil dari jalur evolusi yang berbeda dibanding kelompok hewan lain. Hijau memang warna kehidupan bagi tumbuhan, tetapi bukan bagian dari palet biologis mamalia.

Sumber Referensi :

Li, R., D’Alba, L., Debruyn, G., Dobson, J. L., Zhou, C. F., Clarke, J. A., ... & Shawkey, M. D. (2025). Mesozoic mammaliaforms illuminate the origins of pelage coloration. Science, 387(6739), 1193-1198.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team