Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Mengenal Deosai National Park, Taman Nasional Ikonik di Pakistan
potret kawasan Taman Nasional Deosai yang berlokasi di wilayah Gilgit Baltistan, Pakistan (commons.wikimedia.org/Qammer Wazir)
  • Taman Nasional Deosai di Gilgit Baltistan, Pakistan, berada di ketinggian sekitar 4.114 mdpl dan dikenal sebagai taman nasional dataran tinggi tertinggi kedua di dunia setelah Tibet.
  • Didirikan tahun 1993, taman ini menjadi habitat utama beruang cokelat himalaya yang langka serta rumah bagi berbagai satwa liar seperti macan tutul salju, rusa kashmir, dan lebih dari 120 spesies burung.
  • Deosai kaya akan bunga liar musiman dan Danau Sheosar yang indah; telah diusulkan sejak 2016 untuk masuk daftar warisan dunia UNESCO karena keindahan alam dan keanekaragaman hayatinya.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Deosai National Park atau yang lebih dikenal dengan nama Taman Nasional Deosai adalah taman nasional ikonik yang berlokasi di antara Distrik Skardu dan Distrik Astore di wilayah Giligit Baltistan, Pakistan yang terkenal dengan panorama alamnya yang menakjubkan. Berada di sebelah timur salah satu puncak gunung tertinggi di dunia, Nanga Parbat (8.126 mdpl) serta dikelilingi oleh rangkaian Pegunungan Deosai, taman nasional tersebut bagaikan sebuah "negeri dongeng" dengan hamparan dataran hijau yang memesona, puncak-puncak gunung bersalju serta ekosistem yang terasa tak tersentuh oleh waktu.

Meurut laman Daily Times, nama "Deosai" sendiri menceritakan sebuah kisah yang menarik, sebagai gabungan dari dua kata yang berasal dari bahasa Shina, yakni "Deo" yang memiliki arti raksasa dan "Sai" yang berarti bayangan, sehingga terjemahan untuk Deosai dapat berarti "bayangan raksasa" atau"tanah para raksasa". Taman Nasional Deosai menarik minat banyak wisatawan penyuka aktifitas luar ruangan di alam liar. Banyak diantara mereka yang mengatakan menjelajahi Taman Nasional Deosai adalah pengalaman yang sangat mengesankan sekali seumur hidup.

Ingin tahu lebih lanjut mengenai taman nasional yang juga menjadi salah satu tempat utama perlindungan satwa langka beruang coklat himalaya ini? Simak lima fakta menariknya berikut ini, yuk!

1. Taman Nasional tertinggi kedua di dunia

Dilansir laman Northern Discover, kawasan Taman Nasional Deosai ini berada pada ketinggian rata-rata sekitar 4,114 mdpl yang menjadikannya sebagai taman nasional dataran tinggi tertinggi kedua di dunia setelah dataran tinggi Tibet. Berbeda dengan lanskap kebanyakan taman nasional lainnya, karena ketinggiannya, taman nasional ini merupakan lanskap dataran tinggi tanpa pepohonan yang dicirikan oleh banyaknya padang rumput alpine dan vegetasi kerdil.

Selain itu Taman Nasional Deosai ini juga memiliki danau dataran tinggi yang indah bernama Danau Sheosar. Danau Sheosar dikenal sebagai salah satu danau besar tertinggi di dunia yang terletak pada ketinggian sekitar 4.000-an mdpl. Danau tersebut terkenal dengan warna airnya yang sangat biru, berlatar berlakang puncak-puncak gunung bersalju dan lingkungan dataran pegunungan tinggi yang hijau dan subur. Danau Sheosar membeku sepanjang tahun kecuali pada musim panasnya di bulan Juni hingga September.

2. Tempat perlindungan beruang cokelat himalaya

potret beruang coklat himalaya (Ursus arctos isabellinus) yang terancam punah (commons.wikimedia.org/Zoo Hluboka)

Taman Nasional Deosai yang didirikan pada tahun 1993 ini merupakan salah satu tempat utama untuk perlindungan satwa langka yang terancam punah yakni beruang cokelat himalaya yang memiliki nama ilmiah Ursus arctos isabellinus dan habitatnya. Menurut laman Mongabay, beruang cokelat himalaya masih kurang dipelajari di habitat dataran tingginya. Diperkirakan hanya sekitar 130 hingga 220 ekor individu yang bertahan hidup di seluruh Pegunungan Himalaya dan Trans Himalaya di India dan Pakistan. Sejumlah informasi menuliskan, di Taman Nasional Deosai sendiri diperkirakan hidup sekitar 70-an ekor beruang cokelat himalaya.

