ilustrasi kerang (commons.wikimedia.org/Megan Bradley/USFWS)
Di alam, kondisi berbahaya jarang muncul sebagai satu faktor tunggal semata. Kenaikan suhu, penurunan kualitas air, serta perubahan arus sering terjadi dalam waktu berdekatan. Kerang membaca akumulasi perubahan ini sebagai sinyal bahwa lingkungan tidak lagi aman. Tubuhnya tidak hanya merespons satu rangsangan, tetapi juga gabungan dari semuanya.
Dalam kondisi seperti ini, penutupan cangkang berlangsung lebih lama dan terjadi secara konsisten. Kerang tidak bisa mengonsumsi makanan sepenuhnya, sementara tubuh mereka akan mengandalkan cadangan energi yang telah tersimpan. Kerang memilih bertahan sambil menunggu kondisi perairan membaik.
Kemampuan kerang tahu kapan air laut sedang berbahaya terbentuk dari sistem sensorik sederhana yang bekerja terus-menerus melalui kontak langsung dengan lingkungannya. Melalui penutupan cangkang, perlambatan filtrasi, dan penyesuaian aktivitas tubuh, kerang dapat mengurangi risiko kerusakan akibat perubahan kualitas perairan. Respons ini membuat kerang sering digunakan sebagai salah satu indikator perubahan kondisi lingkungan laut.
Referensi
"Understanding Ocean Acidification" NOAA Fisheries. Diakses pada Februari 2026
"High levels of toxins in clams follows rapid warmup in Gulf of Alaska waters" Alaska Beacon. Diakses pada Februari 2026
"Clams" Oregon Department of Fish & Wildlife. Diakses pada Februari 2026
"Warmer Waters Linked to Higher Levels of Shellfish Toxin" Live Scince. Diakses pada Februari 2026