Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
ilustrasi perkebunan sawit
ilustrasi perkebunan sawit (commons.wikimedia.org/Papischou)

Intinya sih...

  • Pembukaan lahan menghilangkan daya ikat alami tanah

  • Sistem drainase mempercepat ketidakseimbangan air

  • Residu pupuk mengubah kualitas air sekitar

Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Dampak sawit untuk lingkungan terus menjadi perhatian karena aktivitas industri ini berkaitan langsung dengan perubahan kondisi alam dalam jangka panjang. Ekspansi perkebunan sawit memengaruhi tanah, air, dan udara secara bersamaan melalui proses yang berjalan perlahan tetapi konsisten. Kerusakan yang muncul sering kali tidak langsung terlihat, tapi efeknya terakumulasi dari tahun ke tahun.

Banyak persoalan lingkungan justru berawal dari praktik teknis yang dianggap biasa dalam sistem produksi sawit modern. Ketika perubahan alam dibiarkan berlangsung tanpa koreksi, daya dukung lingkungan ikut menurun. Situasi ini memperlihatkan bahwa masalah sawit bukan hanya soal luas lahan, tetapi cara pengelolaannya. Berikut beberapa kesalahan fatal industri sawit yang mempercepat kerusakan lingkungan.

1. Pembukaan lahan menghilangkan daya ikat alami tanah

ilustrasi pembukaan lahan (commons.wikimedia.org/wanda.cc)

Pembukaan lahan sawit dilakukan dengan membersihkan vegetasi yang selama ini menjaga permukaan tanah tetap stabil. Akar tanaman alami berfungsi menahan partikel tanah agar tidak mudah terbawa air hujan. Ketika lapisan ini hilang, tanah menjadi lebih gembur dan rentan terkikis. Air hujan yang turun langsung mengalir di permukaan tanpa hambatan.

Aliran air tersebut membawa lapisan tanah paling subur menuju sungai. Dalam waktu tertentu, lahan kehilangan kemampuan menyimpan air dan nutrisi. Produktivitas tanah menurun meski masih terlihat hijau dari permukaan. Kerusakan ini bersifat kumulatif dan sulit dipulihkan. Dampaknya baru terasa setelah kondisi lahan benar-benar menurun.

2. Sistem drainase mempercepat ketidakseimbangan air

ilustrasi perkebunan sawit (commons.wikimedia.org/Wagino 20100516)

Perkebunan sawit menggunakan saluran drainase untuk mengatur genangan air. Air yang sebelumnya tersimpan di dalam tanah dialirkan keluar secara terus-menerus. Akibatnya, cadangan air tanah berkurang dan wilayah sekitar menjadi lebih kering. Kondisi ini membuat lingkungan kehilangan penyangga alami saat musim kemarau.

Saat hujan deras, air tidak lagi tertahan dan langsung mengalir ke sungai. Volume air meningkat dalam waktu singkat dan memicu luapan. Pola ini membuat banjir dan kekeringan terjadi silih berganti. Sungai juga membawa lebih banyak sedimen. Lingkungan perairan pun ikut terganggu.

3. Residu pupuk mengubah kualitas air sekitar

ilustrasi perkebunan sawit (commons.wikimedia.org/Wagino 20100516)

Perkebunan sawit membutuhkan pupuk dalam jumlah besar agar produksi tetap tinggi. Tidak semua unsur hara diserap oleh tanaman. Sebagian larut bersama air hujan dan masuk ke badan air di sekitarnya. Proses ini berlangsung terus selama pemupukan dilakukan.

Akumulasi zat tersebut memicu pertumbuhan organisme air secara berlebihan. Air kehilangan oksigen dan menjadi keruh. Ikan serta organisme lain sulit bertahan hidup. Air yang tercemar juga tidak lagi aman digunakan oleh masyarakat sekitar. Perubahan ini terjadi perlahan, sehingga sering dianggap bukan masalah mendesak.

4. Sistem monokultur mengurangi ketahanan ekosistem

ilustrasi perkebunan sawit (commons.wikimedia.org/CEphoto, Uwe Aranas)

Perkebunan sawit menanam satu jenis tanaman dalam area sangat luas. Kondisi ini membuat variasi organisme di dalam tanah dan di permukaan lahan semakin terbatas. Lingkungan menjadi seragam dan kehilangan keseimbangan alami. Proses pembusukan dan pembaruan unsur tanah berjalan lebih lambat.

Tanah menjadi lebih bergantung pada input buatan untuk tetap produktif. Ketika satu komponen terganggu, seluruh sistem ikut terdampak. Tidak ada mekanisme alami yang cukup kuat untuk menahan perubahan ekstrem. Ekosistem menjadi rapuh dan sulit beradaptasi. Dampaknya terasa dalam jangka panjang.

5. Pelepasan karbon meningkat akibat degradasi lahan

ilustrasi perkebunan sawit (commons.wikimedia.org/T. R. Shankar Raman)

Perubahan tutupan lahan menyebabkan pelepasan karbon yang tersimpan di tanah dan vegetasi. Proses ini tidak berhenti setelah pembukaan lahan selesai. Selama tanah terus mengalami degradasi, karbon tetap dilepaskan ke udara. Kondisi ini memperburuk kualitas atmosfer secara bertahap.

Lahan yang telah rusak juga kehilangan kemampuan menyerap karbon kembali. Artinya, kerusakan lingkungan hari ini akan berdampak pada masa depan. Efeknya tidak terlihat dalam satu siklus produksi. Namun, akumulasinya mempercepat perubahan lingkungan dalam skala luas. Dampak ini sering diremehkan karena tidak langsung terasa.

Dampak sawit untuk lingkungan terbentuk melalui rangkaian perubahan yang saling berkaitan dan berlangsung terus-menerus. Kesalahan teknis yang dibiarkan berulang membuat alam kehilangan kemampuan memulihkan diri. Jika pola ini terus berjalan tanpa pembenahan, seberapa besar risiko lingkungan yang sebenarnya sedang ditumpuk hari ini tanpa disadari?

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team