Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
5 Kota yang Terancam Tenggelam karena Pemanasan Global dan Manusia
potret Kota Bangkok yang menghadapi risiko banjir dan penurunan tanah (pexels.com/Sergei Gussev)
  • Kenaikan permukaan laut akibat pemanasan global dan aktivitas manusia menyebabkan sejumlah kota pesisir dunia menghadapi ancaman tenggelam yang semakin nyata.
  • Lima kota utama yang terancam adalah Jakarta, Venice, Bangkok, New Orleans, dan Alexandria, masing-masing mengalami kombinasi penurunan tanah serta kenaikan air laut.
  • Fenomena ini menegaskan perlunya kesadaran global dan langkah pencegahan serius agar dampak perubahan iklim tidak semakin memperburuk kondisi lingkungan dan kehidupan masyarakat.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Kenaikan permukaan laut merupakan salah satu dampak nyata dari pemanasan global yang semakin dirasakan di berbagai belahan dunia. Fenomena ini terjadi akibat mencairnya es di kutub serta pemuaian air laut karena peningkatan suhu bumi. Tidak hanya itu, aktivitas manusia seperti eksploitasi air tanah dan pembangunan yang masif juga turut memperparah kondisi di sejumlah wilayah, khususnya kota-kota pesisir.

Seiring berjalannya waktu, ancaman tersebut tidak lagi sekadar prediksi, tapi sudah mulai terlihat dalam bentuk banjir rob, penurunan permukaan tanah, hingga kerusakan infrastruktur. Beberapa kota besar di dunia bahkan diperkirakan akan menghadapi risiko tenggelam jika kondisi ini terus berlanjut tanpa penanganan serius. Untuk memahami lebih lanjut kota-kota yang menghadapi risiko tersebut, yuk, simak pembahasan berikut.

1. Jakarta, Indonesia

potret Kota Jakarta (pexels.com/Tom Fisk)

Jakarta merupakan salah satu kota dengan tingkat penurunan tanah tercepat di dunia. Sebagai ibu kota dengan jumlah penduduk yang sangat besar, Jakarta berada di wilayah pesisir yang dilalui banyak sungai dan berbatasan langsung dengan laut, sehingga rentan terhadap banjir. Dalam beberapa tahun terakhir, banjir terjadi semakin sering dan parah. Para peneliti bahkan memperkirakan bahwa jika kondisi ini tidak ditangani dengan serius, sebagian wilayah Jakarta, khususnya Jakarta Utara, berpotensi terendam pada tahun 2050.

Kondisi ini tidak hanya disebabkan oleh kenaikan permukaan laut akibat pemanasan global, tetapi juga oleh aktivitas manusia. Penggunaan air tanah secara berlebihan membuat lapisan tanah di bawah permukaan menjadi kosong dan perlahan turun. Di beberapa area, penurunan tanah terjadi cukup cepat sehingga memperbesar risiko tenggelam. Hal ini menunjukkan bahwa ancaman yang dihadapi Jakarta merupakan hasil dari kombinasi antara perubahan iklim dan aktivitas manusia yang tidak terkendali.

2. Venesia, Italia

potret Kota Venice (unsplash.com/Ricardo Gomez Angel)

Venesia merupakan kota bersejarah yang terkenal dengan kanal-kanalnya, namun di balik keindahannya, kota ini menghadapi ancaman tenggelam yang cukup serius. Sejak lama, Venesia memang sudah rentan terhadap banjir karena dibangun di atas wilayah rawa yang berada di laguna yang dangkal. Dalam beberapa tahun terakhir, kondisi ini semakin memburuk akibat kenaikan permukaan laut yang dipicu oleh pemanasan global, sehingga banjir musiman menjadi lebih sering terjadi dan merendam area kota yang rendah.

Selain itu, kondisi Venesia juga dipengaruhi oleh faktor lain seperti penurunan tanah akibat tekanan bangunan di atas tanah yang lunak. Proses ini terjadi secara perlahan selama ratusan tahun dan diperparah oleh aktivitas manusia di masa lalu, seperti pengambilan air tanah. Kombinasi antara faktor alami dan perubahan iklim membuat Venesia semakin rentan terhadap banjir dan kenaikan air laut, sehingga berbagai upaya terus dilakukan untuk melindungi kota ini dari kerusakan yang lebih parah.

