Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Mengapa Salju Tampak Berwarna Putih? Ini Alasannya
ilustrasi hamparan salju (pexels.com/eberhard grossgasteiger)
  • Salju terbentuk dari uap air yang membeku di awan pada suhu di bawah titik beku, menghasilkan kristal es berbentuk unik dengan enam sisi.
  • Jenis salju bervariasi tergantung suhu dan kadar air, mulai dari salju bubuk ringan hingga salju basah dan kerak yang padat.
  • Warna putih salju muncul karena pantulan cahaya matahari ke segala arah oleh kristal es, meski kadang bisa tampak merah atau biru akibat pengaruh alga dan ketebalan es.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Salju identik dengan warna putihnya yang menyilaukan. Uniknya, jika kamu perhatikan setiap kepingan salju menampilkan bentuk yang berbeda-beda, begitupun dengan warnanya yang justru terlihat bening seperti kaca. Lalu, kemana perginya warna putih yang biasa kita lihat itu?

Proses pembentukan salju tidak menambahkan pewarna putih. Bahan utama salju pun sederhana, yakni uap air di awan dan debu. Jika dirasa sudah berat salju akan turun ke bumi tetap dengan suhunya yang sangat dingin. Salju yang terus turun akan membentuk hamparan putih menyilaukan. Tapi, kenapa warna salju selalu putih? Apakah justru ada warna lain selain putih? Untuk menjawab rasa penasaran, ada baiknya simak jawbannya di bawah ini, ya!

1. Apa itu salju?

ilustrasi salju (pexels.com/Sindre Fs)

Dilansir World Meteorological Organization, salju merupakan presipitasi yang terbentu sebagai kristal es di awan di mana suhu berada di bawah titik beku 0℃ atau 32℉. Salju muncul dalam berbagai bentuk, termasuk kepingan salju, graupel, dan hujan es, dengan kepingan salju berupa gugusan kristal es yang umumnya berdiameter kurang dari 1,3 cm.

Salju membutuhkan dua kondisi cuaca yang spesifik, suhu rendah dan kelembapan di atmosfer. Di tempat-tempat yang hangat dan lembap, seperti Florida, terdapat kelembapan yang signifikan di udara, tetapi suhu jarang cukup rendah untuk menghasilkan salju. Dan meskipun banyak gurun menjadi sangat dingin di musim dingin, jarang ada cukup kelembapan di atmosfer untuk menghasilkan salju.

Bahkan Antartika yang merupakan benua terdingin dengan es paling melimpah, memiliki wilayah yang disebut lembah kering, di mana suhunya sangat dingin, tetapi sangat kering sehingga salju hampir tidak pernah turun. Salju paling umum terjadi di dataran tinggi dan lintang tinggi, khsuusnya wilayah pegunungan di belahan bumi utara dan selatan. Di mana setiap tahunnya, salju menutupi area seluas 46 juta kilometer persegi, terutama di Amerika Utara, Greenland, Eropa, dan Rusia.

2. Bagaimana salju terbentuk?

ilustrasi salju (unsplash.com/aaron-burden)

Salju terbentuk di ketinggian awan dari uap air, yaitu air dalam bentuk gas. Jika awan cukup dingin, uap air akan membeku membentuk kristal es. Pada suhu antara -40°F (-40°C) dan 32°F (0°C), uap air mengkristal di sekitar partikel debu di dalam awan. Pada suhu yang lebih rendah, uap air membeku langsung menjadi kristal es.

Kristal es dapat tetap berada di awan. Atau, jika cukup berat, kristal es dapat jatuh ke tanah. Saat hujan, kristal es dapat menggumpal bersama kristal es lainnya membentuk kepingan salju. Satu kepingan salju dapat mengandung hingga 100 kristal es. Namun, beberapa kristal es tunggal juga jatuh sebagai salju.

Jika diperhatikan setiap kepingan salju memiliki desain yang unik. Setiap kepingannya memiliki enam titik atau enam sisi. Mereka membentuk tujuh bentuk dasar mulai dari bintang, jarum, lempengan, kolom, kolom yang ditutupi lempengan, dan tidak beraturan atau rusak. Bentuk kepingan salju bergantung pada suhu dan jumlah uap air di dalam awan.

3. Jenis-jenis salju

ilustrasi salju (pexels.com/Kristin Vogt)

Tahukah kamu bahwa salju memiliki banyak variasi, hal ini tergantung pada suhu dan kadar airnya. Di mana kedua faktor tersebut memengaruhi segala hal mulai dari berapa banyak salju yang diturunkan dan bentuk-bentuk tiap kepingan salju. Berikut adalah berbagai jenis salju yang dapat kamu jumpai selama musim dingin:

  • Salju bubuk: Salju bubuk terbentuk ketika udara sangat dingin dan mengandung sedikit uap air. Jenis salju ini ideal untuk bermain ski karena mudah dilalui dan tidak lengket.

