Pernahkah kamu melihat kadal, ular, atau kura-kura diam lama di bawah sinar matahari? Sekilas, perilaku itu tampak seperti hanya bersantai di tempat yang hangat. Padahal, kebiasaan ini hampir selalu dilakukan reptil di berbagai habitat, mulai dari hutan hingga bebatuan terbuka. Banyak orang mengira mereka sekadar menikmati panas matahari, namun ternyata ada alasan penting di balik perilaku tersebut. Lalu, apa sebenarnya yang membuat mereka begitu gemar berjemur di bawah sinar matahari? Yuk, simak penjelasan lengkapnya berikut ini!
Kenapa Reptil Suka Berjemur di Bawah Sinar Matahari? Ini Alasannya

1. Mengatur suhu tubuh agar tetap ideal
Reptil tergolong hewan ektoterm, artinya suhu tubuh mereka bergantung pada lingkungan. Berbeda dengan mamalia yang mengeluarkan panas sendiri, reptil justru memperoleh energi termal dari luar tubuh.
Saat sinar matahari menyentuh kulit reptil, panas itu perlahan diserap dan meningkatkan suhu tubuh. Tanpa sumber panas ini, tubuh reptil cenderung lesu, yang lantas membuat aktivitasnya menurun drastis.
Perilaku berjemur juga merupakan bagian dari strategi thermoregulation. Reptil biasanya berpindah antara tempat panas dan tempat teduh agar suhu tubuhnya tetap berada pada kisaran normal.
2. Membantu proses pencernaan makanan
Setelah makan, banyak reptil akan mencari area terbuka yang hangat. Misalnya, kadal yang diam di atas batu setelah menyantap mangsa. Mereka bukan sedang malas bergerak, melainkan menyediakan waktu bagi tubuh mencerna makanan.
Dilansir Animal Researcher, peningkatan suhu tubuh bisa mempercepat kerja enzim dalam usus reptil. Dengan begitu, energi dari makanan dapat dimanfaatkan secara efisien untuk aktivitas sehari-hari.
3. Membantu pembentukan vitamin D
Sinar matahari juga penting dalam pembentukan vitamin D3. Paparan sinar ultraviolet (UVB) diketahui mampu memicu reaksi kimia pada kulit yang menghasilkan vitamin tersebut.
Tanpa vitamin D, kalsium sulit diserap tubuh, tulang jadi rapuh, dan kesehatan reptil terganggu. Menurut penelitian (Hedley, 2012; Oonincx dkk. 2013; Scagnelli, 2026), kekurangan vitamin D bahkan bisa menyebabkan penyakit tulang metabolik yang dapat melemahkan struktur rangka pada reptil.
4. Membantu melawan parasit dan bakteri
Suhu tubuh optimal yang diperoleh setelah reptil berjemur bukan cuma mendukung kelancaran metabolisme, tetapi turut berperan dalam melawan mikroorganisme pengganggu. Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa hewan berdarah dingin, termasuk reptil, mampu meningkatkan suhu tubuhnya dengan berpindah ke lingkungan yang lebih hangat ketika terinfeksi—mekanisme yang dikenal sebagai behavioral fever.
Peningkatan suhu tubuh melalui perilaku ini terbukti memperkuat respons imun terhadap patogen, serta memberi keuntungan bagi pertahanan tubuh reptil. Di sisi lain, paparan sinar ultraviolet (UV) dari matahari memiliki sifat disinfektan alami yang dapat membantu menekan pertumbuhan jamur serta berbagai mikroba pada permukaan kulit.
5. Meningkatkan energi untuk bergerak
Jika suhu tubuh meningkat, reaksi kimia dalam sel-sel otot reptil akan berjalan lebih cepat. Hal ini memungkinkan reptil bergerak dengan sigap saat mencari mangsa atau menghindari predator. Mereka dapat berlari, memanjat, atau berenang dengan kelincahan maksimal.
Sebaliknya, bila tubuh masih dingin, gerakan reptil cenderung lambat dan kaku. Karena itu, banyak reptil memilih berjemur terlebih dahulu sebelum mulai aktif.
6. Mempercepat proses pergantian kulit
Siklus pergantian kulit atau molting pada reptil membutuhkan energi metabolisme yang tidak sedikit. Berjemur menyediakan panas yang diperlukan dalam mempercepat regenerasi sel-sel kulit baru di bawah lapisan lama. Proses ini bikin kulit mati lebih mudah terlepas dan mengungkap lapisan segar di bawahnya.
Kulit baru bakal tumbuh sempurna dengan bantuan sinar ultraviolet. Paparan tersebut merangsang pembentukan pigmen serta struktur pelindung yang tepat. Efeknya, reptil memperoleh lapisan luar yang sehat, kuat, dan siap melindungi tubuh untuk periode berikutnya.
Nah, itulah beberapa alasan mengapa reptil sering terlihat berjemur di bawah sinar matahari. Kebiasaan ini membantu tubuh mereka bekerja dengan baik, seperti mengatur suhu tubuh, memperlancar pencernaan, dan menunjang metabolisme. Jadi, saat reptil berdiam di tempat yang hangat, sebenarnya mereka tengah memanfaatkan energi matahari supaya tetap aktif bergerak.
Sumber Referensi :
Godwin, C. D., Walker, D. M., Romer, A. S., Grajal-Puche, A., Grisnik, M., Goessling, J. M., ... & Murray, C. M. (2021). Testing the febrile response of snakes inoculated with Ophidiomyces ophidiicola, the causative agent of snake fungal disease. Journal of thermal biology, 100, 103065.
Rakus, K., Ronsmans, M., & Vanderplasschen, A. (2017). Behavioral fever in ectothermic vertebrates. Developmental & Comparative Immunology, 66, 84-91.
Oonincx, D. G. A. B., Van De Wal, M. D., Bosch, G., Stumpel, J. B. G., Heijboer, A. C., Van Leeuwen, J. P. T. M., ... & Kik, M. (2013). Blood vitamin D3 metabolite concentrations of adult female bearded dragons (Pogona vitticeps) remain stable after ceasing UVb exposure. Comparative Biochemistry and Physiology Part B: Biochemistry and Molecular Biology, 165(3), 196-200.
Scagnelli, A. (2026). Beyond Metabolic Bone Disease: Exploring the Role of Vitamin D in Exotic Animal Health. Veterinary Clinics: Exotic Animal Practice, 29(1), 179-201.
Hedley, J. (2012). Metabolic bone disease in reptiles: Part 1. UK Vet Companion Animal, 17(6), 52-54.
Seebacher, F., & Franklin, C. E. (2003). Prostaglandins are important in thermoregulation of a reptile (Pogona vitticeps). Proceedings of the Royal Society of London. Series B: Biological Sciences, 270(suppl_1), S50-S53.
Sagonas, K., Paraskevopoulou, F., Kotsakiozi, P., Sozopoulos, I., Pafilis, P., & Valakos, E. D. (2025). Digestive Enzyme Activity and Temperature: Evolutionary Constraint or Physiological Flexibility?. Animals, 16(1), 100.
Yoshizaki, N. (1985). Fine structure of oviducal epithelium of Xenopus laevis in relation to its role in secreting egg envelopes. Journal of morphology, 184(2), 155-169.