Ada fakta menarik mengenai beruang coklat himalaya ini yakni ia sering dikaitkan dengan makhluk mitolologi kawasan Pegunungan Himalaya yang dikenal dengan nama Yeti, makhluk besar berbulu yang berjalan tegak seperti manusia. Telah bertahun-tahun Yeti menjadi legenda Himalaya dengan kesaksian orang-orang yang mengaku melihat dan mengumpulkan spesimennya. Namun akhirnya, sains memecahkan misteri itu, sebagaimana diberitakan BBC dalam artikelnya yang berjudul: British scientist 'solves' mystery of Himalayan Yetis"(2013), analisa DNA terhadap sejumlah spesimen yang diklaim berasal dari Yeti menunjukkan berasal dari spesies beruang cokelat himalaya.

3. Kaya akan flora dan fauna

kambing gunung himalaya atau yang dikenal dengan himalayan ibex merupakan salah satu satwa ikonik yang dapat ditemui di kawasan Taman Nasional Deosai (commons.wikimedia.org/Quinet)

Selain keberadaan satwa langka beruang cokelat himalaya, Taman Nasional Deosai juga memiliki kekayaan flora dan fauna lainnya. Meskipun Taman Nasional ini berada di wilayah pegunungan tinggi yang tanpa vegetasi pepohonan tinggi, tempat ini terkenal dengan keanekaragaman bunga-bunga liarnya yang pada musim semi dan panas (bulan Juni hingga Agustus), mengubah dataran menjadi "hamparan permadani" dengan warna-warni bunga dataran tinggi yang indah seperti bunga himalayan blue poppy, gentian, edelweis yang langka dan sebagainya.

Untuk faunanya, menurut laman Skardu, Taman Nasional Deosai merupakan rumah untuk sejumlah satwa liar seperti kambing gunung himalaya, rusa kashmir, marmut himalaya, macan tutul salju, ayam salju, burung nasar serta sekitar 124 spesies burung baik spesies endemik maupun spesies yang bermigrasi. Selain itu, di kawasan taman nasional ini dapat ditemui spesies ikan trout yang beradaptasi dan berkembang biak di sungai-sungai dingin dan beraliran deras seperti di Sungai Bara Pani. Masyarakat lokal menyebutnya sebgai ikan trout himalaya.

4. Waktu kunjungan terbaik

potret Danau Sheoser, salah satu danau tertinggi di dunia yang berada di Taman Nasional Deosai (commons.wikimedia.org/Jehan Sher)

Menurut laman Pakistan Tourism Places, waktu terbaik untuk berkunjung ke Taman Nasional Deosai ini ada di musim semi dan panasnya yang berlangsung dari bulan Juni hingga September dengan suhu yang nyaman berkisar dari 10 derajat Celcius hingga 20 derajat Celcius. Bulan Juli menghadirkan pesona hamparan bunga liar yang spektakuler, sementara bulan Agustus memberikan peluang terbaik untuk melihat satwa liar. Bulan September menawarkan langit yang cerah dan vibes awal musim gugur dengan jumlah pegunjung yang lebih sedikit.

Musim peralihan berlangsung pada bulan Mei dan Oktober, pada kedua bulan tersebut menghadirkan cuaca yang tak dapat diprediksi tapi menawarkan kesunyian alam dan peluang fotografi yang unik. Sebagai informasi selama musim dingin yang berlangsung pada bulan November hingga April, Taman Nasional Deosai ini tidak dapat diakses oleh para wisatawan karena hujan salju yang lebat dan ekstremnya suhu yang berkisar antara minus 10 derajat hingga minus 30 Derajat Celcius. Pada musim dingin tersebut, taman nasional ini berubah menjadi hamparan padang yang membeku.

5. Diusulkan menjadi situs warisan dunia UNESCO

potret Sungai Bara Pani, Sungai terbesar yang melintasi kawasan Taman Nasional Deosai (commons.wikimedia.org/Akbar Khan Niazi)

Taman Nasional Deosai telah diusulkan untuk menjadi situs warisan dunia UNESCO sejak tahun 2016 silam dan telah dimasukkan ke dalam daftar sementara (tentative list) untuk penilaian lebih lanjut dan pertimbangan. Menurut laman UNESCO, Taman Nasional Deosai diusulkan menjadi situs warisan dunia karena signifikansi alam dan budayanya yang unik serta memenuhi kritreia yang terkait dengan keindahan alam, proses ekologi dan keanekaragaman hayati di dataran tinggi.

Bagaimana apakah kamu berani untuk menjelajah dan bertualang di keindahan alam Taman Nasional Deosai, Pakistan ini?

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team