Marah dan sedih adalah emosi yang wajar dialami setiap manusia, terutama ketika ada sesuatu yang mengganjal di hati maupun pikiran. Luapan emosi ini bisa keluar lewat ucapan, maupun tulisan. Menariknya, bahasa yang digunakan pun beragam, mulai dari bahasa ibu hingga bahasa kedua (biasanya bahasa Inggris). Uniknya, beberapa orang merasa "plong" atau lega jika marah pakai bahasa Inggris.
Sebenarnya, mengapa banyak orang justru merasa lebih lega saat meluapkan emosi menggunakan bahasa asing, terutama bahasa Inggris? Jawabannya bisa ditelusuri dari temuan para peneliti, dan menariknya, hal ini juga sangat dekat dengan keseharian kita.
Bahasa kedua mampu menciptakan jarak emosional, membuat perasaan terasa lebih ringan dan tidak terlalu menusuk. Ditambah lagi, kebiasaan berbahasa, lingkungan, serta paparan media ikut membentuk bagaimana seseorang mengekspresikan emosinya. Dari sinilah muncul beberapa alasan yang menjelaskan fenomena tersebut.