3. Bangkok, Thailand

potret Kota Bangkok (pexels.com/Wilfried Strang)

Bangkok merupakan salah satu kota besar di Asia Tenggara yang menghadapi tantangan serius akibat perubahan iklim. Kota ini terletak di wilayah delta Sungai Chao Phraya yang rendah, dengan ketinggian rata-rata hanya sekitar 1,5 meter di atas permukaan laut. Kondisi geografis ini membuat Bangkok sangat rentan terhadap banjir, terutama saat musim hujan. Selain itu, kepadatan penduduk dan pembangunan yang pesat juga memberikan tekanan tambahan terhadap lingkungan kota.

Di sisi lain, Bangkok juga mengalami penurunan tanah akibat penggunaan air tanah dan beban bangunan yang terus meningkat. Meskipun terjadi secara bertahap, kondisi ini dapat meningkatkan risiko kota berada di bawah permukaan laut dalam jangka panjang, terutama jika disertai kenaikan permukaan laut akibat pemanasan global. Hal ini menunjukkan bahwa ancaman tersebut merupakan hasil dari kombinasi faktor alam dan aktivitas manusia.

4. New Orleans, Amerika Serikat

potret Kota New Orleans (unsplash.com/Kristina Volgenau)

New Orleans merupakan salah satu kota di Amerika Serikat yang menghadapi ancaman penurunan tanah. Sebagian wilayahnya bahkan sudah berada di bawah permukaan laut, sehingga sangat rentan terhadap banjir dan gelombang pasang. Beberapa area di kota ini terus mengalami penurunan tanah setiap tahunnya, meskipun dalam skala kecil. Namun, kondisi tersebut tetap meningkatkan risiko banjir, terutama jika dikombinasikan dengan kenaikan permukaan laut akibat perubahan iklim.

Penurunan tanah ini dipengaruhi oleh berbagai faktor, seperti penggunaan air tanah, pembangunan, serta kondisi tanah yang lunak. Selain itu, pengeringan lahan basah di sekitar kota juga turut mempercepat proses tersebut. Jika tidak diimbangi dengan perbaikan infrastruktur perlindungan banjir, kondisi ini dapat mengurangi efektivitas sistem yang ada dan meningkatkan risiko bagi masyarakat di masa depan.

5. Alexandria, Mesir

potret Kota Alexandria (pexels.com/Rewan Ahmed)

Alexandria merupakan kota pesisir di Mesir yang menghadapi risiko besar akibat kenaikan permukaan laut dan perubahan iklim. Menurut laporan panel iklim dunia, wilayah Delta Nil termasuk Alexandria berisiko mengalami banjir besar jika permukaan laut terus meningkat. Bahkan, dalam beberapa dekade terakhir, air laut telah semakin masuk ke daratan, sementara banjir mulai merusak bangunan dan memaksa sebagian warga meninggalkan tempat tinggal mereka.

Selain itu, Alexandria juga mengalami penurunan tanah secara perlahan akibat berkurangnya endapan alami dari Sungai Nil serta aktivitas manusia seperti eksplorasi gas lepas pantai. Kondisi ini diperparah oleh kenaikan suhu dan cuaca ekstrem yang semakin sulit diprediksi. Jika tidak ditangani dengan baik, dampaknya tidak hanya mengancam lingkungan dan permukiman, tetapi juga perekonomian, mengingat Alexandria merupakan salah satu pusat pelabuhan utama di Mesir.

Ancaman tenggelamnya kota-kota tersebut menunjukkan bahwa dampak pemanasan global dan aktivitas manusia sudah semakin nyata di berbagai belahan dunia. Namun, kelima kota ini sebenarnya hanya sebagian kecil dari banyak wilayah lain yang juga menghadapi risiko serupa. Karena itu, upaya pencegahan dan kesadaran bersama menjadi penting agar dampak yang lebih besar di masa depan dapat diminimalkan.

Referensi

“Jakarta, the fastest-sinking city in the world”. BBC News. Diakses pada Maret 2026.

“Is Venice Sinking? [Updated January 2026]”. Rustic Pathways. Diakses pada Maret 2026.

“Resilient and Regenerative Cities: A Case Study of Bangkok”. Centre for Liveable Cities Knowledge Hub. Diakses pada Maret 2026.

“Parts of New Orleans Are Sinking”. Eos (Earth & Space Science News). Diakses pada Maret 2026.

“Egypt: Alexandria Expected to Sink by 2100”. Africanews. Diakses pada Maret 2026.

“These 11 Sinking Cities Could Disappear by 2100”. World Economic Forum. Diakses pada Maret 2026.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team