  • Salju padat: Salju jenis ini terjadi ketika kepingan salju sedikit mencair lalu membeku kembali, atau ketika salju telah dipadatkan oleh angin dan aktivitas manusia. Salju padat lebih tebal dan lebih kompak daripada salju bubuk, sehingga cocok untuk membuat manusia salju atau untuk bermain snowboarding.

  • Salju basah: Ciri khas salju basah biasanya lebih lembap dan berat. Salju ini terjadi ketika suhu berada tepat di bawah atau sedikit di atas titik beku. Jenis salju ini biasanya cocok digunakan untuk membuat bola salju dan benteng salju karena mudah dipadatkan dan saling menempel.

  • Salju jagung: Pembentukan salju jagung dimulai ketika permukaan salju mencair di siang hari dan membeku kembali di malam hari. Menciptakan butiran yang menyerupai biji jagung. Salju ini sering ditemukan di musim semi dan bisa menyenangkan bagi pemain ski yang lebih berpengalaman.

  • Salju kerak: Salju kerak memiliki lapisan permukaan es yang keras yang menutupi salju yang lebih lembut di bawahnya. Salju ini terbentuk setelah siklus pencairan dan pembekuan kembali.

  • Salju lumpur: Salju yang sebagian mencair bercampur dengan air. Biasanya terjadi di sekitar titik leleh dan dapat membuat perjalanan menjadi berantakan dan licin. Salju jenis ini sangat tidak menguntungkan untuk segala aktivitas di luar ruangan.

4. Alasan salju berwarna putih

ilustrasi bermain salju (pexels.com/Vika Glitter)

Dengan memahami anatomi sifat fisik salju dan es membantu kita memahami warna salju. Salju sendiri adalah kristal es kecil yang saling menempel. Adanya cahaya pantulan adalah alasan utama mengapa kita melihat salju dominan putih. Cahaya tampak dari matahari terdiri dari serangkaian panjang gelombang cahaya yang diinterpretasikan mata kita sebagai berbagai bentuk dan warna. Ketika cahaya mengenai suatu benda, panjang gelombang yang berbeda diserap atau dipantulkan kembali ke mata kita.

Saat salju jatuh melalui atmosfer dan mendarat di tanah, cahaya kemudian dipantulkan dari permukaan kristal es, yang memiliki banyak sisi. Sebagian cahaya yang mengenai salju dihamburkan kembali secara merata ke semua warna spektral, dan karena cahaya putih terdiri dari semua warna dalam spektrum tampak, mata manusia melihat kepingan salju berwarna putih.

Saat cahaya mengenai salju di tanah, ada begitu banyak lokasi tempat cahaya dipantulkan sehingga tidak ada satu panjang gelombang pun yang secara konsisten diserap atau dipantulkan. Oleh karena itu, sebagian besar cahaya putih matahari yang mengenai salju akan dipantulkan kembali sebagai cahaya putih.

Salju tidak selalu berwarna putih, adanya butiran pasir dapat membuat salju sedikit lebih cokelat keemasan, atau salju dapat memiliki rona merah ketika ada karat dan bakteri. Sebelumnya, pernah ditemukan salju berwarna merah di pegunungan Sierra Nevada, California dan pegunungan Alpen Prancis, yang mana bercak-bercak salju berwarna merah ini adalah hasiil dari Chlamydomonas nivalis.

Chlamydomonas nivalis, sejenis alga hijau yang menyukai suhu dingin dan tumbuh subur di air yang membeku. Warna merah ini berasal dari pigmen karotenoid merah terang yang bertindak seperti tabir surya, melindungi klorofil hijau alga dari sinar UV. Tidak hanya putih dan merah, salju juga kadangkala terlihat berwarna biru. Salju berwarna biru sering terlihat di Islandia dan Alaska. Warna ini terjadi karena es yang tebal dan padat menyerap panjang gelombang cahaya yang lebih panjang, seperti merah dan kuning kemudian memantulkan kembali panjang gelombang biru yang lebih pendek ke arah mata manusia.

Sebagai penutup, salju merupakan es kristal dengan bentuk segi enam yang simetris. Salju terdiri dari banyak jenis mulai dari yang bubuk hingga salju lumpur. Salju tampak berwarna putih karena cahaya matahari masuk dan mantul ke segala arah di dalam tumpukan salju. Di beberapa tempat, salju seringkali berwarna merah bahkan biru.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team