ilustrasi jam dinding (pexels.com/Tima Miroshnichenko)
Pembagian sehari menjadi 24 jam berasal dari peradaban Mesir kuno. Bangsa Mesir mengembangkan kalender matahari 365 hari yang dibagi menjadi 12 bulan dan menggunakan sistem duodecimal (basis 12) untuk membagi siang dan malam. Dengan bantuan jam matahari berbentuk T, mereka membagi waktu antara terbit dan terbenam matahari menjadi 12 bagian sama panjang sehingga terbentuk 12 jam siang dan 12 jam malam.
Pada malam hari, pengukuran waktu dilakukan dengan mengamati 18 bintang khusus untuk membagi sisa 12 jam malam secara akurat, mengikuti rotasi Bumi. Dengan cara ini, Mesir kuno mampu memadukan sistem angka mereka dengan pergerakan matahari dan bintang-bintang, menciptakan cara yang konsisten untuk mengukur waktu sehari-hari.
Ide pembagian 24 jam ini kemudian diwarisi oleh bangsa Romawi pada 45 SM di bawah Julius Caesar dengan kalender Julian. Kalender ini menambahkan aturan tahun kabisat untuk menyesuaikan perbedaan kecil antara waktu kalender dan waktu matahari.
Itulah sejarah di balik alasan kenapa satu jam 60 menit. Setiap detik yang kamu lalui hari ini adalah warisan kecerdasan peradaban kuno yang tetap abadi melintasi ribuan tahun zaman. Menarik, ya?
Kenapa satu jam dibagi 60 menit? | Karena warisan sistem angka Babylonia berbasis 60 yang mudah dibagi dan presisi. |
Kenapa bukan angka lain, misal 100 menit per jam? | 60 memiliki banyak pembagi (1, 2, 3, 4, 5, 6, 10, 12, 15, 20, 30), sehingga lebih fleksibel. |
Apakah pembagian 24 jam sehari berasal dari Babylonia juga? | Tidak langsung; bangsa Mesir membagi siang dan malam menjadi 12 jam masing-masing, membentuk 24 jam. |
Referensi
"Why Are There 60 Seconds in a Minute, 60 Minutes in an Hour, and 24 Hours in a Day? And Other Oddities". Monochrome. Diakses Januari 2026.
"Why Is a Minute Divided Into 60 Seconds, an Hour Into 60 Minutes, Yet There Are Only 24 Hours In a Day?". Scientific American. Diakses Januari 2026.